Sejumlah besar warga Amerika memperkirakan harga bensin akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan selama empat hari terakhir menunjukkan bahwa 67% responden memperkirakan harga bahan bakar akan memburuk dalam setahun ke depan.
Survei yang melibatkan berbagai latar belakang politik ini menemukan bahwa 44% republik dan 85% demokrat mengantisipasi kenaikan harga tersebut. Selain itu, 60% responden yakin keterlibatan militer Amerika di Iran akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, melancarkan serangan serentak ke Iran yang menyebabkan kematian pemimpin negara itu pada akhir Februari. Meskipun demikian, tingkat persetujuan terhadap tindakan ini rendah, hanya sekitar 29%, yang relatif stabil dibandingkan survei sebelumnya.
Serangan ini memunculkan risiko politik yang signifikan bagi Partai Republik di tengah persiapan pemilu paruh waktu pada November. Sebanyak 64% responden, termasuk seperempat partai Republik dan sembilan dari sepuluh Demokrat, mengatakan bahwa Presiden Trump belum memberikan penjelasan yang jelas tentang tujuan keterlibatan militer tersebut.
Kenaikan harga bensin menjadi salah satu dampak paling nyata bagi masyarakat. Setelah serangan militer, harga bensin di Amerika Serikat naik sekitar 50 sen per galon. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan laporan tewasnya tujuh tentara Amerika dalam konflik tersebut.
Harga energi yang naik tajam sangat dirasakan karena langsung mempengaruhi biaya hidup sehari-hari warga. Para analis memperkirakan harga bahan bakar dunia akan tetap tinggi selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, meskipun konflik ini berakhir cepat.
Presiden Trump tengah mencari cara untuk menahan lonjakan harga, tetapi kemampuan kebijakan Amerika dalam mengatur pasar minyak global dianggap terbatas. Dalam pernyataan terbaru, Trump menyebut operasi militer berjalan lebih cepat dari jadwal awal yang direncanakan.
Selain itu, hampir setengah responden percaya perang ini berdampak negatif pada keuangan pribadi mereka. Sekitar sepertiga dari partai Republik masih ragu bagaimana konflik ini akan memengaruhi kondisi ekonomi mereka.
Berikut adalah ringkasan sejumlah data penting dari survei Reuters/Ipsos terkait persepsi masyarakat Amerika:
1. 67% masyarakat memperkirakan harga bensin akan naik dalam setahun ke depan.
2. 60% memperkirakan keterlibatan militer akan berlarut-larut.
3. 29% menyetujui serangan militer terhadap Iran.
4. 64% merasa Presiden Trump belum menjelaskan tujuan perang dengan jelas.
5. Harga bensin naik sekitar 50 sen per galon sejak serangan.
6. Tujuh tentara AS tewas dalam konflik tersebut.
Survei ini memberikan gambaran jelas mengenai kekhawatiran masyarakat Amerika terhadap dampak konflik militer terhadap stabilitas harga energi dan kondisi ekonomi pribadi mereka. Dengan situasi yang masih berkembang, respons pemerintah dan perkembangan di lapangan akan terus menjadi perhatian publik luas.







