Serangan udara berskala besar dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu, menewaskan lebih dari 200 orang. Balasan Tehran datang dalam bentuk serangan rudal ke berbagai wilayah di Timur Tengah yang memicu kepanikan luas.
Otoritas Iran menyarankan evakuasi untuk ibu kota dengan populasi sekitar 10 juta jiwa. Palang Merah Iran melaporkan adanya 201 korban tewas dan lebih dari 700 orang mengalami luka-luka akibat serangan.
Serangan terhadap Target Vital di Iran
Salah satu serangan yang mengenai sekolah di bagian selatan menewaskan 85 orang, menurut pengumuman dari pihak peradilan Iran. Meski demikian, akses ke lokasi tersebut terbatas, sehingga belum dapat diverifikasi secara independen oleh AFP.
Dalam beberapa pekan sebelum serangan ini, pemerintah Iran sudah memperingatkan akan memberikan balasan keras jika mereka diserang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut instalasi militer AS dan Israel yang menjadi sasaran sebagai "target sah".
Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur air strategis, setelah Serangan yang dilakukan oleh Garda Revolusi. Kota Teheran terlihat diselimuti asap hitam, terutama di distrik Pasteur tempat tinggal pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Dampak di Wilayah Sekitar dan Tanggapan Israel
Dengan adanya serangan balasan dari Iran, wilayah seperti Dubai dan Abu Dhabi mengalami kerusakan akibat rudal yang mendarat, disertai satu korban sipil tewas di Uni Emirat Arab (UEA). Suara ledakan juga terdengar di Israel, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Kuwait.
Suasana di Israel menjadi tegang dengan jalan-jalan yang sepi dan warga berlindung di bunker. Layanan darurat melaporkan dua korban luka ringan. Kepala staf militer Israel menyebut operasi ini jauh lebih besar dibandingkan konflik 12 hari pada Juni lalu dan melibatkan sekitar 200 pesawat tempur.
Motivasi Serangan dan Respons Politik
Presiden Amerika Serikat menyatakan misi ini bertujuan menghilangkan ancaman yang "segera" dari Iran. Perdana Menteri Israel menyebut operasi ini sebagai upaya untuk menghapus ancaman eksistensial terhadap negaranya.
Dalam pidatonya, Presiden AS mengajak rakyat Iran untuk bangkit dan menggantikan pemerintah mereka. Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh Perdana Menteri Israel.
Serangan Balasan Militer Iran
Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain serta pangkalan militer di Qatar dan UEA menggunakan rudal dan drone. Selain itu, target militer di wilayah pendudukan Israel juga menjadi sasaran.
Warga dari beberapa negara termasuk Iran, Irak, Kuwait, Suriah, UEA, dan Israel menghadapi penutupan ruang udara sebagian atau penuh. Beberapa maskapai komersial pun membatalkan rute penerbangannya ke wilayah Timur Tengah.
Situasi Panik di Kawasan Teluk
Warga di kota-kota utama Emirat Arab dan Bahrain melaporkan ledakan berkali-kali akibat serangan rudal Iran. Di Qatar, sebuah rudal yang jatuh di lingkungan perumahan menimbulkan kebakaran hebat. Abu Dhabi juga digemparkan dengan kemunculan proyektil di langit kota.
Di Bahrain, evakuasi mendadak dilakukan di distrik Juffair yang menampung markas Armada Kelima AS. Seorang pelajar berusia 15 tahun menggambarkan ketakutannya saat mendengar dentuman keras dari ledakan tersebut.
Seruan Internasional untuk Penghentian Konflik
Oman, sebagai mediator dalam negosiasi AS-Iran, meminta semua pihak segera menghentikan operasi militer. Negara itu juga menyerukan Dewan Keamanan PBB agar mengambil langkah penyelesaian dan gencatan senjata.
Situasi terkini mencerminkan eskalasi ketegangan yang sangat berbahaya di wilayah Timur Tengah. Aksi militer dan serangan balasan yang mencakup sejumlah negara ini menandai babak baru dalam konflik yang berpotensi berdampak luas secara regional dan global.







