Kolombia menghadapi ujian besar dalam pemilu legislatif mendatang, ketika mantan pejuang gerilya FARC berusaha mengukir dukungan politik yang nyata. Setelah beberapa tahun menikmati kursi yang dialokasikan tanpa harus bersaing secara langsung dalam pemungutan suara, kini para mantan kombatan ini harus bertarung dengan dukungan yang cenderung rendah.
Sandra Ramirez, yang dikenal dulu sebagai Griselda Lobo, merupakan salah satu tokoh yang muncul dari bekas gerilyawan. Ia kini aktif berkampanye di Bogotá demi memenangkan suara demi kedudukan yang sempat ia duduki sejak 2018 tanpa pemilihan langsung. Keberadaan partai Comunes yang mewakili mantan pejuang FARC lahir dari perjanjian damai 2016 yang memberikan mereka 10 kursi di Senat dan Kongres, sebagai upaya integrasi ke ranah politik formal.
Namun, pengaturan khusus itu akan berakhir dengan pemilu kali ini. Mantan kombatan yang pernah berjuang dengan kekerasan bersenjata lebih dari lima dekade kini harus membuktikan diri melalui kotak suara. Sejauh ini, tingkat dukungan terhadap Comunes masih kurang dari satu persen, menandakan tantangan berat dalam menarik simpati para pemilih.
Meskipun presiden Gustavo Petro yang juga berlatar bekas gerilyawan berhasil memimpin koalisi sayap kiri dan memenangkan jabatan tertinggi, sentimen publik terhadap masa lalu gerilyawan masih negatif. Ramirez sendiri sering mendapat hinaan dan tuduhan pelanggaran, termasuk merekrut anak di bawah umur. Pemimpin partai, Rodrigo Londoño atau “Timochenko”, pun dicap bertanggung jawab atas ribuan kasus penculikan selama konflik.
Ketegangan antara pendukung dan penentang perjanjian damai masih sangat tajam. Menurut peneliti Rafael Quishpe dari Universitas Giessen, oposisi sayap kanan belum menerima kehadiran mantan gerilyawan di panggung politik. Untuk mempertahankan status sebagai partai resmi, Comunes harus meraih minimal 750.000 suara dari total 41 juta pemilih. Angka ini merupakan target sulit yang harus mereka capai.
Kampanye kali ini juga berlangsung dengan suasana penuh kekerasan politik yang memanas. Beberapa kandidat menghadapi ancaman dan serangan sampai terhadap salah satu calon presiden terdepan, senator sayap kanan Miguel Uribe, yang tewas dibunuh saat berkampanye tahun lalu. Diduga, beberapa lawan politik mantan kombatan menjadi pelaku kekerasan tersebut.
Di tengah tekanan itu, sebagian besar mantan pejuang tetap berpegang pada komitmen mereka untuk perdamaian. Sandra Ramirez menegaskan bahwa partainya akan terus berlanjut meski langkahnya tidak besar. Delapan tahun berkiprah di Kongres dianggap sebagai pencapaian berharga yang mengakhiri masa paling kelam konflik bersenjata.
Berikut beberapa poin penting terkait perjuangan mantan gerilyawan dalam kancah politik Kolombia:
- Integrasi politik mantan FARC dimulai dari perjanjian damai 2016.
- Partai Comunes mendapat 10 kursi tanpa pemilihan langsung dalam pemerintahan awal.
- Pemilu legislatif kali ini menjadi ujian pertama mereka dalam menghadapi pemilih secara langsung.
- Dukungan rakyat terhadap partai tersebut masih di bawah satu persen suara mayoritas.
- Sentimen negatif terhadap masa lalu gerilyawan menghambat penerimaan politik mereka.
- Ancaman kekerasan politik masih membayangi kampanye saat ini, menunjukkan kerentanan demokrasi.
- Mantan pejuang tetap berpegang pada harapan dan komitmen perdamaian jangka panjang.
Pemilihan legislatif menjadi momen penting bagi Kolombia untuk melihat apakah transfer kekuasaan dan perdamaian bisa berlanjut ke fase baru. Situasi ini juga memberikan gambaran nyata tentang proses rekonsiliasi yang masih berjalan dekat dengan bayang-bayang masa lalu konflik. Dalam konteks tersebut, kesiapan dan dukungan masyarakat menjadi kunci utama kelangsungan politik mantan gerilyawan di masa depan.
