Iran mengecam keras rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang dianggapnya tidak adil dan memihak agresor. Utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa resolusi tersebut justru membela serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Rancangan resolusi yang didukung negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menuduh Iran sebagai agresor dalam konflik kawasan. Padahal, menurut Iravani, serangan rudal dan drone justru dilakukan oleh AS dan Israel, sementara Iran berposisi sebagai korban.
Kritik atas Resolusi Dewan Keamanan
Iravani menilai rancangan resolusi tersebut bersifat bias dan dipenuhi motif politik. Ia mengungkap bahwa dokumen tersebut mengalihkan tanggung jawab agresi kepada Iran, padahal yang memulai adalah AS dan Israel. "Upaya membalikkan posisi korban dan agresor ini berbahaya bagi kredibilitas Dewan Keamanan," ungkapnya.
Ia juga memperingatkan dampak jangka panjang dari penerimaan rancangan ini. Resolusi tersebut berpotensi melemahkan legitimasi lembaga dunia dan memberi sinyal negatif terhadap penegakan hukum internasional. "Jika diterima, agresor justru akan diberi penghargaan atas tindakannya," sekali lagi ditegaskan Iravani.
Dampak Serangan AS-Israel dan Korban Sipil
Dalam pernyataannya, Iravani menyoroti besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh serangan AS dan Israel di Iran. Ia menyebutkan bahwa lebih dari 1.300 warga sipil menjadi korban langsung, serta kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil. Total ada 9.669 lokasi diketahui hancur, termasuk rumah tinggal dan pusat layanan publik.
Iravani menambahkan bahwa serangan-serangan itu dilakukan secara terus menerus dan sengaja menargetkan warga dan fasilitas sipil. "Ini merupakan kejahatan perang yang serius yang harus dihentikan oleh masyarakat internasional," tuturnya.
Dampak Konflik Terhadap Irak dan Kawasan Lebih Luas
Pernyataan Iravani juga menegaskan bahwa konsekuensi resolusi yang tidak adil tak hanya berdampak pada Iran. Ia memperingatkan bahwa jika agresor seperti AS dan Israel terus diberi kebebasan, negara-negara lain berdaulat bisa menjadi sasaran serangan serupa di masa depan.
"Perang berdarah ini harus segera diakhiri untuk melindungi rakyat Iran dan menjaga stabilitas kawasan," kata Iravani melalui konferensi pers di markas PBB di New York. Ia mendesak agar komunitas internasional mengambil langkah tegas menghentikan agresi yang sedang berlangsung.
Upaya Negosiasi Nuklir dan Ketegangan Regional
Resolusi Dewan Keamanan ini diusulkan pada saat Iran sedang melakukan pembicaraan negosiasi terkait program nuklirnya. Tekanan dari kecaman dan sanksi politik internasional berpotensi menghambat proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Ketegangan yang meningkat di wilayah Timur Tengah, khususnya akibat konflik AS-Israel vs Iran, berdampak pada stabilitas politik dan ekonomi global. Misalnya, serangan ke fasilitas minyak utama Iran seperti di Pulau Kharg menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Data Kerusakan dan Statistik Konflik
- Korban sipil: lebih dari 1.300 orang tewas dan terluka.
- Lokasi sipil hancur: 9.669 tempat, termasuk:
- 7.943 rumah tinggal
- 1.617 pusat komersial dan layanan
- Dampak lingkungan: terjadi hujan hitam setelah serangan fasilitas minyak, yang disinyalir berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Angka ini terus bertambah seiring berlangsungnya serangan militer berkelanjutan dari AS dan Israel. Kondisi tersebut memperparah krisis kemanusiaan di Iran dan mengancam stabilitas regional.
Pernyataan resmi Iran menunjukkan sikap tegas menentang rancangan resolusi yang mereka anggap tidak objektif. Dewan Keamanan PBB kini berada di titik kritis untuk mengambil keputusan yang akan menentukan arah konflik dan perdamaian di Timur Tengah.







