Nepal tengah melakukan penyelidikan terkait insiden pembakaran buku yang ditulis oleh Presiden China, Xi Jinping, di sebuah universitas di bagian timur negara tersebut. Kejadian ini menjadi perhatian setelah Kedutaan Besar China menyampaikan keprihatinannya kepada pihak berwenang Nepal.
Kepala distrik Morang, Yuvaraj Kattel, mengungkapkan bahwa sebuah panel terdiri dari lima anggota diberi waktu 15 hari untuk menyelidiki bagaimana buku berjudul "The Governance of China" itu bisa terbakar di Universitas Teknik Manmohan (MTU). Buku tersebut merupakan kumpulan pidato dan tulisan Xi yang menggambarkan filosofi politik serta visi pemerintahannya.
Hubungan Nepal dan China
China merupakan mitra dagang utama sekaligus donor besar bagi Nepal. Negara ini juga berinvestasi dalam berbagai proyek infrastruktur seperti pembangunan bandara, jalan raya, dan fasilitas kesehatan. Nepal dianggap sebagai wilayah penyangga antara China dan India, dua negara besar yang saling bersaing memperebutkan pengaruh di wilayah Himalaya.
Keberadaan buku "The Governance of China" sekaligus mencerminkan keterbukaan Nepal terhadap hubungan bilateral yang terus berkembang. Namun, insiden pembakaran buku ini dianggap sensitif karena dapat mempengaruhi hubungan diplomatik kedua negara.
Penjelasan dari Universitas
Wakil rektor MTU, Subash Shree Pokhrel, menjelaskan bahwa pembakaran buku Xi tersebut terjadi secara tidak disengaja. Proses pengosongan sebuah ruangan yang menyimpan buku-buku, kertas lama, dan kardus yang diserang rayap menyebabkan buku-buku tersebut rusak dan terbakar.
Pokhrel menegaskan bahwa pihak universitas tidak bermaksud merusak buku tersebut apalagi merusak hubungan persahabatan dengan China. Pernyataan ini muncul untuk meredam ketegangan yang bisa memengaruhi hubungan kedua negara.
Langkah Penyelidikan
Pemerintah daerah Morang menetapkan panel khusus guna mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Hasil penyelidikan juga diharapkan bisa memberikan rekomendasi langkah-langkah guna mencegah insiden serupa di masa depan.
Pemeriksaan ini menunjukkan pentingnya tata kelola dan sensitivitas dalam menjaga bahan-bahan diplomatik atau simbol persahabatan antarnegara di institusi pendidikan dan tempat publik.
Tanggapan Pihak China
Hingga saat ini, Kedutaan Besar China di Kathmandu belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut. Pihak kedutaan sebelumnya telah mengirimkan surat resmi kepada pemerintah Nepal, mengekspresikan keprihatinan atas pembakaran buku Presiden Xi.
Respons dan penyelesaian insiden ini akan menjadi sorotan penting dalam konteks diplomasi khususnya hubungan Nepal dengan China yang terus berkembang dalam aspek perdagangan dan investasi infrastruktur.
Insiden ini mengingatkan bahwa simbol budaya dan politik mempunyai arti penting dalam menjaga hubungan antarnegara. Pemerintah Nepal menunjukkan komitmennya dengan menyelidiki secara terbuka demi memastikan kerjasama bilateral tetap harmonis dan saling menguntungkan.









