Serangan Israel di Lebanon pada hari Rabu menewaskan sedikitnya 112 orang dan melukai 837 lainnya, menurut pembaruan terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, menyebut skala pembunuhan dan kehancuran itu “mengerikan” dan mendesak dunia internasional segera bertindak untuk menghentikan krisis yang terus memburuk.
Pernyataan itu muncul ketika rumah sakit di Lebanon dilaporkan kewalahan menangani korban, sementara tim hak asasi manusia PBB di lokasi serangan di Beirut melihat langsung puing-puing dengan beberapa jenazah di antara reruntuhan. Turk mengatakan situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya peluang gencatan senjata dan betapa besar ancaman terhadap warga sipil.
Ledakan korban sipil dalam hitungan jam
Dalam pernyataannya, Turk menilai jumlah korban tewas dan luka-luka sangat memprihatinkan. Ia menyebut serangan itu terjadi hanya dalam hitungan jam setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran, sehingga menambah tekanan pada upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Fakta di lapangan juga menunjukkan beban besar bagi sistem kesehatan Lebanon. Sejumlah rumah sakit menerima korban dalam jumlah besar secara bersamaan, membuat layanan darurat bekerja di bawah tekanan ekstrem.
Peringatan PBB soal hukum humaniter
Turk menegaskan bahwa hukum humaniter internasional mewajibkan perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil. Ia menekankan tiga prinsip utama yang tidak bisa dinegosiasikan dalam konflik bersenjata, yaitu pembedaan target, proporsionalitas, dan langkah pencegahan untuk melindungi penduduk sipil.
Berikut prinsip yang ia soroti:
- Pembedaan antara kombatan dan warga sipil.
- Proporsionalitas dalam penggunaan القوة militer.
- Kehati-hatian maksimal untuk mencegah korban sipil.
- Investigasi cepat dan independen atas dugaan pelanggaran.
- Penuntutan terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.
Turk juga menekankan bahwa semua dugaan pelanggaran harus diselidiki secara cepat dan independen. Menurut dia, para pelaku harus dibawa ke pengadilan jika terbukti melanggar hukum.
Konflik meluas dan jumlah pengungsi terus bertambah
Lebanon terseret lebih jauh ke dalam perang kawasan ketika kelompok Hizbullah yang didukung Iran mulai menembakkan roket ke Israel. Serangan itu disebut sebagai pembalasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan referensi yang dikutip.
Turk mengutuk serangan rudal dan drone Hizbullah ke Israel utara, serta menyerukan kedua pihak menghentikan serangan segera. Ia juga menyoroti dampak kemanusiaan yang terus membesar, termasuk lebih dari satu juta orang yang telah mengungsi di Lebanon akibat konflik.
Israel juga telah melancarkan invasi darat di wilayah selatan Lebanon. Turk menyebut situasi itu sangat mengkhawatirkan, terlebih setelah muncul pernyataan pejabat Israel yang mengindikasikan niat untuk menduduki atau bahkan menganeksasi sebagian wilayah Lebanon selatan.
Dampak kemanusiaan yang makin dalam
PBB menilai krisis ini tidak hanya soal pertempuran, tetapi juga soal runtuhnya rasa aman bagi warga sipil. Kehidupan sehari-hari di banyak wilayah Lebanon kini berada di tengah ancaman serangan berulang, pengungsian paksa, dan ketakutan akan eskalasi lanjutan.
Turk menegaskan bahwa upaya perdamaian di kawasan belum akan tuntas selama warga Lebanon terus hidup di bawah tembakan, kehilangan tempat tinggal, dan dihantui serangan baru. Ia meminta komunitas internasional bergerak lebih cepat agar “mimpi buruk” ini segera berakhir.
