Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah parlemen Iran menuduh Washington diam-diam menyiapkan serangan darat, meski di ruang publik tetap berbicara soal negosiasi. Tuduhan itu muncul saat sebuah kapal perang AS yang membawa sekitar 3.500 personel militer tiba di Timur Tengah, memicu kekhawatiran bahwa konflik yang sudah meluas bisa memasuki fase yang lebih berbahaya.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan tuduhan itu melalui kantor berita resmi IRNA. Ia menilai pesan diplomasi yang disampaikan AS tidak sejalan dengan pergerakan militernya di kawasan, terutama setelah lebih dari sebulan serangan udara oleh pasukan AS dan Israel ke wilayah Iran.
Iran menilai diplomasi AS tidak sejalan dengan pengerahan militer
Ghalibaf mengatakan musuh “secara terbuka mengirim pesan negosiasi dan dialog, sementara diam-diam merencanakan serangan darat.” Ia juga menyerukan persatuan nasional karena, menurutnya, perang telah memasuki “tahap paling kritis”.
Pernyataan itu mempertegas cara pandang تهران terhadap langkah Washington yang belakangan tetap menyinggung jalur diplomasi, tetapi pada saat yang sama menambah aset militer ke kawasan. Situasi ini membuat setiap sinyal de-eskalasi berjalan beriringan dengan ancaman eskalasi baru.
Pengerahan kapal perang AS menambah kecurigaan Iran
Kedatangan USS Tripoli, kapal serbu amfibi yang membawa sekitar 3.500 Marinir dan pelaut, menjadi sorotan utama di tengah meningkatnya krisis. Washington Post melaporkan Pentagon telah menyiapkan rencana operasi darat selama berminggu-minggu, termasuk kemungkinan penggerebekan di lokasi dekat Selat Hormuz, meski Presiden Donald Trump belum menyetujui pengerahan apa pun.
Langkah itu memperkuat dugaan Iran bahwa AS tidak hanya mengandalkan tekanan udara dan diplomasi. Dalam pandangan Tehran, pembicaraan mengenai penyelesaian damai bisa saja menjadi penutup bagi persiapan militer yang lebih luas.
Dampak perang mulai terasa di dalam negeri Iran
Serangan yang berlangsung tanpa henti selama beberapa pekan memberi tekanan besar kepada warga sipil. Seorang seniman di Tehran mengatakan ia merindukan “tidur malam yang damai” dan menggambarkan serangan pada malam hari begitu keras hingga terasa seperti seluruh kota bergetar.
Farzaneh, perempuan berusia 62 tahun dari Ahvaz yang dihubungi AFP dari Paris, menyebut banyak orang bangun setiap hari dengan rasa cemas. Ia mengatakan warga hidup dengan “masa depan yang tidak pasti,” menggambarkan dampak perang yang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di sisi psikologis masyarakat.
Serangan udara terus meluas ke berbagai titik
Sumber referensi menyebut sebuah universitas di Isfahan kembali terkena serangan udara AS-Israel pada hari Minggu, untuk kedua kalinya sejak perang pecah. Di Tehran, kantor media Qatar Al Araby juga melaporkan sebuah rudal Israel menghantam gedung yang menampung kantornya.
Rekaman dari dalam ruangan menunjukkan jendela pecah dan kaca berhamburan. Di luar gedung, orang-orang tampak membersihkan puing-puing dalam jumlah besar, menandakan bahwa serangan tidak lagi terbatas pada target militer, tetapi juga menyentuh infrastruktur sipil dan media.
Perang melebar ke Teluk, Laut Merah, dan jalur energi
Konflik yang bermula dari serangan udara kini berkembang menjadi krisis regional. Iran membalas dengan serangan ke negara-negara Teluk dan jalur pelayaran Selat Hormuz, yang langsung mengguncang pasar energi dan mengancam perekonomian global.
Iran juga menyatakan telah menutup Selat Hormuz bagi kapal dari negara yang dianggap bermusuhan. Jalur ini sebelumnya dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia dan sekitar seperlima pengiriman gas alam cair global, sehingga setiap gangguan di sana segera berdampak pada pasokan energi internasional.
