Sikap Mojtaba Khamenei Setelah Kuasai Iran Jadi Perbincangan, Ini Penilaian Para Ahli

Mojtaba Khamenei kini resmi menjadi pemimpin baru Iran dengan fokus utama pada rekonsiliasi diplomatik di kawasan Teluk. Kepemimpinannya dianggap sebagai awal dari transformasi besar dibandingkan era sebelumnya.

Dia dikenal sebagai sosok mandiri yang sulit dipengaruhi pihak lain, meski memiliki garis keturunan langsung dari pemimpin terdahulu. Mojtaba menempatkan prioritas pada hubungan baik dengan negara-negara Arab di sekitar Teluk sebagai bagian dari peta jalan politik barunya.

Menurut Abdullah Al-Arian dari Jaringan Kebijakan Al-Shabaka Qatar, peluang besar terbuka untuk Mojtaba menerapkan kebijakan baru. Analis itu menyebut ini momentum tepat untuk memperbaiki keretakan lama dengan negara-negara di Semenanjung Arab.

Selain itu, ada harapan reformasi politik internal yang lebih inklusif di dalam negeri Iran. Langkah reformasi ini dianggap sebagai opsi agar Iran bisa meraih dukungan lebih luas di luar poros tradisional yang selama ini dominan.

Namun, kebijakan Mojtaba tidak akan mengikuti ambisi maksimalis yang kerap digaungkan Amerika Serikat dan Israel. Dia berkomitmen menjaga kedaulatan Iran dengan menolak segala bentuk intervensi asing yang mengancam stabilitas negara.

Kedekatannya dengan ayahnya menjadi keuntungan strategis untuk mengelola negara secara efektif. Mojtaba juga menguasai intelijen penting yang menjadi modal kuat stabilitas selama masa transisi kepemimpinan.

Meskipun saat ini masih berstatus ulama tingkat menengah, prediksi mengatakan bahwa gelar ayatollah akan segera disematkan padanya. Gelar ini memperkuat posisinya dalam hierarki agama dan politik di Iran.

Dukungan kuat juga datang dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memastikan Mojtaba diterima luas di struktur kekuasaan. Hubungan dekat dengan IRGC menjadikan stabilitas pemerintahannya relatif bebas dari hambatan internal.

Namun, media Barat kerap menyajikan narasi negatif tentang sosok Mojtaba, yang dianggap sebagai bentuk kampanye pembunuhan karakter. Akademisi Zohreh Kharazmi menegaskan bahwa citra sebenarnya di mata internasional seringkali keliru dipahami.

Langkah Mojtaba mendapat sambutan positif dari masyarakat Iran, khususnya para loyalis garis keras yang tetap solid mendukungnya. Kelompok moderat juga mulai menunjukkan harapan yang tumbuh perlahan terhadap perubahan di bawah kepemimpinannya.

Pengalamannya yang mendalam dalam mengelola birokrasi dan interaksi langsung dengan rakyat memberi Mojtaba kecakapan strategis. Dia dikenal mampu menyeimbangkan kepentingan kelompok prinsipis dan reformis untuk menjaga persatuan nasional.

Selama bertahun-tahun, keterlibatannya dalam urusan negara telah membentuk cara pandangnya yang tajam dalam memimpin. Dunia kini menantikan langkah nyata Mojtaba dalam menentukan arah kebijakan Iran di arena internasional.

Kestabilan kawasan Timur Tengah sangat bergantung pada bagaimana dia memainkan peran diplomasi dan kekuatan militernya. Keberhasilan Mojtaba dalam menyatukan kepentingan regional bisa menjadi kunci perdamaian di wilayah yang selama ini penuh gejolak.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Terkait