Lembaga keuangan dan kemanusiaan global memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah mulai menekan harga pangan dunia. World Bank, International Monetary Fund, dan badan pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai lonjakan harga minyak, gas alam, dan pupuk akan mendorong biaya pangan naik dan memperburuk kerawanan pangan di banyak negara.
Dalam pernyataan bersama setelah membahas dampak perang, ketiga lembaga itu menekankan bahwa beban terberat akan ditanggung negara-negara berpendapatan rendah yang bergantung pada impor. Mereka juga menyebut gangguan transportasi dan pasokan energi sebagai faktor yang dapat memperdalam kenaikan harga bahan pokok.
Tekanan dari energi ke harga pangan
Peringatan itu muncul saat pasar energi global masih bergejolak akibat konflik yang meluas di kawasan tersebut. Para pemimpin lembaga itu menyebut perang di Timur Tengah telah mengacaukan kehidupan dan mata pencaharian di kawasan itu serta memicu salah satu gangguan terbesar di pasar energi global modern.
Kenaikan harga energi biasanya langsung menular ke harga pangan. Biaya bahan bakar memengaruhi ongkos distribusi, sementara harga gas alam dan pupuk menentukan biaya produksi pertanian di banyak negara.
“Sharp increases in oil, gas, and fertilizer prices, together with transport bottlenecks, will inevitably lead to rising food prices and food insecurity,” kata pernyataan bersama itu. Kalimat tersebut menegaskan bahwa risiko terbesar bukan hanya inflasi pangan, tetapi juga berkurangnya akses masyarakat miskin terhadap makanan.
Negara rentan berisiko paling besar
World Bank, IMF, dan World Food Programme menyoroti negara-negara yang sudah memiliki utang tinggi dan ruang fiskal sempit. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah akan lebih sulit melindungi rumah tangga rentan saat harga pangan dan bahan bakar naik bersamaan.
Berikut kelompok yang paling rentan terdampak menurut penilaian tiga lembaga tersebut:
- Negara berpendapatan rendah yang sangat bergantung pada impor pangan dan energi.
- Negara dengan beban utang tinggi yang sulit menambah subsidi atau bantuan sosial.
- Rumah tangga miskin yang menghabiskan sebagian besar pendapatan untuk makanan.
- Wilayah yang menghadapi hambatan distribusi akibat gangguan logistik dan transportasi.
Bagi negara pengimpor bersih, kenaikan harga minyak dan gas bisa memukul dua sisi sekaligus. Di satu sisi, biaya impor meningkat, dan di sisi lain harga pangan domestik ikut terdorong naik karena ongkos produksi dan pengiriman membengkak.
Peringatan soal kelaparan akut
World Food Programme sebelumnya menyebut jutaan orang bisa menghadapi kelaparan akut jika perang berlanjut hingga Juni. Peringatan itu menunjukkan bahwa eskalasi konflik bukan hanya isu geopolitik, tetapi juga ancaman langsung terhadap ketahanan pangan jutaan keluarga.
Kristalina Georgieva mengatakan IMF belum melihat krisis pangan secara penuh saat ini. Namun, ia menilai situasi itu bisa berubah jika distribusi pupuk terganggu dan suplai pertanian melemah di negara-negara produsen maupun importir.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pupuk memegang peran penting dalam menjaga hasil panen. Jika pasokan pupuk tersendat, dampaknya dapat muncul beberapa bulan kemudian dalam bentuk penurunan produksi dan harga pangan yang lebih mahal.
Koordinasi bantuan internasional
Dalam pernyataan yang sama, para pemimpin World Bank, IMF, dan World Food Programme berjanji akan terus memantau perkembangan secara dekat. Mereka juga berkomitmen mengoordinasikan seluruh instrumen yang tersedia untuk membantu pihak-pihak yang terdampak krisis.
Pernyataan itu penting karena respons terhadap krisis pangan biasanya membutuhkan kombinasi kebijakan. Dukungan bisa berupa perlindungan sosial, pendanaan darurat, bantuan kemanusiaan, hingga langkah menjaga kelancaran pasokan komoditas strategis.
IMF juga disebut sedang berkomunikasi dengan Food and Agriculture Organization untuk membahas ketahanan pangan. Koordinasi ini mencerminkan kekhawatiran bahwa dampak perang dapat bergerak cepat dari pasar energi ke pasar pangan dan kemudian menekan stabilitas sosial di negara-negara rentan.
