Ex-Marine Terkejut Amerika Belum Alami Serangan Teroris Mematikan Meski Ancaman Drone Kian Meluas, Apa Sebabnya?

Penggunaan drone dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran tentang potensi serangan teroris di dalam negeri AS. Hal Kempfer, mantan perwira intelijen Marinir, menyatakan keheranannya bahwa Amerika Serikat belum mengalami serangan teroris berbasis drone meskipun ancaman semakin nyata.

Menurut Kempfer, drone kini sangat mudah didapat dan digunakan. Mereka tersebar luas di pasar, termasuk drone dengan fitur tampilan orang pertama (first-person view) yang membuat penggunaannya sangat mudah dan efektif untuk pengintaian maupun serangan. Kondisi ini menempatkan AS dalam posisi rentan terhadap serangan berbasis teknologi drone.

Eskala Konflik Drone AS-Iran

Dalam serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran, penggunaan “kamikaze drones” menjadi taktik utama. Serangan ini menewaskan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan setidaknya 555 orang lainnya di Iran. Balasan dari Iran pun tak kalah masif dengan serangan yang menyasar Israel serta beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Iran berhasil meluncurkan drone yang mencapai hingga pangkalan militer Inggris di Siprus. Pangkalan tersebut, Royal Air Force di Akrotiri, mengalami serangan drone Iran yang berhasil menargetkan landasan pacu militer, bukti nyata kemampuan drone sebagai alat serangan lintas negara.

Pertahanan Drone Negara-negara Teluk dan Peran Drone di Konflik Ukraina

Qatar, salah satu negara yang menjadi sasaran Iran, berhasil menembak jatuh dua pesawat pembom taktis serta mencegat tujuh rudal balistik dan lima drone Iran. Dengan kemampuan tersebut, negara-negara Teluk mencoba mengantisipasi dampak dari serangan drone yang massif.

Di luar Timur Tengah, konflik di Ukraina juga menunjukkan penggunaan luas drone. Rusia menggunakan drone rancangan Iran bernama Shahed, sementara Ukraina memanfaatkan drone untuk melancarkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia. Pengalaman ini semakin membuktikan betapa drone telah menjadi elemen penting dalam peperangan modern.

Kebutuhan Investasi dan Kebijakan dalam Menghadapi Ancaman Drone

Kempfer menekankan bahwa mengatasi ancaman drone memerlukan investasi besar dalam sistem anti-drone. Selain dana, perlu ada perubahan kebijakan di berbagai lembaga seperti Federal Communications Commission (FCC) dan Federal Aviation Administration (FAA). Regulasi yang lebih tegas mengenai penggunaan drone serta teknologi penanggulangan harus diterapkan untuk mengurangi risiko serangan teroris.

Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Mengendalikan Ancaman Drone

  1. Pengembangan teknologi counter-drone yang efektif dan terintegrasi.
  2. Peningkatan anggaran pertahanan khusus untuk sistem anti-drone.
  3. Pembaruan regulasi drone oleh FCC dan FAA untuk pengawasan lebih ketat.
  4. Kolaborasi intelijen antara lembaga pemerintah dan militer untuk deteksi dini.
  5. Pendidikan publik tentang risiko dan penggunaan drone secara bertanggung jawab.

Ancaman drone dalam konteks terorisme dan peperangan semakin mendesak untuk ditangani dengan serius. Ketergantungan AS terhadap teknologi drone dalam operasi militer menunjukkan kebutuhan mendesak akan strategi pertahanan yang adaptif dan komprehensif guna melindungi keamanan nasional. Upaya ini harus melibatkan inovasi teknologi, penguatan kebijakan, dan kerjasama internasional guna mengantisipasi potensi serangan mengancam di masa mendatang.

Berita Terkait

Back to top button