Serangan terhadap satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih beroperasi di Iran, Bushehr, memicu kekhawatiran serius di seluruh Teluk. Pusat nuklir itu berada di kota pesisir Bushehr dan disebut para pejabat serta pengawas nuklir PBB sebagai fasilitas yang jika terkena serangan dapat memicu bencana regional.
Dalam rangkaian serangan yang terus berlangsung di Iran, lokasi dekat Bushehr kembali dihantam pada Sabtu, menewaskan satu penjaga keamanan dan merusak sebuah bangunan samping, menurut organisasi energi atom Iran. Iran menyebut fasilitas itu telah dibom empat kali sejak perang pecah, sementara Badan Energi Atom Internasional atau IAEA kembali menyerukan penahanan diri dan meminta perlindungan yang lebih kuat terhadap instalasi nuklir sipil.
Mengapa Bushehr begitu penting
Bushehr adalah pembangkit nuklir pertama di Timur Tengah yang masih aktif dan dibangun dengan dukungan Rusia. Satu reaktor yang beroperasi saat ini memasok sekitar 1.000 megawatt ke jaringan listrik nasional Iran.
Kapasitas itu membuat Bushehr bukan hanya simbol teknologi energi, tetapi juga bagian dari infrastruktur vital negara. Dua reaktor lain direncanakan mulai beroperasi pada 2029, sehingga lokasi ini tetap menjadi aset strategis yang sangat sensitif di tengah perang.
Risiko utama jika fasilitas itu terkena serangan langsung
Para ahli nuklir menilai ancaman terbesar muncul bila serangan mengenai reaktor, kolam penyimpanan bahan bakar bekas, atau sistem listrik yang menopang pendinginan. Dalam skenario itu, material radioaktif seperti Caesium-137 dapat terlepas ke atmosfer dan menyebar melalui angin serta air.
Paparan dekat juga dapat menimbulkan luka bakar pada kulit dan meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang. Jika sistem pendingin gagal, reaktor dapat mengalami pelelehan inti dan memicu kebocoran radiasi yang jauh lebih luas.
Apa kata IAEA dan para pejabat PBB
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi sebelumnya memperingatkan bahwa serangan langsung ke Bushehr dapat menimbulkan “pelepasan radioaktivitas yang sangat tinggi” dan membawa “konsekuensi besar” di luar perbatasan Iran. Ia juga menekankan bahwa serangan terhadap jalur listrik yang menyuplai pendinginan bisa memicu kerusakan paling berbahaya.
Grossi mengatakan evakuasi bisa dibutuhkan dalam radius beberapa ratus kilometer dari lokasi, termasuk wilayah di luar Iran. Otoritas juga harus membagikan iodine kepada penduduk di area terdampak dan membatasi distribusi pangan bila terjadi kontaminasi.
Dampak yang bisa menjalar ke seluruh Teluk
Kekhawatiran paling besar bukan hanya pada daratan Iran, tetapi juga pada perairan Teluk yang dangkal dan tertutup. Jika radiasi masuk ke laut, dampaknya bisa bertahan lama dan memengaruhi biota laut, rantai makanan, serta kualitas air.
Sejumlah negara Teluk sangat bergantung pada desalinasi air laut untuk kebutuhan sehari-hari. Namun banyak fasilitas desalinasi tidak dirancang untuk menyaring material radioaktif, sehingga kontaminasi dapat langsung mengganggu pasokan air bersih.
Berikut ringkasan dampak yang paling dikhawatirkan:
- Kontaminasi laut yang dapat menyebar lintas batas negara.
- Gangguan pada pabrik desalinasi yang memasok air minum.
- Risiko pada perikanan dan keamanan pangan regional.
- Potensi evakuasi di wilayah luas bila radiasi terdeteksi tinggi.
Mengapa Qatar dan negara tetangga ikut waspada
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani pernah mengatakan serangan terhadap Bushehr akan berdampak pada “kita semua”. Ia menyebut simulasi yang dilakukan otoritas Qatar menunjukkan laut bisa “sepenuhnya terkontaminasi” dan negara itu bisa “kehabisan air dalam tiga hari”.
Pernyataan itu menegaskan bahwa ancaman di Bushehr tidak berhenti di Iran. Jarak yang relatif dekat antara Bushehr dan kota-kota di Teluk membuat negara-negara tetangga ikut menilai risiko dari sisi kesehatan publik, air bersih, pangan, dan keselamatan maritim.
Mengapa serangan ke fasilitas sipil ini diperdebatkan secara hukum
Kerangka hukum internasional melarang penargetan instalasi yang mengandung gaya destruktif berbahaya, termasuk fasilitas nuklir sipil, bila serangan tersebut dapat memicu korban jiwa besar dan kerusakan lingkungan. Protokol I Konvensi Jenewa melarang serangan terhadap objek semacam itu.
IAEA juga menegaskan bahwa negara-negara harus menghindari serangan fisik terhadap reaktor dan bahan bakar yang disimpan. Badan itu menekankan pentingnya menjaga keselamatan pekerja, memastikan pasokan listrik tetap berjalan, dan mempertahankan pemantauan radiasi.
Perbandingan dengan kekhawatiran atas Zaporizhzhia
Pemerintah Iran menilai reaksi Barat terhadap Bushehr tidak sekeras respons terhadap ancaman di pembangkit nuklir Zaporizhzhia di Ukraina. Abbas Araghchi bahkan menulis bahwa “radioactive fallout will end life in GCC capitals, not Tehran”, sambil menyoroti minimnya kecaman internasional atas serangan di Bushehr.
Perbandingan itu menggarisbawahi satu hal penting: pembangkit nuklir di zona perang selalu membawa risiko lintas batas. Jika instalasi seperti Bushehr rusak berat, dampaknya tidak hanya berupa ledakan atau kebakaran, tetapi juga krisis air, evakuasi massal, dan ancaman kesehatan yang bertahan lama di seluruh kawasan Teluk.
Bushehr tetap menjadi salah satu titik paling rawan dalam eskalasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, karena satu serangan yang salah sasaran atau merusak sistem pendinginan dapat mengubah konflik militer menjadi darurat lingkungan dan kemanusiaan di seluruh Teluk.
