Kuwait melaporkan sebuah pabrik listrik dan desalinasi air menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan Iran, saat negara-negara Teluk masih menghadapi rangkaian serangan balasan dalam eskalasi perang yang terus meluas. Otoritas setempat menyebut serangan terjadi sebelum tengah hari waktu setempat pada Jumat, sementara tingkat kerusakan belum diumumkan.
Insiden itu menambah tekanan pada infrastruktur energi dan pasokan air di kawasan yang sangat bergantung pada air hasil desalinasi. Di saat yang sama, laporan resmi Kuwait juga menyebut kilang minyak Mina al-Ahmadi terkena serangan drone pada dini hari, memicu kebakaran di sejumlah unit operasi namun tidak menimbulkan korban luka di kalangan pekerja.
Serangan ke fasilitas strategis
Kilang Mina al-Ahmadi dikenal sebagai salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di Timur Tengah dan memiliki peran penting untuk kebutuhan domestik Kuwait. Jurnalis Al Jazeera, Malik Traina, mengatakan dari Kuwait City bahwa ini merupakan ketiga kalinya kilang itu diserang, dan situasi keamanan di negara tersebut kini berada dalam status siaga tinggi.
Kuwait berada sangat dekat dengan Iran, dengan jarak sekitar 80 kilometer dari garis pantai Iran, sehingga para pengamat menilai negara itu menjadi salah satu titik paling rentan dalam gelombang serangan lintas batas. Dalam unggahan awal di X, kantor berita KUNA memperingatkan bahwa “serangan rudal dan drone yang bermusuhan” sedang berlangsung di Kuwait, disertai sirene dan ledakan di udara saat rudal Iran dicegat di berbagai wilayah.
Pasokan air dan listrik menjadi perhatian utama
Fasilitas desalinasi memegang peran vital bagi Kuwait dan sebagian besar negara Teluk, karena wilayah ini sangat bergantung pada air laut yang diolah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri. KUNA sebelumnya juga melaporkan seorang warga negara India tewas setelah sebuah pabrik listrik dan desalinasi di Kuwait terkena serangan, menegaskan tingginya risiko pada infrastruktur sipil yang sensitif.
Berikut sejumlah fasilitas utama yang terdampak dalam rangkaian serangan terbaru di kawasan Teluk:
- Pabrik listrik dan desalinasi air di Kuwait.
- Kilang minyak Mina al-Ahmadi di Kuwait.
- Fasilitas gas Habshan di Uni Emirat Arab.
- Dua pusat data Amazon Web Services di UEA.
- Sebuah pusat data di Bahrain yang terdampak serangan drone di dekat lokasi.
Pemerintah Kuwait juga menepis kabar soal kebocoran radiasi yang sempat beredar di publik. Tim darurat dan pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi kilang, sementara otoritas lingkungan memantau kualitas udara di sekitar area terdampak.
Gelombang serangan meluas ke UEA, Bahrain, dan Arab Saudi
Di Uni Emirat Arab, kementerian pertahanan menyatakan negara itu menghadapi gelombang baru serangan rudal dan drone yang diduga berasal dari Iran. Abu Dhabi Media Office menyebut puing proyektil yang berhasil dicegat memicu kebakaran di fasilitas gas Habshan, dan operasi sempat dihentikan sementara saat otoritas menangani situasi.
Kementerian pertahanan UEA juga mengatakan sistem pertahanan udara mencegat 19 rudal balistik dan 26 drone dalam satu malam saja. Otoritas setempat menyebut sedikitnya dua personel tewas dan 191 orang dari berbagai kewarganegaraan mengalami luka dalam rangkaian serangan yang telah berlangsung sejak konflik memanas.
Arab Saudi ikut melaporkan keberhasilan menembak jatuh sebuah drone di wilayah udaranya, sementara Bahrain dilaporkan membunyikan alarm rudal tiga kali. Situasi ini menunjukkan serangan tidak lagi terbatas pada satu negara, tetapi menyebar ke beberapa titik penting di kawasan Teluk.
Target infrastruktur digital jadi perhatian baru
Selain fasilitas energi, serangan juga mulai menyentuh infrastruktur digital yang dikelola perusahaan teknologi besar. Kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Jumat mengatakan Teheran menargetkan sebuah pusat data Oracle di Dubai sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat-Israel, namun otoritas media Dubai menyebut klaim itu sebagai “berita palsu”.
Pada awal pekan, Amazon Web Services mengonfirmasi dua pusat datanya di UEA terkena serangan langsung, sementara satu pusat data di Bahrain mengalami kerusakan akibat ledakan drone di sekitar lokasi. Associated Press melaporkan dampaknya terhadap server AWS bersifat lokal dan terbatas, tetapi insiden itu tetap memperlihatkan meluasnya ancaman ke infrastruktur digital regional.
Ancaman balasan dan risiko lanjutan
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, memperingatkan kemungkinan serangan ke pembangkit listrik di kawasan jika ancaman terhadap fasilitas energi Iran berlanjut. Dalam pernyataannya yang disiarkan Press TV, ia juga mengancam akan menargetkan infrastruktur energi regional serta perusahaan informasi dan telekomunikasi yang memiliki pemegang saham Amerika.
Peringatan itu muncul bersamaan dengan pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan intensifikasi serangan terhadap infrastruktur Iran. Dengan serangan yang kini menyasar kilang, pabrik desalinasi, fasilitas gas, dan pusat data, negara-negara Teluk menghadapi risiko gangguan berlapis pada pasokan energi, air bersih, dan layanan digital yang menopang aktivitas harian jutaan penduduk.









