Mata Air Mata Ibu di Gaza, Kenangan Pahit di Hari yang Seharusnya Bahagia

Hari Ibu di Gaza tahun ini dipenuhi duka dan air mata, bukan dengan bunga atau hadiah seperti di banyak tempat lain di Timur Tengah. Peristiwa ini menjadi pengingat akan banyaknya nyawa berharga yang hilang akibat konflik yang berkepanjangan.

Di tengah tenda sederhana di Kota Gaza, Em Rami Dawwas mengenang tiga putranya yang tewas akibat serangan Israel. Dua dari jenazah anaknya masih ditahan oleh pihak berwenang, menambah luka hati yang dalam bagi sang ibu.

“Saya merindukan anak-anak saya pada Hari Ibu. Mereka selalu membawa hadiah, bunga, permen, dan bertanya tentang kebutuhan saya,” kata Em Rami sambil duduk di antara tumpukan pakaian anaknya yang tak sanggup ia buang. Keberadaan benda-benda itu menjadi satu-satunya pengikat memori akan kehadiran mereka yang telah tiada.

UNICEF memperkirakan pada Oktober tahun lalu bahwa sebanyak 64.000 anak Palestina telah menjadi korban tewas dan luka akibat serangan Israel di Gaza. Data ini menunjukkan betapa besar beban yang ditanggung oleh generasi penerus Palestina.

Jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, melaporkan bahwa Dawwas menyimpan foto putranya di bawah bantal dan menatapnya setiap hari. “Seolah-olah dengan terus melihat foto tersebut, ingatan akan anak-anaknya tetap hidup,” ujar Khoudary.

Banyak ibu di Gaza memilih menghabiskan Hari Ibu dengan duduk di makam anak-anak mereka. Tempat itu menjadi satu-satunya yang terasa dekat dengan buah hati yang telah pergi untuk selamanya.

Kisah Kehilangan yang Mendalam

Maram Ahmed, seorang remaja berusia 14 tahun, menjalani Hari Ibu keduanya tanpa sosok ibunya yang tewas dalam serangan udara Israel yang juga memusnahkan keluarga mereka. “Ibuku adalah sahabat terdekatku,” ungkapnya dengan suara penuh kesedihan.

Meskipun keterbatasan ekonomi, Maram selalu berusaha membelikan hadiah kecil untuk ibunya dari uang saku yang dimilikinya. “Saya ingin membuatnya bahagia walau hanya dengan hadiah kurang dari satu dolar,” ceritanya sembari duduk di tenda yang sederhana.

Melihat anak-anak lain bersama ibunya membuat Maram sedih, namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya itu. Kisah ini mencerminkan betapa dalamnya luka yang tersisa di hati para anak yang kehilangan orang tua di tengah konflik.

Dampak Perang terhadap Perempuan dan Anak-anak

Laporan dari Amnesty International yang dirilis bulan ini mengungkapkan betapa parahnya penderitaan perempuan dan anak perempuan di Gaza selama perang yang dimulai Oktober lalu. Meski gencatan senjata diumumkan dua tahun berselang, pelanggaran oleh Israel terus terjadi.

Amnesty mengungkapkan bahwa kondisi kehidupan yang dipaksakan oleh Israel di Gaza mengancam eksistensi fisik warga Palestina, terlebih perempuan yang menghadapi berbagai konsekuensi berbahaya dan berlapis.

Beberapa dampak nyata meliputi pengungsian massal, keruntuhan sistem kesehatan reproduksi dan maternal, terganggunya pengobatan penyakit kronis, meningkatnya risiko penyakit, serta kondisi tinggal yang tidak aman dan tidak bermartabat.

Laporan tersebut juga menyoroti kerusakan fisik dan mental yang dialami perempuan Gaza, menambah deretan penderitaan di tengah krisis kemanusiaan yang belum ada ujungnya.

Statistik terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata bulan Oktober, serangan Israel masih menewaskan lebih dari 650 warga Palestina, termasuk banyak perempuan dan anak-anak. Secara keseluruhan, perang ini telah menewaskan lebih dari 72.000 orang di Gaza.

Hari Ibu di Gaza tahun ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol dari kepedihan panjang yang diderita ribuan keluarga. Air mata dan kesedihan menyelimuti peringatan tersebut, menandai luka yang belum sembuh di tengah peperangan yang tak kunjung usai.

Terkait