Jepang mulai mempersiapkan penyebaran rudal jarak jauh pertama yang dikembangkan secara domestik. Peluncur rudal tersebut sudah tiba di sebuah markas militer di Prefektur Kumamoto sebagai bagian dari percepatan peningkatan kemampuan serang di wilayah tersebut.
Rudal Type-12 versi upgrade akan ditempatkan di Kamp Kengun sebelum bulan April. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengonfirmasi penyelesaian proses ini namun tanpa merinci lebih jauh.
Kendaraan militer yang membawa peluncur dan perlengkapan terkait tiba tengah malam dalam operasi yang sangat rahasia. Aksi protes muncul dari warga sekitar yang menolak penempatan rudal ini karena dianggap mengancam ketenangan daerah dan berpotensi menjadi sasaran serangan.
Gubernur Kumamoto, Takashi Kimura, menyatakan kecewa karena pemerintah setempat tidak diberi pemberitahuan sebelumnya. Informasi ini baru diketahui dari media, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat lokal.
Kantor pertahanan regional Kyushu berencana mengadakan pameran peralatan militer untuk perwakilan lokal pekan depan. Namun, tidak ada rencana untuk mengadakan pertemuan dengar pendapat dengan warga.
Jadwal penggelaran rudal ini dipercepat satu tahun oleh Kementerian Pertahanan Jepang. Langkah ini sejalan dengan peningkatan kekuatan militer Jepang di wilayah barat daya, di tengah meningkatnya ketegangan yang disebabkan oleh aktivitas China di sekitar Taiwan.
Rudal Type-12 yang diproduksi oleh Mitsubishi Heavy Industries memiliki jangkauan hingga 1.000 kilometer. Kapasitas ini jauh lebih besar dibandingkan versi sebelumnya yang hanya mampu mencapai 200 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, rudal dapat menjangkau daratan China.
Selain Kumamoto, penyebaran berikutnya akan dilakukan di Kamp Fuji, Prefektur Shizuoka, yang terletak di barat Tokyo, pada tahun ini. Kebijakan ini menunjukkan fokus Jepang pada perlindungan wilayah yang berdekatan dengan China.
Jepang memandang China sebagai ancaman keamanan yang semakin meningkat. Oleh sebab itu, negara ini telah memperkuat pertahanan di pulau-pulau selatan dekat Laut China Timur. Penempatan mulai dari interceptor PAC-3 hingga rudal permukaan ke udara jarak menengah sudah dilakukan di beberapa pulau seperti Okinawa, Ishigaki, dan Miyako.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengungkapkan rencana penempatan rudal permukaan ke udara jarak menengah di Pulau Yonaguni, yang merupakan titik paling barat Jepang dekat Taiwan. Jadwal pelaksanaan ditargetkan hingga tahun 2031.
Ketegangan sempat meningkat setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan bahwa aksi militer China terhadap Taiwan bisa menjadi alasan bagi Jepang untuk merespons secara militer. Pernyataan ini memperkuat sinyal kesiapan Jepang dalam menghadapi dinamika regional.
Takaichi berjanji untuk merevisi kebijakan keamanan dan pertahanan hingga akhir tahun. Fokusnya adalah mengembangkan senjata tempur tanpa awak dan memperkuat kemampuan rudal jarak jauh guna meningkatkan daya tangkal Jepang.
Pemerintah juga akan mencabut larangan ekspor senjata mematikan dalam beberapa minggu mendatang. Kebijakan ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan industri pertahanan dalam negeri dan meningkatkan kerja sama dengan negara sahabat berdasarkan proposal dari partainya dan koalisi pemerintah.
Pengerahan rudal jarak jauh buatan Jepang ini menjadi bagian penting dari strategi pertahanan nasional untuk mengantisipasi ancaman yang berkembang di kawasan Asia Timur. Penempatan dan pengembangan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan posisi Jepang dalam menghadapi situasi keamanan regional yang kompleks.







