Mantan Instruktur F-35 AS Didakwa Melatih Militer China, Ancaman Rahasia Taktik Nuklir dan Jet Siluman Terungkap!

Seorang mantan pilot pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun telah ditangkap atas tuduhan berkonspirasi membantu militer China. Gerald Eddie Brown Jr., usia 65 tahun, didakwa melanggar Arms Export Control Act karena memberikan pelatihan kepada pilot Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF).

Brown ditangkap di Jeffersonville, Indiana, dan dinyatakan telah menghabiskan lebih dari dua tahun di China untuk melatih pilot PLAAF. Pada saat menjadi instruktur setelah pensiun, Brown mengajarkan cara menerbangkan pesawat tempur canggih seperti F-35 dan A-10 kepada pilot China.

Latar Belakang Karier dan Keahlian Brown
Brown menghabiskan 24 tahun bertugas di Angkatan Udara AS sebelum pensiun pada pangkat mayor. Selama karier militernya, ia memimpin unit yang bertanggung jawab atas sistem pengiriman senjata nuklir, menjalankan misi tempur, serta menjadi instruktur pilot dan simulator berbagai pesawat tempur, termasuk F-4 Phantom, F-15, dan F-16.

Setelah pensiun, Brown bekerja sebagai pilot kargo komersial dan kemudian menjadi instruktur di dua kontraktor pertahanan Amerika Serikat. Ia dilaporkan mengajar pilot AS mengoperasikan Lockheed Martin F-35, yang termasuk salah satu pesawat tempur siluman generasi kelima paling mutakhir.

Ancaman Keamanan Nasional dan Dampak Pelatihan ke China
Direktur Eksekutif Air Force Office of Special Investigations, Lee Russ, menyatakan bahwa memberikan pelatihan militer AS kepada musuh merupakan ancaman serius bagi keamanan nasional. FBI New York pun mengungkap bahwa tindakan Brown membocorkan taktik militer sensitif yang berpotensi membahayakan AS, angkatan bersenjata, dan sekutu-sekutunya.

Seorang analis penerbangan, Peter Layton, mengatakan China dapat memperoleh banyak informasi penting, seperti taktik pengiriman senjata nuklir dan teknik pilot F-35 dalam menghindari deteksi saat menghadapi serangan atau peran pertahanan udara. Pengetahuan ini sangat berharga bagi China dalam meningkatkan kemampuan tempur udara mereka.

Kontak dan Keterkaitan dengan Kasus Spionase Sebelumnya
Brown diduga menjalin kontak melalui perantara yang memiliki hubungan dengan Stephen Su Bin, warga negara China yang pada 2016 mengaku bersalah atas konspirasi pencurian data militer sensitif AS dan divonis hampir empat tahun penjara. Su diketahui mencuri puluhan ribu berkas terkait pesawat tempur F-22 dan F-35.

Kasus Brown bukan yang pertama; mantan pilot Marinir AS Daniel Duggan juga pernah didakwa membantu melatih pilot China dan terkait dengan jaringan Su Bin. Duggan kini menunggu ekstradisi dari Australia ke AS, meskipun ia membantah tuduhan tersebut.

Reaksi dan Tanggapan Pihak Terkait
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, enggan memberikan komentar terkait penangkapan Brown. Dari sisi AS, para analis dan pejabat menyoroti pentingnya evaluasi ulang taktik dan prosedur penerbangan untuk mengantisipasi potensi kebocoran informasi serupa di masa mendatang.

Brown sendiri menunjukkan antusiasme tinggi untuk menjadi instruktur lagi saat tiba di China; ia menyatakan ingin “terbang dan menginstruksikan pilot tempur lagi.” Namun, tindakan tersebut kini dianggap sebagai pengkhianatan yang mengancam kepentingan dan keamanan nasional AS serta sekutunya.

Fakta Penting Kasus Gerald Eddie Brown Jr.

  1. Brown memiliki pengalaman militer 24 tahun, termasuk pelatihan dalam sistem senjata nuklir.
  2. Ia bertugas sebagai instruktur simulasi untuk pesawat tempur canggih seperti F-35 dan A-10.
  3. Diduga menghabiskan lebih dari dua tahun melatih pilot PLAAF di China sejak Desember 2023.
  4. Terhubung dengan jaringan spionase yang dikenal melalui kontak Stephen Su Bin.
  5. Penangkapan ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan sekutu dan analis militer AS.

Kasus ini menggarisbawahi kerentanan terhadap pengungkapan informasi militer sensitif yang bisa dimanfaatkan kekuatan saingan global. Pihak berwenang AS terus menyelidiki dampak pelatihan tersebut dan potensi risiko keamanan yang muncul akibat tindakan mantan pilot ini.

Berita Terkait

Back to top button