Gencatan Senjata AS-Iran Masih Rapuh, Pengamat Soroti Ancaman Eskalasi Lagi

Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, tetapi langkah itu belum memunculkan kepastian soal berakhirnya konflik secara permanen. Pengamat Timur Tengah Smith Alhadar menilai, tanpa transparansi yang jelas mengenai isi kesepakatan, peluang munculnya ketegangan baru masih terbuka lebar.

Menurut Smith, salah satu sumber ketidakpastian datang dari pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut penghentian perang regional tidak mencakup konflik antara Israel dan Hezbollah. Padahal, penghentian konflik itu disebut menjadi bagian penting dari proposal perdamaian 10 poin yang diajukan Iran.

Situasi masih rapuh

Smith memandang kondisi saat ini sangat rentan karena para pihak belum menunjukkan kesepahaman penuh pada detail kesepakatan. Ia menilai, bila salah satu poin kunci diabaikan, maka gencatan senjata bisa berubah hanya menjadi jeda singkat sebelum eskalasi berikutnya.

Ia mengatakan ada risiko perang kembali meletus jika muncul sabotase dari Netanyahu. "Artinya, perang bisa meletus kembali disebabkan sabotase Netanyahu," kata Smith, mengutip Media Indonesia, Rabu, 8 April 2026.

Posisi Netanyahu dan tekanan politik di Israel

Smith menilai Netanyahu berada dalam posisi sulit apabila harus menghentikan perang dengan Hezbollah sebelum kelompok itu dianggap melemah. Menurut dia, keputusan semacam itu dapat berdampak langsung pada posisi politik Netanyahu di dalam negeri.

"Pasalnya, kalau dia melakukan gencatan senjata dengan Hezbollah sebelum proksi Iran ini kalah dan dilucuti, maka Netanyahu akan jatuh, syukur-syukur tidak berujung pada pengadilan terkait isu korupsi dan pelemahan pengadilan yang dilakukannya," ujarnya.

Dalam pandangan Smith, kalkulasi politik domestik Israel ikut menentukan arah kebijakan perang. Karena itu, setiap keputusan soal gencatan senjata tidak hanya dipengaruhi diplomasi regional, tetapi juga kepentingan bertahan di panggung politik domestik.

Trump dinilai sulit diprediksi

Dari sisi Amerika Serikat, Smith menyebut Presiden Donald Trump sebagai figur yang sulit diperkirakan. Ia menyampaikan bahwa dinamika di Kongres AS, terutama tekanan dari Partai Republik, juga berpotensi memengaruhi langkah Trump terhadap Israel.

"Di pihak lain, Trump adalah tokoh yang unpredictable. Berikut, pendukung Republik di Senat dan DPR AS akan menekan Trump untuk mendukung Israel dalam perangnya di Libanon," terangnya.

Meski begitu, Smith menilai Trump justru kemungkinan mendorong Israel menghentikan perang di Lebanon. Ia mengaitkan hal itu dengan posisi Trump yang dianggap lemah dalam proses perundingan dengan Iran.

"Tapi, saya percaya Trump akan menekan Netanyahu untuk mengakhiri perang di Libanon karena Trump dalam posisi yang lemah vis a vis Iran dalam perundingan di Pakistan pada Jumat besok," lanjutnya.

Pengalaman Iran membuat negosiasi lebih hati-hati

Smith juga menilai Iran tidak akan mudah percaya pada setiap pembicaraan baru dengan Washington. Menurut dia, pengalaman sebelumnya membuat Teheran lebih berhati-hati dan menuntut jaminan yang lebih konkret dalam perundingan kali ini.

"Pasti, karena pengalaman Iran dibohongi berkali-kali oleh Trump, point ini telah dirundingkan secara tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan," pungkasnya.

Dalam konteks itu, jalur diplomasi yang melibatkan mediator seperti Pakistan menjadi penting untuk menjaga komunikasi tetap terbuka. Namun, tanpa kesepakatan yang benar-benar mengikat semua pihak, gencatan senjata masih bisa berubah arah sewaktu-waktu.

Selat Hormuz ikut jadi sorotan

Selain isu perang di darat, perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting pengiriman minyak dunia. Smith menilai pembukaan akses selat itu hanya bersifat sementara dan lebih ditujukan untuk meredakan tekanan politik sesaat.

"Pembukaan Selat Hormuz untuk sementara hanya untuk menyelamatkan muka Trump," katanya.

Ia menjelaskan, selama periode gencatan senjata dua pekan, kapal tanker dan kargo yang melintasi selat itu tetap harus berada dalam pengawasan Iran. Dengan kata lain, belum ada tanda bahwa Teheran melepas kendali penuh atas jalur strategis tersebut.

Menurut Smith, dalam tuntutan Iran, Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Teheran setelah konflik berakhir. Karena itu, pembukaan jalur pelayaran hanya dipandang sebagai langkah sementara selama negosiasi masih berlangsung.

  1. Gencatan senjata AS-Iran berlaku selama dua pekan.
  2. Isi kesepakatan belum terbuka sepenuhnya ke publik.
  3. Konflik Israel-Hezbollah masih menjadi titik rawan eskalasi.
  4. Selat Hormuz tetap berada dalam pengawasan Iran selama masa gencatan senjata.
  5. Jika perundingan gagal, penutupan akses selat bisa kembali terjadi.

Dalam situasi yang masih serba sementara ini, masa dua pekan ke depan akan menjadi penentu apakah kesepakatan benar-benar membuka jalan menuju deeskalasi atau sekadar memberi jeda singkat sebelum ketegangan kembali melonjak di Timur Tengah.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button