Kenaikan harga bahan bakar global terus memberikan tekanan pada pengeluaran rumah tangga di berbagai negara. Banyak orang terpaksa mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan kecil sehari-hari karena biaya hidup yang makin membengkak dan pendapatan yang stagnan.
Di Buenos Aires, Argentina, para sopir taksi seperti Luis Catalano merasa semakin berat untuk bertahan. “Untuk sekarang, kami masih bisa bertahan,” kata Luis, “tapi saya tidak tahu sampai kapan.”
Konflik yang terus berlangsung di Iran dan jalur minyak strategis Selat Hormuz yang nyaris berhenti makin memicu ketidakpastian pasokan minyak. Ketegangan ini menjaga harga minyak mentah tetap tinggi di pasar global.
Harga minyak Brent sempat turun ke sekitar 101 dolar per barel setelah Presiden AS menyatakan adanya pembicaraan dengan Iran, namun klaim itu dibantah pihak Iran. Pergerakan harga minyak mentah butuh waktu berminggu-minggu untuk berdampak pada harga bahan bakar di pompa.
Kenaikan harga bahan bakar berdampak langsung pada kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah. Di Buenos Aires, German Toledo yang bekerja sebagai petugas keselamatan jalan menyebutkan bahwa gaji yang tidak naik selama lima tahun membuat biaya bahan bakar semakin terasa membebani.
Bayarnya yang pas-pasan memaksa banyak orang bekerja lebih dari satu pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun kenaikan biaya hidup tetap membuat pendapatan mereka tidak cukup untuk menutupi pengeluaran.
Di Cologne, Jerman, Kevin Plucken yang bekerja sebagai petugas kebersihan hanya bisa membeli bahan bakar maksimal 20 euro tiap kali mengisi. Ia sudah harus mengubah cara menghabiskan waktu luangnya dengan anak-anak agar biaya transportasi tidak membengkak.
Situasi serupa terjadi di Lagos, Nigeria, di mana biaya hidup yang terus naik membuat Felicia Iwasa dan keluarganya sulit bertahan. Mereka harus menekan pengeluaran untuk hal-hal yang sebelumnya dianggap sederhana.
Di Manila, Filipina, pengemudi jeepney seperti Johnny Pagnado dan Sandy Roño menghadapi kenaikan harga solar yang lebih tinggi dari bensin. Pengemudi ini adalah tulang punggung transportasi masyarakat kelas pekerja di kota tersebut.
Johnny mengaku memotong pengeluaran sekecil apapun, termasuk meniadakan minuman bir di malam hari. Ia juga khawatir dengan biaya pendidikan empat anaknya di masa depan. Sementara Sandy terpaksa membatalkan rencana liburan ulang tahun dan bahkan kesulitan membayar sewa rumah serta cicilan kendaraan.
Jika harga bahan bakar tetap tinggi, Sandy mengatakan akan beralih mencari pekerjaan lain yang lebih stabil. Pilihan tersebut bukan hanya persoalan ekonomi tapi juga bertahan hidup bagi banyak orang yang sehari-hari bergantung pada kendaraan bermotor.
Berikut dampak kenaikan harga bahan bakar yang dirasakan masyarakat global:
1. Pemotongan anggaran pengeluaran untuk kebutuhan kecil agar bisa menutupi biaya utama seperti sewa dan pendidikan.
2. Penurunan aktivitas rekreasi dan perjalanan untuk menghindari biaya transportasi tinggi.
3. Peningkatan kerja sampingan karena pendapatan utama tidak cukup mengimbangi kenaikan harga.
4. Dampak paling parah dirasakan oleh pekerja dengan upah tetap yang tidak mengalami kenaikan selama bertahun-tahun.
Kenaikan harga bahan bakar bukan sekadar isu ekonomi, tetapi juga memperbesar kekhawatiran sosial dan keberlangsungan hidup masyarakat kelas bawah. Tanpa adanya solusi jangka pendek maupun jangka panjang yang nyata, tekanan hidup ini berpotensi menimbulkan dampak yang lebih serius pada stabilitas sosial dan kesejahteraan global.
