Kembalinya Kurdi Suriah Rayakan Nowruz Setelah Pengasingan Panjang, Api Ulang Tahun yang Menyalakan Harapan dan Luka Lama

Ratusan warga Kurdi kembali ke kampung halaman di distrik Afrin, utara Suriah, setelah delapan tahun mengungsi karena operasi militer Turki. Mereka merayakan festival Nowruz, yang menandai tahun baru Persia, untuk pertama kalinya sejak kembali dan setelah pemerintah Suriah menetapkan festival ini sebagai hari libur nasional.

Nowruz adalah tradisi kuno berusia 3.000 tahun yang dirayakan oleh berbagai kelompok etnis dan agama, termasuk Kurdi di Suriah, Turki, Irak, dan Iran. Festival ini melibatkan pesta jalanan penuh warna dan prosesi obor di pegunungan, yang berakar pada agama Zoroastrianisme.

Abdul Rahman Omar, seorang pengungsi dari Afrin, ikut menari dan mengangkat obor dalam prosesi malam hari menuju perbukitan desa Al-Basouta. Para peserta mengibarkan bendera Kurdi dan membuat tulisan api bertuliskan “raperin,” yang berarti “pemberontakan” dalam bahasa Kurdi.

Afrin direbut oleh pasukan Turki dan kelompok oposisi Suriah pada 2018, yang mengusir pasukan dan warga Kurdi dari wilayah tersebut. Turki menyebut Pasukan Demokratik Suriah (SDF) sebagai organisasi teroris karena kaitannya dengan PKK, kelompok separatis di Turki. Saat ini, ada proses perdamaian antara pihak-pihak terkait.

Kurdi yang tetap tinggal di Afrin menghadapi diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia. Banyak pengungsi Kurdi enggan kembali karena rumah mereka telah ditempati oleh warga Arab yang mengungsi dari daerah lain akibat perang sipil Suriah.

Abdul Rahman Omar menghabiskan masa pengasingan di lingkungan Sheikh Maqsoud, Aleppo, yang menjadi pusat bentrokan antara pasukan pemerintah dan SDF. Konflik tersebut berujung pada kesepakatan untuk mengintegrasikan pasukan Kurdi ke dalam angkatan bersenjata Suriah dan mengembalikan kontrol pemerintah pusat atas wilayah timur laut.

Pemerintah Suriah juga menyetujui proses pemulangan pengungsi Kurdi ke Afrin, termasuk sekitar 400 keluarga dari provinsi Hassakeh yang berada di bawah kontrol SDF. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan baru yang memberikan pengakuan lebih besar atas hak-hak dan identitas Kurdi.

Presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, mengeluarkan dekrit resmi yang mengakui bahasa Kurdi sebagai bahasa resmi kedua selain Arab. Dekrit ini juga menetapkan Nowruz sebagai hari libur nasional dan mengembalikan kewarganegaraan ribuan Kurdi yang dicabut pada 1962. Kebijakan ini menunjukkan perubahan sikap pemerintah terhadap komunitas Kurdi yang sebelumnya mengalami marginalisasi.

Di masa lalu, perayaan Nowruz sering dilakukan secara rahasia karena ancaman penindasan oleh pemerintah. Abdul Rahman Omar menyatakan kegembiraannya karena dapat merayakan festival tersebut tanpa rasa takut seperti dulu.

Namun, perayaan yang berlangsung secara damai pada malam pertama kemudian mengalami beberapa insiden ketegangan. Di kota Kobani, seorang pria terlihat menurunkan bendera Suriah saat perayaan, yang memicu kerusuhan di beberapa wilayah Afrika dan kota-kota kontrol SDF.

Kerusuhan di Afrin termasuk perusakan kendaraan dan toko milik warga Kurdi, yang kemudian direspons dengan pemberlakuan jam malam oleh pihak keamanan setempat. Di Qamishli, penduduk menyerang pos keamanan milik pemerintah Damaskus dan merusak kendaraan.

Pihak keamanan Aleppo berjanji akan menyelidiki insiden penurunan bendera dan mengambil tindakan sesuai hukum. Sementara itu, Sipan Hamo, komandan SDF yang baru diangkat sebagai wakil menteri pertahanan, mengimbau warga untuk tetap tenang dan menghindari provokasi yang dapat memperkeruh suasana.

Tren pemulangan warga Kurdi ke Afrin menandai perubahan penting dalam konflik Suriah yang berkepanjangan. Langkah integrasi pasukan Kurdi ke dalam tentara nasional dan pengakuan identitas budaya mereka merupakan sinyal penyembuhan luka lama dan upaya menuju stabilitas yang lebih inklusif.

Perayaan Nowruz yang kembali utama kali ini sekaligus menjadi bukti bahwa komunitas Kurdi berusaha memperkuat keterikatan mereka dengan tanah air dan merayakan hak-hak identitas budaya yang selama ini tertindas dalam konflik politik.

Exit mobile version