Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai menekan rantai pasok pangan di Asia Selatan, dengan India dan Sri Lanka menjadi dua negara yang paling rentan. Stok pupuk yang menipis, kenaikan harga energi, dan terganggunya jalur distribusi impor membuat sektor pertanian di kedua negara itu berada di dekat titik krisis.
Gangguan ini bermula dari konflik yang memengaruhi arus energi global, termasuk rute vital seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting pengiriman minyak dan gas dunia. Ketika pasokan energi terganggu, harga bergerak naik dan dampaknya cepat merembet ke bahan baku pupuk, logistik, hingga biaya produksi pertanian.
Tekanan pada rantai pasok pupuk
India dan Sri Lanka sama-sama sangat bergantung pada impor untuk menjaga pasokan pupuk dan energi. Dalam kondisi normal pun, kebutuhan itu sudah besar, tetapi gangguan pasokan dari kawasan Teluk membuat pasar menjadi semakin rapuh.
India disebut sebagai konsumen pupuk terbesar kedua di dunia setelah China, dengan kebutuhan lebih dari 60 juta ton per tahun. Sebagian besar kebutuhan itu masih bergantung pada impor, terutama untuk jenis pupuk strategis seperti urea yang sangat penting bagi produktivitas pertanian.
Menurut ekonom pertanian Devinder Sharma, ketergantungan India pada pupuk kimia masih sangat tinggi. Ia menilai setiap gangguan pasokan akan cepat menimbulkan kepanikan di tingkat petani karena pupuk menjadi faktor utama dalam menjaga hasil panen.
Petani panik sebelum musim tanam
Di lapangan, kekhawatiran itu sudah muncul lebih awal. Banyak petani di India mulai menimbun pupuk sebelum masa tanam dimulai, sebuah tanda bahwa mereka tidak percaya kondisi pasokan akan stabil dalam waktu dekat.
Prakash Limbuyya Swami, seorang pengecer pupuk, menggambarkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah ia lihat selama 35 tahun berbisnis. Kepanikan petani membuat permintaan melonjak lebih cepat, sementara stok di jalur distribusi ikut tertekan.
Berikut gambaran faktor yang mendorong kekhawatiran di India:
- Kebutuhan pupuk sangat besar dan bergantung pada impor.
- Produksi urea domestik masih membutuhkan gas impor.
- Pasokan gas disebut turun hingga sekitar 30 persen.
- Harga energi yang tinggi ikut menambah biaya produksi dan distribusi.
- Petani bereaksi dengan membeli lebih awal untuk mengamankan stok.
Meski pemerintah India menyatakan stok pupuk masih aman dan bahkan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, kekhawatiran di tingkat petani belum mereda. Perbedaan antara data resmi dan persepsi pasar ini menunjukkan bahwa sentimen ketidakpastian sudah terlanjur terbentuk.
Sri Lanka menghadapi risiko yang lebih berat
Kondisi di Sri Lanka dinilai lebih mengkhawatirkan karena negara itu punya pengalaman pahit dengan krisis serupa. Beberapa tahun lalu, gangguan pada kebijakan pertanian dan pasokan input produksi membuat hasil panen turun dan memicu kelangkaan pangan.
Petani di Monaragala, P Amila, mengatakan ia memutuskan untuk tidak menanam padi pada musim berikutnya karena situasi yang dinilai terlalu tidak stabil. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai yang paling sulit dalam 30 tahun bertani, terutama karena kekhawatiran bahwa masyarakat tidak akan punya beras untuk dibeli.
Anuradha Tennakoon, ketua organisasi pertanian nasional di Sri Lanka, bahkan menilai krisis pupuk saat ini lebih serius daripada krisis bahan bakar. Ia menegaskan bahwa klaim pemerintah soal ketersediaan pupuk tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ancaman meluas ke ketahanan pangan global
Para analis memperingatkan bahwa persoalan ini tidak berhenti pada India dan Sri Lanka. Bila konflik yang mengganggu jalur energi dan perdagangan bahan baku pupuk tidak mereda, tekanan pangan bisa meluas ke negara lain yang bergantung pada impor.
World Food Programme memperkirakan hingga 45 juta orang tambahan dapat terdorong ke kondisi kerawanan pangan akut jika konflik terus berlanjut. Angka ini menunjukkan bahwa dampak perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di pasar komoditas, lahan pertanian, dan meja makan warga.
Lonjakan harga energi membuat ongkos produksi pangan ikut naik, sementara tersendatnya pupuk menurunkan produktivitas lahan. Kombinasi keduanya berbahaya karena dapat memicu efek berantai berupa panen mengecil, harga pangan naik, dan daya beli masyarakat melemah.
Mengapa kasus ini penting diperhatikan
India dan Sri Lanka bukan hanya konsumen lokal yang terdampak. Keduanya juga bagian penting dari pasar pangan regional, sehingga gangguan produksi di sana bisa berdampak pada perdagangan beras, gandum, dan komoditas pertanian lainnya di Asia.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah biasanya perlu menjaga tiga hal sekaligus:
- Stok pupuk dan energi tetap tersedia di tingkat domestik.
- Distribusi logistik tidak tersendat oleh gejolak harga atau keamanan jalur pasok.
- Petani kecil mendapat akses yang cukup agar tidak mengurangi tanam.
Jika salah satu dari tiga faktor itu gagal dijaga, risiko kenaikan harga pangan akan makin tinggi. Karena itu, perkembangan stok pupuk di India dan Sri Lanka kini menjadi indikator penting untuk membaca seberapa jauh krisis geopolitik bisa menjalar ke sektor pangan dalam beberapa bulan ke depan.