-
Selat Hormuz
- Menjadi jalur vital ekspor energi dunia.
- Setiap eskalasi di kawasan langsung memengaruhi harga dan pasokan.
-
Laut Merah
- Risiko perluasan perang meningkat setelah Houthi Yaman mengklaim serangan pertama mereka dalam perang ini.
- Saudi Arabia juga disebut mengalihkan sebagian ekspor النفط menuju rute lain untuk menghindari Hormuz.
- Negara Teluk
- Serangan ke fasilitas industri memperluas konflik dari medan tempur ke pusat ekonomi.
- Risiko balasan antarnegara semakin tinggi jika serangan lintas batas berlanjut.
Serangan balasan Iran dan dampaknya di kawasan
Pasukan Iran mengatakan telah menembakkan rentetan rudal dan drone ke pabrik milik dua produsen aluminium terbesar di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Tehran menyebut fasilitas itu terkait dengan militer AS, sementara Emberates Global Aluminium mengatakan serangan Iran melukai enam orang dan merusak fasilitas secara signifikan.
Bahrain juga menyebut dua karyawan Aluminium Bahrain terluka. Di Israel, asap hitam tebal terlihat membubung dari kompleks industri di gurun Negev, sementara militer mengatakan dampak itu kemungkinan berasal dari serpihan rudal setelah mendeteksi rentetan baru dari Iran.
Negara-negara lain ikut terseret ke pusaran konflik
Yaman menambah lapisan baru dalam krisis ketika kelompok Houthi mengaku melancarkan serangan terhadap target strategis di Israel dengan rudal jelajah dan drone. Aksi itu memunculkan kekhawatiran bahwa perang bisa meluas ke Laut Merah, jalur pelayaran penting yang juga menjadi alternatif ekspor energi.
Di Lebanon, serangan Israel terus berlanjut setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran melepaskan roket ke Israel. Tiga wartawan tewas dalam serangan Israel di selatan Lebanon, dan otoritas setempat menyebut peristiwa itu sebagai kejahatan perang, sementara Israel menyatakan salah satu korban juga anggota unit tempur elite Hizbullah.
Upaya diplomasi tetap berjalan, tetapi belum meredakan keadaan
Di tengah perang, Pakistan menjadi tempat pertemuan sejumlah pihak yang mencoba meredakan ketegangan. Negara itu bertindak sebagai perantara antara Washington dan Tehran dan menggelar pembicaraan di Islamabad bersama menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir.
Kementerian luar negeri Pakistan mengatakan pertemuan empat pihak itu membahas “berbagai isu, termasuk upaya meredakan ketegangan di kawasan.” Namun, fakta bahwa pembicaraan itu berlangsung bersamaan dengan tambahan kekuatan militer AS menunjukkan bahwa diplomasi dan tekanan perang masih berjalan paralel.
Pentingnya perkembangan terbaru bagi kawasan
- Tuduhan Iran menandakan tingkat ketidakpercayaan yang sangat tinggi terhadap niat AS.
- Pengerahan kapal perang AS membuat opsi operasi darat dinilai tetap terbuka.
- Serangan lintas negara meningkatkan risiko gangguan energi dan perdagangan global.
- Warga sipil di Iran, Lebanon, Israel, dan negara Teluk menanggung dampak langsung konflik.
- Jalur diplomasi belum menghasilkan jeda pertempuran yang nyata di lapangan.
Paus Leo XIV dalam Misa Minggu Palma di Vatikan juga menyinggung pertumpahan darah di Timur Tengah dan menegaskan bahwa Tuhan “tidak mendengarkan doa mereka yang berperang.” Sementara itu, blokade terhadap sejumlah kegiatan keagamaan di Israel menegaskan bahwa perang telah merembet jauh melampaui isu keamanan, menjadi krisis kemanusiaan, politik, dan ekonomi yang terus berkembang di berbagai arah.









