Trump Nilai NATO Meningkatkan Sikap Setelah Kritik Soal Ketegangan Selat Hormuz

Author: Qoo Media

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sikap sekutu NATO terhadap krisis di Selat Hormuz membaik setelah Amerika Serikat memberikan kritik tegas. Sebelumnya, Trump menilai sekutu NATO dan beberapa mitra lainnya enggan membantu Amerika Serikat dalam menghadapi blokade di Selat Hormuz yang dipicu oleh konflik militer dengan Iran.

Trump menegaskan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa aliansi NATO pada awalnya tidak berkontribusi untuk menjaga keamanan Selat Hormuz, padahal wilayah tersebut sangat penting bagi negara-negara anggota. Ia bahkan sempat menyindir bahwa kerja sama di dalam aliansi terasa seperti “jalan satu arah” karena sekutu lebih memilih tidak terlibat dalam operasi keamanan tersebut.

Menurut Trump, perlakuan sekutu NATO mulai berubah setelah AS bersikap lebih tegas. “Sekarang mereka menjadi jauh lebih baik karena melihat sikap saya,” ujarnya menjelang pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, seperti dilaporkan Sputnik pada 20 Maret 2026. Hal ini menunjukkan adanya perubahan respons dan dukungan yang lebih positif dari negara-negara anggota NATO terkait isu tersebut.

Konflik di kawasan ini meningkat tajam sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan ini menimbulkan korban sipil dan kerusakan bangunan yang luas. Balasan dari Iran tidak kalah keras dengan serangan ke wilayah Israel serta instalasi militer AS di Timur Tengah.

Situasi membuat Selat Hormuz yang menjadi jalur penting transportasi minyak dan gas dari Teluk Persia ke pasar global mengalami gangguan serius. Kondisi ini berdampak negatif pada ekspor dan produksi minyak di kawasan Teluk serta menimbulkan kekhawatiran ketahanan energi di tingkat internasional.

Sikap sekutu yang enggan terlibat awalnya memperlihatkan adanya perpecahan dalam aliansi NATO terkait bagaimana menangani krisis di Timur Tengah. Negara-negara seperti Austria dan Belgia bahkan menolak bergabung dalam operasi militer untuk memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Penolakan ini menunjukkan keberagaman kepentingan dan pandangan di antara anggota NATO mengenai keterlibatan militer di luar kawasan Eropa.

Kritik dan tekanan dari Amerika Serikat, khususnya dari Presiden Trump, tampaknya memberi efek pada perubahan sikap beberapa anggota NATO. Perubahan ini penting untuk menambah kekuatan koalisi guna mengamankan jalur strategis dan menekan eskalasi konflik lebih jauh. Namun, tantangan koordinasi dan perbedaan kepentingan masih menjadi isu utama dalam aliansi tersebut.

Ke depan, peran NATO dan negara sekutu dalam menjaga stabilitas kawasan Selat Hormuz akan menjadi indikator penting dalam hubungan internasional dan keamanan energi global. Dukungan yang lebih erat dari para sekutu dapat membantu meredam ketegangan dan menjaga kelancaran arus minyak yang vital bagi ekonomi dunia. Trump menegaskan bahwa meski AS bisa mengambil tindakan sendiri, aliansi yang solid akan memperkuat posisi negara-negara demokratis menghadapi ancaman bersama.

Terbaru