Iran Tuduh AS Siapkan Serangan Darat, Pakistan Jadi Medan Diplomasi Regional

Iran menuduh Amerika Serikat tengah menyiapkan serangan darat sambil membuka jalur pembicaraan, di saat ketegangan dengan Israel terus meluas dan Pakistan menjadi tuan rumah pertemuan regional untuk meredakan krisis. Islamabad mempertemukan sejumlah negara kawasan guna membahas langkah awal yang bisa membuka jalan dialog, termasuk opsi pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran.

Situasi ini berkembang ketika konflik memasuki bulan kedua dan dampaknya semakin terasa di Timur Tengah maupun pasar global. Serangan udara, balasan rudal, gangguan jalur energi, dan perdebatan soal kemungkinan operasi darat membuat ruang diplomasi semakin sempit.

Iran tuduh Washington siapkan operasi darat

Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Amerika Serikat mengirim sinyal tentang kemungkinan negosiasi, tetapi pada saat yang sama menyiapkan pengerahan pasukan. Ia menegaskan Teheran siap merespons jika tentara AS benar-benar dikerahkan.

“Selama Amerika mencari penyerahan Iran, jawaban kami adalah kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” kata Qalibaf dalam pesan kepada rakyat. Pernyataan itu mempertegas sikap keras Teheran di tengah laporan media Amerika yang menyebut Pentagon menimbang opsi operasi darat.

Laporan The Washington Post, mengutip pejabat AS, menyebut Pentagon tengah mempersiapkan skenario operasi darat selama berminggu-minggu di Iran. Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa opsi militer di Pentagon mencakup kemungkinan keterlibatan pasukan darat.

Pakistan dorong pembicaraan regional

Di Islamabad, Pakistan menggelar pembicaraan awal dengan Arab Saudi, Turki, dan Mesir untuk mencari jalan keluar politik dari konflik. Sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan salah satu fokus utama adalah usulan membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal dagang.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut isu keamanan pangan, energi, dan rantai pasok ikut dibahas dalam pertemuan tersebut. Putaran lanjutan dijadwalkan berlangsung pada hari berikutnya, menandakan diplomasi masih berjalan meski situasi lapangan memburuk.

Pakistan menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan damai, namun posisi maksimalis dari Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat jalan menuju kesepakatan tetap sulit. Seorang diplomat Eropa memperingatkan eskalasi lebih lanjut bisa menunda peluang mempertemukan kedua pihak selama berminggu-minggu atau lebih lama.

Selat Hormuz jadi titik tekanan utama

Gangguan terhadap pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz menjadi salah satu dampak paling besar dari konflik ini. Iran disebut telah melakukan blokade efektif terhadap pengiriman energi sejak serangan AS dan Israel terhadap negara itu dimulai pada akhir Februari, sehingga menambah tekanan pada ekonomi dunia.

Dalam pertemuan di Pakistan, pembahasan soal pembukaan jalur pelayaran dinilai penting karena selat itu merupakan urat nadi perdagangan energi global. Iran juga disebut menyetujui tambahan 20 kapal berbendera Pakistan melewati jalur tersebut, dengan dua kapal diizinkan transit setiap hari, menurut Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.

Poin utama yang dibahas dalam diplomasi Pakistan

  1. Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.
  2. Pengurangan eskalasi militer antara Iran dan Israel.
  3. Perlindungan keamanan pangan dan pasokan energi.
  4. Stabilitas rantai pasok global yang terdampak konflik.

Langkah-langkah itu menunjukkan bahwa pembahasan tidak hanya soal gencatan senjata, tetapi juga upaya mencegah dampak ekonomi yang lebih luas. Jalur laut strategis itu menjadi perhatian utama karena setiap gangguan langsung memengaruhi pasar minyak dan pengiriman barang internasional.

