Sistem Perdagangan Global Goyah, WTO Ungkap Gangguan Terburuk Dalam 80 Tahun

Perdagangan global sedang menghadapi gangguan terburuk dalam 80 tahun terakhir, menurut peringatan yang disampaikan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala saat konferensi tingkat menteri WTO dibuka di Yaounde, Kamerun. Ia menilai tatanan dunia dan sistem multilateral yang selama ini dikenal telah berubah secara permanen.

Peringatan itu muncul ketika 166 anggota WTO datang ke konferensi yang berlangsung selama empat hari di tengah ketegangan geopolitik, perang di Timur Tengah, serta naiknya proteksionisme. Situasi tersebut menambah tekanan pada lembaga perdagangan global yang sudah melemah akibat kebuntuan negosiasi dan persaingan antarnegara yang makin tajam.

Tekanan besar pada sistem perdagangan dunia

Okonjo-Iweala menegaskan bahwa gangguan yang terjadi bukan sekadar masalah sementara. Ia menyebut skala persoalan global saat ini sangat besar, bahkan sebelum konflik di Teluk ikut mengacaukan perdagangan energi, pupuk, dan pangan.

Dalam pernyataannya, ia juga menyoroti bahwa pemerintah nasional dan lembaga internasional sama-sama kesulitan menghadapi ketegangan geopolitik yang meningkat, tekanan iklim yang makin berat, serta perubahan teknologi yang sangat cepat. Kondisi itu, menurutnya, ikut memicu pertanyaan yang semakin keras terhadap multilateralisme.

Konflik, proteksionisme, dan ketidakpastian ekonomi

Konferensi WTO digelar di tengah situasi internasional yang penuh tekanan, mulai dari perang di Timur Tengah, konflik di Sudan, hingga perang di Ukraina. Okonjo-Iweala menyebut itulah alasan forum tersebut penting, karena dunia perlu membahas arah sistem perdagangan global pada saat ketidakpastian sedang tinggi.

Berikut sejumlah faktor utama yang ikut mengguncang perdagangan internasional:

  1. Konflik bersenjata yang mengganggu jalur pasokan dan pasar energi.
  2. Kenaikan proteksionisme yang membatasi arus barang lintas negara.
  3. Negosiasi WTO yang tersendat dan belum menghasilkan terobosan besar.
  4. Tekanan perubahan iklim yang memengaruhi produksi dan distribusi komoditas.
  5. Perubahan teknologi cepat yang menuntut aturan baru dalam perdagangan.

WTO berupaya menjaga relevansi

Selama empat hari pembahasan di Yaounde, anggota WTO berupaya menghidupkan kembali peran lembaga itu di tengah dunia yang makin terpecah. Konferensi menteri WTO biasanya digelar setiap dua tahun dan menjadi forum tertinggi untuk membahas arah kebijakan perdagangan global.

Namun, tantangan yang dihadapi kali ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Selain ketegangan politik antarnegara, WTO juga harus merespons keraguan terhadap efektivitas sistem multilateral yang dibangun setelah Perang Dunia II untuk mencegah terulangnya bencana besar pada paruh pertama abad ke-20.

Afrika jadi panggung pembahasan masa depan perdagangan

Okonjo-Iweala menyoroti pentingnya lokasi penyelenggaraan konferensi di Afrika. Ia menyebut momen itu tepat karena perdebatan tentang masa depan perdagangan dunia berlangsung di benua yang menurutnya menjadi kawasan masa depan.

Konferensi di Kamerun ini menjadi yang kedua kali WTO menggelar pertemuan menteri di Afrika setelah Nairobi pada 2015. Bagi banyak pengamat, pemilihan lokasi tersebut juga memberi sinyal bahwa negara berkembang ingin suara yang lebih besar dalam pembentukan aturan perdagangan global.

Apa yang dipertaruhkan bagi anggota WTO

Perdebatan di WTO tidak hanya menyangkut aturan dagang, tetapi juga stabilitas ekonomi banyak negara. Jika sistem perdagangan global terus terfragmentasi, rantai pasok, harga pangan, biaya energi, dan akses pupuk bisa semakin tidak menentu.

Dampak yang paling dikhawatirkan meliputi:

  • terganggunya pasokan barang pokok lintas negara,
  • naiknya biaya logistik dan produksi,
  • melemahnya kepercayaan terhadap aturan perdagangan bersama,
  • serta makin lebarnya jarak kepentingan antara negara maju dan negara berkembang.

Di tengah situasi itu, peringatan Okonjo-Iweala menegaskan bahwa WTO tidak lagi berhadapan dengan tantangan teknis semata, melainkan dengan perubahan besar pada arsitektur ekonomi dan politik global. Negosiasi di Yaounde menjadi ujian penting bagi kemampuan 166 anggota WTO untuk menjaga perdagangan dunia tetap terbuka, stabil, dan relevan di tengah gelombang gangguan yang belum menunjukkan tanda mereda.

Berita Terkait

Back to top button