Kecam Agresi Ke Iran, Mamdani Sebut Rp 390 T Lebih Baik Untuk Rakyat

Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, melontarkan kritik keras terhadap agresi ke Iran yang menurutnya menghabiskan anggaran sangat besar di saat banyak warga Amerika masih bergulat dengan biaya hidup yang tinggi. Ia menilai dana perang itu seharusnya dipakai untuk kebutuhan publik yang lebih mendesak, bukan untuk mendorong agenda perubahan rezim di luar negeri.

Dalam pernyataannya di tengah perdebatan politik yang memanas di Amerika Serikat, Mamdani menyebut perang AS-Israel di Iran harus ditentang dari segala sisi karena berisiko memunculkan konsekuensi yang berat. Ia menekankan bahwa kebijakan seperti itu tidak hanya menyangkut kebijakan luar negeri, tetapi juga langsung berkaitan dengan prioritas anggaran dan kesejahteraan warga di dalam negeri.

Kritik Mamdani soal biaya perang

Mamdani menyampaikan kritik itu saat berbicara dalam wawancara dengan YouTuber Brian Tyler Cohen. Ia menyebut biaya perang di Iran telah mencapai US$ 23 miliar atau sekitar Rp 390 triliun, angka yang menurutnya sangat besar untuk satu operasi militer.

Ia menilai dana sebesar itu bisa memberi manfaat langsung jika dialihkan ke program yang menyentuh kehidupan warga. Menurut Mamdani, uang tersebut dapat digunakan untuk Medicare, pendidikan, hingga penghapusan utang mahasiswa.

Dana Rp 390 triliun dinilai lebih bermanfaat untuk rakyat

Mamdani menekankan bahwa anggaran perang sebesar itu memiliki potensi mengubah kehidupan kelas pekerja Amerika. Ia menyebut investasi di sektor-sektor publik akan memberi dampak yang lebih nyata daripada membiayai konflik luar negeri.

Berikut beberapa bidang yang ia soroti:

  1. Medicare untuk memperluas akses layanan kesehatan.
  2. Pendidikan untuk mendukung guru dan sistem sekolah.
  3. Penghapusan utang mahasiswa yang membebani generasi muda.
  4. Program sosial lain yang bisa membantu keluarga berpenghasilan rendah.

Pernyataan itu sejalan dengan pesan politik Mamdani yang sejak awal kampanye berfokus pada persoalan keterjangkauan biaya hidup di New York City. Ia mencoba menempatkan isu perang dan anggaran militer dalam konteks yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Latar politik dan dampak kebijakan luar negeri

Kritik Mamdani muncul di tengah sorotan publik terhadap besarnya belanja militer Amerika Serikat. Di saat inflasi, biaya sewa, layanan kesehatan, dan pendidikan masih menjadi beban besar, penggunaan dana untuk konflik luar negeri memicu pertanyaan soal prioritas pemerintah.

Ia juga menyinggung bahwa kebijakan perubahan rezim di masa lalu sering membawa dampak buruk jangka panjang. Dalam pandangannya, pendekatan seperti itu jarang menyelesaikan masalah dan justru meninggalkan biaya politik, ekonomi, dan kemanusiaan yang lebih besar.

Isu yang kini menguat di tengah warga Amerika

Pernyataan Mamdani beresonansi dengan perdebatan yang lebih luas tentang arah kebijakan AS. Banyak warga menuntut pemerintah lebih fokus pada kebutuhan domestik, terutama saat kelas menengah dan bawah menghadapi tekanan ekonomi yang berat.

Di sisi lain, perdebatan soal Iran tetap sensitif karena menyangkut hubungan AS dengan sekutu-sekutunya di Timur Tengah, termasuk Israel. Dalam situasi seperti ini, kritik Mamdani menambah warna pada diskusi publik tentang apakah dana besar untuk perang benar-benar sebanding dengan risiko dan hasil yang didapat.

Mamdani menutup pandangannya dengan penekanan bahwa perang tersebut bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga soal pilihan moral dan fiskal. Di tengah beban hidup yang terus meningkat, ia menilai Rp 390 triliun akan jauh lebih berguna jika diarahkan untuk warga Amerika ketimbang membiayai agresi ke Iran.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version