Serangan udara Israel dan balasan rudal Iran terus berlanjut

Militer Israel mengatakan telah melancarkan lebih dari 140 serangan udara ke Iran bagian tengah dan barat dalam 24 jam hingga Minggu malam. Target yang diklaim terkena serangan mencakup lokasi peluncuran rudal balistik dan fasilitas penyimpanan.

Sebaliknya, Israel juga menghadapi rentetan rudal dari Iran. Sebuah fasilitas kimia di selatan Israel, dekat Beer Sheva, terkena rudal atau serpihannya sehingga otoritas setempat memperingatkan warga agar menjauh karena ada bahan berbahaya.

Satu rudal lain jatuh di area terbuka dekat permukiman di Beer Sheva dan melukai 11 orang. Kota itu berada di dekat sejumlah pangkalan militer, sehingga setiap serangan ke wilayah tersebut meningkatkan kekhawatiran akan perluasan sasaran konflik.

Dampak merembet ke negara-negara kawasan

Perang yang terus meluas telah menewaskan ribuan orang dan memengaruhi negara-negara di Timur Tengah. Pabrik aluminium besar di Bahrain dan Uni Emirat Arab juga dilaporkan rusak akibat serangan udara selama akhir pekan.

Uni Emirat Arab, yang disebut menghadapi lebih banyak serangan rudal dan drone dari Iran dibanding negara lain, mencari kompensasi atas serangan terhadap warga sipil dan fasilitas vital. Seorang penasihat presiden UAE menyatakan negara itu juga menuntut jaminan yang jelas agar serangan serupa tidak terulang.

Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran ikut terlibat dan melancarkan serangan pertama ke Israel. Aksi itu memunculkan kekhawatiran bahwa Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting lain, bisa ikut terganggu dan menambah tekanan pada ekonomi dunia.

Pengerahan Marinir AS dan pilihan politik Trump

Amerika Serikat telah mengirim ribuan Marinir ke Timur Tengah, dengan kontingen pertama tiba menggunakan kapal serbu amfibi. Pengerahan itu memperlihatkan kesiapan militer Washington di tengah pertimbangan opsi yang lebih luas terhadap Iran.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menghadapi pilihan sulit antara mencari jalan keluar lewat negosiasi atau meningkatkan konflik secara militer. Beban politik juga ikut membesar karena perang yang tidak populer itu dinilai menekan dukungan terhadap Partai Republik menjelang pemilu sela.

Jonathan Panikoff, mantan wakil pejabat intelijen nasional AS untuk Timur Tengah, menilai Trump memiliki opsi yang buruk di semua arah. Ia mengatakan salah satu masalah utama adalah tidak jelasnya definisi hasil yang dianggap memuaskan oleh pihak-pihak yang bertikai.

Negosiasi buntu di tengah ancaman baru

Washington sebelumnya menawarkan rencana gencatan senjata 15 poin, termasuk usulan membuka Selat Hormuz dan membatasi program nuklir Iran. Namun Teheran menolak daftar itu dan mengajukan proposal tandingan.

Israel juga menyatakan tidak akan mengurangi serangan sebelum ada pembicaraan antara Washington dan Teheran. Seorang pejabat Israel mengatakan operasi militer terhadap target yang disebut sebagai sasaran militer akan terus berlangsung tanpa penurunan intensitas.

Di Tehran, sebuah gedung yang menampung kantor Al-Araby TV milik Qatar juga terkena serangan pada Minggu, menurut kantor berita Mehr. Seorang operator kamera stasiun itu menyebut serangan tersebut membuat seluruh ruangan porak-poranda, seraya mengatakan tidak ada target militer di lokasi itu.

Dalam situasi yang masih berubah cepat, peran Pakistan sebagai tuan rumah pembicaraan regional menjadi salah satu jalur diplomasi yang paling diperhatikan. Namun selama serangan udara, ancaman operasi darat, dan gangguan jalur pelayaran terus berlanjut, peluang de-eskalasi tetap bergantung pada kesediaan semua pihak menahan langkah militer lebih jauh.

Berita Terkait

Back to top button