Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi kematian 14 petugas medis akibat serangan udara di Lebanon pada Jumat (13/3). Insiden ini secara spesifik menargetkan pusat layanan kesehatan di Bourj Qalaouiyeh dan Al Sowana.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa 12 dokter, paramedis, dan perawat tewas dalam serangan tengah malam di Bourj Qalaouiyeh. Selain itu, dua paramedis lainnya meninggal dunia setelah menjadi korban serangan di fasilitas kesehatan Al Sowana.
Sejak 2 Maret, WHO mencatat lebih dari 27 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon. Rentetan serangan ini telah menimbulkan 30 korban jiwa di kalangan tenaga medis dan melukai sedikitnya 35 orang.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon bahkan menunjukkan dampak yang lebih buruk. Mereka melaporkan 26 petugas medis tewas dan lebih dari 50 terluka akibat serangan yang didalangi Israel selama periode tersebut.
Lebih luas, konflik yang semakin memburuk ini telah menyebabkan total 826 orang tewas dan lebih dari 2.000 terluka di Lebanon. Mayoritas korban adalah warga sipil yang terdampak langsung oleh operasi militer yang dilakukan Israel.
Ketegangan ini berawal dari serangan roket yang diluncurkan dari Lebanon ke wilayah Israel pada 2 Maret. Kelompok Hezbollah mengaku bertanggung jawab atas penembakan roket tersebut.
Menanggapi serangan ini, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk kawasan padat penduduk di ibu kota Beirut. Serangan ini memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Akibat situasi tersebut, ratusan ribu warga sipil Lebanon terpaksa mengungsi untuk mencari keamanan. Hal ini meningkatkan tekanan terhadap sumber daya kemanusiaan dan memperburuk kondisi sosial ekonomi di wilayah terdampak.
Serangan terhadap fasilitas kesehatan ini menimbulkan kecaman luas dari berbagai lembaga internasional. WHO menegaskan perlunya menghormati hukum kemanusiaan dengan melindungi tenaga medis dan pusat kesehatan dalam konflik bersenjata.
Data dan laporan terbaru menunjukkan bahwa perang di Lebanon tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tapi juga krisis kemanusiaan serius. Kematian petugas medis memperjelas betapa sulitnya akses pelayanan kesehatan di daerah konflik.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com






