Operasi Darat Terbatas Tentara Israel di Lebanon Selatan, Pertarungan Sengit Perebutan Kontroll Strategis Khiam

Militer Israel telah memulai operasi darat terbatas dan terfokus di Lebanon selatan sebagai bagian dari eskalasi pertempuran melawan kelompok militan Hezbollah. Aksi militer ini berlangsung di sekitar kota strategis Khiam, yang menjadi titik sentral konflik saat ini.

Serangan udara yang menyasar Khiam tercatat minimal tiga kali, menurut laporan Al Jazeera Arabic. Lokasi ini dikenal sebagai markas kuat Hezbollah dan dianggap pintu gerbang menuju wilayah Lebanon selatan.

Khiam berada di wilayah dataran tinggi, hanya beberapa kilometer dari perbatasan Israel dan Sungai Litani. Posisi ini memberikan pengawasan luas ke wilayah utara Israel dan dataran Lebanon sekitarnya. Menurut pengamat, daerah tersebut memiliki nilai strategis yang tinggi bagi kedua belah pihak.

Selain Khiam, beberapa daerah lain di Lebanon selatan juga menjadi sasaran serangan udara Israel. Kota Yater menjadi target dua serangan udara pada Senin pagi, sementara tidak ada laporan langsung tentang korban atau kerusakan di sana. Lokasi lain yang diserang meliputi Burj Qalawiya, Sultaniya, Chaqra, Qantara, dan as-Sawana.

Tentara Pertahanan Israel (IDF) dari divisi ke-91 mengumumkan bahwa operasi darat ini bertujuan memperkuat pertahanan wilayah depan. Sasaran utama adalah menghancurkan infrastruktur teroris dan menyingkirkan unsur militan yang dianggap ancaman keamanan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa operasi ini dilakukan demi melindungi warga Galilea dan wilayah utara Israel. Ia menegaskan bahwa penduduk Syiah di Lebanon selatan yang sudah dievakuasi tidak akan diizinkan kembali sebelum jaminan keamanan bagi warga utara tercapai.

Pertempuran di Khiam dan sekitarnya dianggap sebagai bagian dari upaya Israel untuk memutus jalur suplai serta menghambat kemampuan Hezbollah. Jalan di wilayah tersebut menghubungkan sektor timur dan barat Lebanon selatan serta mengarah ke Lembah Bekaa, wilayah lain yang dikuasai oleh Hezbollah.

Lebanon mengumumkan bahwa lebih dari satu juta warga, termasuk perempuan dan anak-anak, terpaksa mengungsi akibat perintah evakuasi yang dikeluarkan oleh militer Israel. Evakuasi mencakup banyak daerah di selatan Lebanon serta ibu kota Beirut.

Hingga saat ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan sedikitnya 850 orang, termasuk 107 anak-anak dan 66 perempuan. Angka ini menunjukkan dampak besar konflik terhadap warga sipil di wilayah tersebut.

Operasi darat terbaru ini merupakan eskalasi signifikan dalam konfrontasi yang sudah berlangsung sejak serangan roket Hezbollah sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada tahun lalu, Hezbollah belum melakukan serangan langsung ke Israel meski terjadi pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Militer Israel menegaskan bahwa tujuan operasi ini tidak hanya untuk melumpuhkan infrastruktur militan tetapi juga untuk memperkuat pertahanan di garis depan guna melindungi wilayah utara dari ancaman keamanan yang terus meningkat.

Berita Terkait

Back to top button