Amerika Serikat mengumumkan penghancuran markas besar Pasukan Garda Revolusi Iran dalam eskalasi konflik terbaru di wilayah Timur Tengah. Pengumuman ini juga menyertakan laporan pertama tentang kematian anggota militer AS dalam perang untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis pernyataan resmi melalui media sosial X, menampilkan video serangan rudal dari kapal Angkatan Laut AS yang menghantam dan menghancurkan markas tersebut di sebuah kompleks perkotaan. CENTCOM menyatakan, "Amerika memiliki kekuatan militer terkuat di dunia, dan IRGC tidak lagi memiliki markas besar."
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa perang ini diperkirakan berlangsung selama empat minggu, menegaskan bahwa operasi militer AS dimulai dengan serangan gabungan bersama Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan misil dan drone terhadap sejumlah negara di Timur Tengah.
Laporan dari Pentagon menyatakan bahwa tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius, dengan sejumlah korban lain mengalami cedera ringan akibat serpihan dan gegar otak. Pentagon menegaskan, "Operasi tempur utama masih berlangsung dan upaya respons kami terus berlanjut."
Serangan Balasan Iran dan Dampaknya
Teheran diguncang oleh ledakan keras yang berasal dari serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Pasukan Garda Revolusi Iran menggunakan misil dan drone ke sejumlah lokasi strategis di Teluk. Kota Beit Shemesh di wilayah Israel menjadi sasaran serangan yang menewaskan sedikitnya sembilan orang, dengan sejumlah korban lain masih dinyatakan hilang.
Tokoh keamanan senior Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa serangan itu akan membawa dampak yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh pihak lawan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembunuhan pemimpin tertinggi mereka sebagai "deklarasi perang terhadap umat Muslim" dan menegaskan bahwa Iran berhak untuk membalas aksi tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan meningkatkan serangan lebih lanjut dan mengumumkan mobilisasi sekitar 100.000 reservis militer sekaligus menaikkan kesiapsiagaan di berbagai medan konflik.
Konflik Meluas di Kawasan Teluk
Serangan balasan Iran juga menyasar hampir seluruh negara di kawasan Teluk, kecuali Oman, yang sebelumnya berupaya menjadi mediator. Dua drone menyerang pelabuhan komersial Duqm di Oman, menyebabkan seorang pekerja asing terluka. Selain itu, tiga kapal juga diserang di Selat Hormuz, yang sempat diumumkan Iran sebagai wilayah tertutup.
Klaim Iran mengenai serangan terhadap kapal induk USS Abraham Lincoln dibantah Pentagon dengan menyatakan misil yang diluncurkan "tidak mendekati target." Di sisi lain, Presiden Trump melaporkan bahwa serangan militer AS berhasil menenggelamkan sembilan kapal Angkatan Laut Iran dan merusak sebagian markas angkatan laut Iran.
Pemerintah Inggris mengimbau warga negaranya untuk tetap berada di tempat di wilayah Teluk. Sementara, misi AS di Yordania menyarankan warga menjauhi kedutaan serta menghimbau agar tidak menginap di hotel di Bahrain setelah terjadi kerusakan akibat serangan.
Korban dan Dampak Politik
Serangan Iran di Teluk telah menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai puluhan lainnya. Uni Emirat Arab sebagai salah satu korban, mengumumkan penarikan duta besar dari Iran dan penutupan kedutaan mereka. Badan Bulan Sabit Merah Iran melaporkan 201 orang tewas di dalam negeri akibat serangan udara, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Ali Shamkhani dan Jenderal Mohammad Pakpour, tokoh penting di Garda Revolusi Iran, termasuk di antara yang tewas dalam konflik ini menurut pengadilan Iran. Selain itu, pengumuman kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu reaksi beragam di masyarakat: sebagian merayakan, sebagian lainnya melakukan demonstrasi pro-pemerintah dengan slogan anti Amerika.
Iran membentuk dewan kepemimpinan sementara yang melibatkan Ayatollah Alireza Arafi dan Masoud Pezeshkian untuk mengisi kekosongan pimpinan hingga pengganti permanen ditemukan. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian masa depan yang signifikan bagi warga Iran di tengah eskalasi konflik yang terus berlangsung.
