Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki hari kelima dengan eskalasi serangan dan balasan yang terus terjadi. Operasi bersama yang diluncurkan AS dan Israel berhasil menargetkan ribuan sasaran militer Iran, namun rudal dan drone Iran terus menyerang aset Amerika di kawasan Timur Tengah.
Di tengah ketegangan, parlemen AS menjadi arena perdebatan terkait kewenangan Presiden Trump dalam melanjutkan operasi militer. Sementara korban sipil di Iran dan Lebanon terus bertambah, dampak konflik meluas hingga menimbulkan kekacauan perjalanan internasional dan lonjakan harga komoditas global.
Situasi di Iran
Serangan terbaru menargetkan tokoh-tokoh penting Iran serta instalasi militer diangkat langsung oleh Presiden Trump. Ia menyatakan hampir seluruh fasilitas militer Iran, termasuk angkatan laut dan udara, telah dihancurkan. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), lebih dari 1.700 target sudah diserang dalam operasi ini.
Jumlah korban tewas di Iran sejak Sabtu lalu telah melewati angka 1.000 orang, yang termasuk anak-anak, menurut laporan awal Human Rights Activists News Agency. Namun, angka ini dinilai masih dapat bertambah.
Setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan awal, para pejabat tinggi Iran dikabarkan mengadakan pertemuan virtual untuk memilih pemimpin tertinggi baru. Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, disebut sebagai salah satu calon kuat, meski lokasi dan kondisi mereka masih belum jelas.
Terungkap pula bahwa Israel sudah memanfaatkan sistem pengawasan dengan memanfaatkan kamera lalu lintas di Tehran selama bertahun-tahun. Hal ini membuka dimensi baru dalam operasi intelijen yang dilakukan terhadap Iran.
Pergerakan Konflik di Kawasan
Israel juga melancarkan serangan ke Lebanon, secara khusus menyasar kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Pemerintah Israel bahkan mengeluarkan perintah evakuasi untuk sejumlah desa di wilayah perbatasan.
Balasan Tehran sangat kuat, terutama menargetkan negara-negara Arab di Teluk Persia seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Negara-negara tersebut telah berhasil mencegat ratusan rudal dan drone ofensif. Namun, ada kekhawatiran atas ketahanan pertahanan udara mereka yang mungkin mulai menipis mengingat arsenal Iran yang terbatas.
AS menutup kedutaan di sejumlah negara seperti Saudi Arabia, Kuwait, dan Lebanon setelah terjadi serangan terhadap beberapa fasilitas diplomatik dan militer. Sebuah pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah, yang berada di Qatar, juga mengalami serangan. Pemerintah AS memerintahkan evakuasi personel non-darurat dari berbagai lokasi di kawasan.
Gangguan perjalanan internasional juga meluas. Banyak wisatawan dan ekspatriat terjebak akibat penutupan ruang udara dan pembatalan ribuan penerbangan. Presiden Trump menyatakan sebelumnya tidak ada rencana evakuasi sebelum serangan, tapi saat ini pemerintah AS berupaya mengamankan penerbangan bagi mereka yang terjebak. Negara-negara Eropa juga bergegas mengatur evakuasi warganya.
Dalam lima hari terakhir, setidaknya enam anggota militer AS tewas akibat serangan Iran, angka yang diperkirakan akan bertambah oleh Presiden Trump.
Parlemen AS dijadwalkan menggelar pemungutan suara tentang resolusi yang mengharuskan Presiden Trump mendapat persetujuan Kongres untuk melanjutkan kampanye militer. Dewan Perwakilan Rakyat akan mengikuti dengan pemungutan suara serupa sehari setelahnya.
Didalam sektor ekonomi, harga minyak dan gas alam melambung tajam sementara pasar saham global mengalami penurunan. Terhambatnya ekspor energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, menjadi faktor utama ketidakstabilan ini.
Motivasi Serangan Amerika dan Israel
Pemerintah AS dan Israel menyatakan serangannya bertujuan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan merespons ancaman serangan dini dari Tehran. Namun, klaim ini ditepis oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Mereka menyatakan Iran belum dekat dengan kemampuan senjata nuklir.
Trump sendiri pernah mengklaim program nuklir Iran telah "dihancurkan" semasa serangan musim panas lalu. Intelijen AS juga memperkirakan Iran baru bisa mengembangkan rudal balistik antarbenua pada tahun 2035, jika berniat melakukannya.
Perang ini terus berjalan dinamis, dengan dampak luas yang melibatkan berbagai aktor regional dan global. Meski pihak AS dan Israel merasa telah memukul mundur kekuatan militer Iran, respons Tehran yang agresif membuat situasi tetap sangat tidak stabil. Dampak kemanusiaan dan geopolitik pun semakin dirasakan, menambah ketegangan di tengah ketidakpastian masa depan kawasan.







