Iran Perketat Kontrol Dalam Negeri, Jalanan Kosong Namun Rasa Takut Menguasai Saat Perang Berkobar

Ketegangan di Iran semakin meningkat dengan diberlakukannya pengendalian ketat oleh otoritas negara setelah serangan militer yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka. Jalanan ibu kota yang biasanya padat kini lengang namun penuh dengan titik pemeriksaan militer dan personel keamanan. Pemerintah Iran memasang barikade dan menempatkan pasukan bersenjata di hampir setiap sudut kota untuk mengendalikan situasi dan mencegah kerusuhan.

Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) memasang pos-tembak berat lengkap dengan senapan mesin untuk mengintimidasi warga. Seorang warga Tehran berusia 30 tahun yang berbicara dari Paris menyatakan bahwa pemerintah menganggap rakyatnya sendiri sebagai musuh utama, bukan Amerika Serikat. “Ekstremis mengatakan kita harus menuntaskan musuh di dalam negeri terlebih dahulu,” ujarnya.

Pengetatan Keamanan Setelah Unjuk Rasa Besar

Langkah ini merupakan upaya untuk mencegah gelombang protes besar yang pernah terjadi pada Januari dan menewaskan ribuan demonstran yang menentang pemimpin tertinggi Iran. Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), lebih dari 7.000 orang tewas dalam penindasan tersebut dan lebih dari 50.000 ditangkap. Data ini memperlihatkan tingkat kekerasan yang tinggi terhadap warga yang mengekspresikan ketidakpuasan mereka.

Milisi Basij, yang berada di bawah komando IRGC, berperan signifikan dalam operasi pengamanan. Mereka bertugas mengatur lalu lintas, melakukan pemeriksaan ketat kendaraan, serta mengecek identitas dan perangkat komunikasi warga di jalanan. Sebagian besar titik pemeriksaan didirikan oleh milisi Basij yang jumlahnya diperkirakan mencapai 600.000 orang, lebih banyak dibandingkan gabungan pasukan reguler dan Garda Revolusi.

Internet Diblokir dan Pengawasan Ketat

Selain kehadiran fisik militer yang besar, pihak berwenang juga memutus akses internet di seluruh Iran sejak perang dimulai. Warga yang mencoba mengakses jaringan melalui VPN menerima ancaman pemblokiran dan tuduhan pengkhianatan. Kementerian intelijen juga mengimbau masyarakat untuk mengawasi satu sama lain dan melaporkan aktivitas mencurigakan seperti pengambilan foto di lokasi-lokasi sensitif.

Pengawasan secara digital dan fisik semakin mempersempit ruang kebebasan bersuara di dalam negeri. Seorang insinyur di Tehran melaporkan bahwa petugas keamanan sering memeriksa handphone warga secara acak dan bahkan melakukan pelecehan. Kondisi ini menciptakan rasa takut yang meluas sehingga warga enggan keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak.

Dampak Sosial di Berbagai Wilayah

Ketegangan tidak hanya terjadi di ibu kota, tetapi juga dirasakan di wilayah lain seperti pulau wisata Kish di Teluk Persia. Penduduk setempat mengatakan mereka takut untuk keluar malam karena diberlakukan jam malam ketat dan pengawasan ketat ala militer mulai pukul 18:00 WIB. Kondisi ini membatasi mobilitas serta aktivitas sosial masyarakat di wilayah tersebut.

Menurut Pierre Razoux, direktur studi di Mediterranean Foundation for Strategic Studies, Iran memiliki sekitar 850.000 agen keamanan dan penindasan internal, menjadikan negara tersebut salah satu yang paling tersistem pengawasannya di dunia. Kekuatan internal yang masif ini memungkinkan rezim mengendalikan protes dan meminimalkan risiko pemberontakan luas di tengah perang yang sedang berlangsung.

Ancaman Terhadap Rakyat dan Masa Depan Politik

Para aktivis hak asasi dan pengamat menilai ancaman terbesar bagi rezim Iran berasal dari ketidakpuasan rakyat sendiri, bukan dari serangan militer asing. Mahmood Amiry-Moghaddam, dari Iran Human Rights NGO, memperingatkan potensi meningkatnya penindasan, termasuk penangkapan massal dan eksekusi, sebagai bentuk perlindungan rezim terhadap krisis internal.

Warga Iran yang tinggal di dalam negeri menghindari berbicara terbuka kepada media dan sangat berhati-hati dalam komunikasi. Mereka khawatir rekaman atau pesan yang diterima dari wartawan luar bisa menjadi bukti yang memberatkan. Di beberapa kota seperti Shiraz, perayaan kematian pemimpin tertinggi berhasil dihalau dengan cepat, sementara pemerintah menggelar aksi penggalangan dukungan resmi yang disiarkan secara luas di televisi negara.

Harapan Masyarakat di Tengah Penindasan

Meski penindasan dan pengawasan meningkat, beberapa warga masih menyuarakan protes dari jendela rumah mereka pada malam hari. Rasa optimisme bahwa suatu saat mereka dapat bebas berkumpul dan berdemonstrasi kembali masih ada. Seorang perempuan berusia 39 tahun menyatakan keinginan sederhana untuk pulih dan menari merayakan kebebasan, meskipun mereka kini harus tetap berdiam di dalam rumah demi keselamatan.

Pengawasan yang ketat dan suasana ketakutan menggambarkan situasi Iran yang berada dalam tekanan ekstrem. Pemerintah menggunakan perangkat aparat yang luas untuk mempertahankan kekuasaan di tengah krisis akibat perang dan ketidakstabilan politik. Sementara itu, masyarakat menghadapi pilihan sulit antara tunduk pada penindasan atau berisiko kehilangan nyawa dalam perjuangan menuntut perubahan.

Berita Terkait

Back to top button