Setelah bertahun-tahun tertutup rapat, Korea Utara mulai membuka kembali jalur darat dan udara dengan China. Di Dandong, kota perbatasan utama di timur laut China, harapan warga, pelaku usaha, dan para penumpang kembali menguat ketika kereta penumpang internasional beroperasi lagi menuju Sinuiju.
Namun pembukaan itu belum sepenuhnya berarti kebebasan berwisata. Korea Utara sejauh ini belum kembali menerbitkan visa turis untuk warga China, padahal mereka dulu mendominasi kunjungan asing ke negara tersebut.
Kereta kembali bergerak, tapi akses masih terbatas
AFP melaporkan kereta penumpang terlihat melintasi jembatan menuju Korea Utara di Dandong pada pekan ini. Meski simbolik, pemandangan itu belum langsung mengubah arus perjalanan karena yang diizinkan masuk saat ini masih terbatas pada pemegang visa kerja atau studi.
Selain jalur kereta, Air China juga dijadwalkan kembali membuka penerbangan ke Pyongyang. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa Pyongyang mulai melonggarkan kontrol perbatasannya secara bertahap setelah menutup akses hampir total sejak awal pandemi Covid-19.
Dandong kembali jadi titik pengamatan dunia luar
Sebagai gerbang utama perdagangan dan perjalanan lintas batas, Dandong kembali menarik perhatian wisatawan dan pengamat. Di sisi sungai Yalu, para pelancong terlihat memotret Sinuiju dari jembatan yang sebagian rusak akibat serangan udara AS pada Perang Korea.
Kapal wisata juga membawa pengunjung melihat aktivitas di seberang sungai, mulai dari warga Korea Utara yang bersepeda hingga orang yang membersihkan perahu di tepi air. Tentara berjaga di titik-titik tertentu di sepanjang batas, menegaskan bahwa pembukaan ini masih berada di bawah pengawasan ketat.
Harapan wisata, tetapi bisnis belum bergerak banyak
Li Shuo, manajer agen perjalanan di Dandong, mengatakan pemulihan layanan penumpang belum memberi dampak pada bisnisnya. Karena tur masuk ke Korea Utara masih belum diizinkan, ia hanya menjual perjalanan ke area perbatasan agar pelanggan dapat melihat sekilas negara tertutup itu dari kejauhan.
Ia menilai pemulihan visa wisata akan sangat penting bagi pasar domestik. “Kami hanya bisa menunggu kabar” soal visa turis, katanya, seraya menambahkan bahwa banyak orang tetap ingin pergi.
Berikut situasi yang terpantau di lapangan:
- Kereta penumpang China-Korea Utara kembali beroperasi.
- Air China bersiap membuka lagi penerbangan ke Pyongyang.
- Visa turis untuk warga China belum dipulihkan.
- Hanya pemegang visa kerja atau studi yang bisa masuk.
- Wisata perbatasan di Dandong tetap ramai karena akses langsung masih tertutup.
Pandangan publik masih terbelah
Tidak semua orang menyambut antusias kemungkinan perjalanan ke Korea Utara. Seorang wisatawan asal Shenyang menyebut sekilas pandangan dari Dandong sudah cukup baginya.
Ia menilai Korea Utara sebagai negara totaliter dan mengatakan warganya “dicuci otak”, meski memilih tidak menyebutkan namanya karena sensitif dan ia bekerja di sektor publik. Sementara itu, wisatawan dari Hong Kong, Jepang, dan Australia justru datang ke Dandong untuk melihat langsung wilayah yang jarang terlihat itu.
Louis Lamb, perawat berusia 22 tahun dari Brisbane, menyebut perjalanan ke Korea Utara sebagai item impian dalam daftar hidupnya. Ia mengatakan pengalaman langsung bisa memberi perspektif berbeda dari citra yang selama ini dibangun media.
Perdagangan tetap menjadi urat nadi penting
Di balik isu wisata, hubungan ekonomi China dan Korea Utara tetap berjalan. China masih menjadi pendukung utama Korea Utara di bidang diplomatik, meski Pyongyang belakangan semakin dekat dengan Rusia sejak perang Ukraina pecah.
Perdagangan lintas batas, terutama melalui Dandong, menjadi jalur penting bagi ekonomi Korea Utara yang tertekan sanksi PBB akibat program nuklirnya. Menurut data bea cukai China, pengiriman lintas batas melonjak menjadi $2,7 miliar pada tahun lalu dan hampir kembali ke level sebelum pandemi.
Pekerja Korea Utara di Dandong menunggu kepulangan
Bagi sebagian warga Korea Utara yang masih berada di Dandong, pembukaan ini memunculkan harapan lain: pulang ke rumah. Diperkirakan ada ribuan warga Korea Utara yang tinggal di kota berpenduduk dua juta jiwa itu, meski aturan sanksi melarang mereka bekerja di luar negeri.
Penutupan perbatasan yang mendadak pada 2020 membuat banyak dari mereka terjebak di China selama bertahun-tahun. Pyongyang kemudian memperkuat pengamanan di perbatasan untuk mencegah penyeberangan ilegal.
Dalam sebuah restoran Korea Utara di Dandong, AFP melihat staf melarang pengambilan gambar saat layar besar menampilkan pertunjukan musik dan tarian patriotik. Seorang pelayan dari Pyongyang mengatakan ia sudah lebih dari enam tahun berada di China tanpa pulang.
Ia tidak membeberkan namanya, tetapi menyebut perjalanan antarnegara kini terasa makin mudah. “Saya akan pulang segera,” katanya, memperlihatkan harapan yang sejalan dengan perubahan pelan tetapi nyata di perbatasan China-Korea Utara.







