Iran mengumumkan akan mengizinkan kapal Jepang melintasi Selat Hormuz, menandai perubahan pendekatan atas tindakan blokade yang diterapkan sebelumnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Tehran mulai memberlakukan blokade selektif terhadap jalur perairan strategis tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan kepada Kyodo News bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal dari negara-negara selain yang dianggap musuh Iran. Araghchi menegaskan, “Kami siap memberikan jalur aman bagi kapal Jepang, asalkan mereka menghubungi kami untuk membahas prosedur transit.”
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran kunci bagi perdagangan minyak dunia. Jepang sangat bergantung pada jalur ini karena lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun, sejak serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, jalur ini seperti ditutup secara faktual.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengancam akan membakar kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz, sehingga aktivitas pelayaran hampir terhenti total. Namun, dalam beberapa hari terakhir, retorika tersebut diredam dan Iran memperjelas hanya akan menutup jalur bagi kapal negara yang dianggap musuh.
Sejumlah negara, termasuk China, India, dan Pakistan, telah mendapatkan izin dari otoritas Iran untuk mengoperasikan kapal di Selat Hormuz. Jepang kini diperkirakan akan segera bergabung dengan kelompok negara-negara tersebut.
Menurut laporan Lloyd’s List, sebuah layanan informasi maritim, sekitar 10 kapal telah melewati selat dengan rute dekat pesisir Iran yang kini dianggap sebagai koridor aman. Kapal terakhir yang melintas adalah kapal pengangkut barang asal Yunani yang membunyikan sinyal “Cargo Food for Iran”.
Lloyd’s List menambahkan bahwa IRGC tengah mengembangkan sistem koordinasi untuk melakukan verifikasi dan pendaftaran kapal-kapal yang beroperasi di jalur tersebut agar prosesnya lebih teratur.
Konflik di sekitar Iran memasuki minggu ketiga, sekelompok negara, terutama sekutu AS, mulai mendesak agar Selat Hormuz dibuka kembali atau agar kapal mereka diberikan akses aman. Jepang bersama negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris bahkan telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan kesiapan mereka mendukung upaya menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, beberapa negara yang juga berkepentingan di kawasan seperti Irak, Malaysia, dan negara-negara Asia Selatan dilaporkan telah mengadakan pembicaraan langsung dengan Iran terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pernyataan Araghchi muncul setelah dialog dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi. Tokyo menyampaikan kekhawatiran karena banyak kapal Jepang terdampar di Teluk akibat ketidakpastian situasi keamanan di Selat Hormuz.
Iran kini tampak berusaha menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan kebutuhan negara-negara lain atas kelancaran perdagangan minyak dan barang di Selat Hormuz. Pendekatan blokade selektif ini menunjukkan perubahan strategi yang dapat memengaruhi dinamika geopolitik dan ekonomi regional secara signifikan.









