Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan dalam konflik yang melibatkan Iran yang kini memasuki hari ke-18. Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta menyerang negara-negara Teluk di sekitarnya.
Berbeda dengan serangan di Juni 2025 yang menurut Presiden AS Donald Trump berhasil menekan kemampuan nuklir Iran, konflik kali ini telah menyebar ke lebih dari 12 negara. Selat Hormuz, jalur utama minyak dunia, ditutup, dan lebih dari 2.300 orang tewas di kawasan tersebut.
Penyebaran Serangan dan Wilayah Terdampak
Data dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), sebuah pemantau konflik independen, mencatat hampir 2.000 insiden serangan tersebar di sedikitnya 29 dari 31 provinsi Iran. Ibukota, Tehran, menjadi sasaran bombardir terberat selama konflik ini. Beberapa insiden melibatkan berbagai jenis serangan seperti serangan udara, drone, artileri, rudal, hingga peledak jarak jauh.
Pengawasan yang rinci memetakan pergerakan serangan harian sejak akhir Februari, menunjukkan eskalasi yang masif dan tersebar.
Target Serangan
Serangan AS dan Israel sebagian besar menyasar infrastruktur rudal, fasilitas nuklir, serta situs militer Iran. Selain itu, instalasi energi di Tehran dan pelabuhan Kharg, yang krusial untuk ekspor minyak, juga terkena serangan.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya 18 rumah sakit serta fasilitas kesehatan menjadi korban. Selain itu, beberapa sekolah dan pemukiman penduduk dilaporkan mengalami kerusakan berat. Insiden paling mematikan terjadi di Minab, Iran tenggara, di mana serangan sebuah sekolah dasar perempuan menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar adalah murid.
Balasan Iran menargetkan lokasi-lokasi di Israel, termasuk kilang minyak, pangkalan militer AS, bandara, serta jalur pelayaran komersial di enam negara Teluk dan sekitarnya. Iran mengumumkan bahwa institusi keuangan AS dan perusahaan teknologi serta multinasional di Timur Tengah menjadi sasaran yang sah.
Israel juga menyerang Lebanon bagian selatan dan pinggiran ibu kota Beirut, menyebabkan hampir satu juta warga mengungsi akibat peringatan evakuasi paksa. Sementara itu, blokade terhadap Jalur Gaza terus berlanjut dengan penutupan semua akses dan penghentian bantuan kemanusiaan, melanggar gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu.
Jenis Senjata yang Digunakan
AS dan Israel menggunakan berbagai teknologi senjata canggih dalam konflik ini. AS menggunkan rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang di Laut Arab, serta missile Precison Strike Missile (PrSM) yang digunakan untuk pertama kalinya.
Drone Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS), yang meniru drone Shahed Iran, serta drone MQ-9 Reaper, pesawat tempur F/A-18 dan F-35 juga diterjunkan di medan konflik.
Dalam bidang pertahanan udara, AS mengoperasikan sistem Patriot untuk mengintersep rudal balistik di ketinggian rendah dan sistem THAAD untuk ketinggian lebih tinggi. Israel mengandalkan sistem Iron Dome dan David’s Sling yang dirancang khusus untuk menembak jatuh rudal jelajah.
Sementara itu, Iran memanfaatkan kombinasi rudal balistik jarak pendek dan menengah, serta drone serang sekali pakai. Drone Shahed yang diproduksi massal ini sulit dideteksi radar karena kemampuan terbang rendah.
Iran juga memakai rudal balistik menengah Shahab-3 dengan jangkauan lebih dari 1.900 kilometer, yang telah digunakan dalam serangan ke Israel dan target-target infrastruktur energi di negara-negara Teluk.
Evolusi Perang dan Dampaknya
Pertempuran yang telah berlangsung lebih dari dua minggu ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam cakupan dan intensitas serangan. Konflik tidak hanya berdampak secara militer tapi juga menimbulkan krisis kemanusiaan yang meluas, khususnya akibat kerusakan pada fasilitas kesehatan dan sekolah serta lonjakan pengungsi.
Penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan minyak global dan menimbulkan ketegangan ekonomi di tingkat internasional. Peningkatan penggunaan senjata canggih serta drone dalam jumlah besar menggambarkan arsitektur perang modern yang sangat kompleks.
Peta interaktif yang mencatat insiden serangan membantu memahami penyebaran konflik secara real-time, yang sangat penting untuk analisis strategi dan respon internasional selanjutnya. Semua pihak masih berhadapan dengan risiko eskalasi konflik yang lebih parah jika upaya diplomasi tidak segera berjalan efektif.
