Mojtaba Khamenei Luka Parah, Misteri Hilangnya 1 Kaki di Tengah Krisis Iran

Kondisi Mojtaba Khamenei kembali menjadi sorotan setelah laporan Reuters menyebut pemimpin tertinggi Iran itu mengalami cedera serius akibat serangan udara pada awal perang. Dalam laporan yang dikutip dari tiga sumber dekat lingkaran dalamnya, Mojtaba disebut mengalami luka parah di wajah dan kaki saat serangan menghantam kompleks kediaman pemimpin tertinggi di Teheran.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar soal siapa yang benar-benar memegang kendali di Iran saat negara itu menghadapi krisis keamanan dan politik yang paling berat dalam beberapa dekade. Ketidakhadiran Mojtaba dari ruang publik, ditambah belum adanya foto, video, atau rekaman suara resmi sejak ia naik menggantikan ayahnya pada 8 Maret 2026, membuat misteri soal kondisinya semakin kuat.

Cedera yang Dilaporkan Sangat Serius

Reuters melaporkan Mojtaba Khamenei terluka pada 28 Februari, hari pertama perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Serangan itu juga menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarga lain, termasuk istri Mojtaba dan kerabat dekatnya.

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang menjelaskan seberapa parah luka tersebut. Namun, televisi pemerintah sempat menyebutnya sebagai janbaz, istilah yang dipakai untuk orang yang mengalami luka berat akibat perang.

Dugaan Kehilangan Satu Kaki

Sejumlah pejabat Amerika Serikat ikut menambah spekulasi dengan menyebut kemungkinan Mojtaba mengalami cacat fisik. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 13 Maret mengatakan Mojtaba kemungkinan mengalami disabilitas, sementara sumber intelijen AS menyebut ia diduga kehilangan satu kaki.

Meski begitu, CIA dan pemerintah Israel menolak berkomentar atas laporan itu. Reuters juga menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa memverifikasi secara independen kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei.

Masih Terlibat dalam Pengambilan Keputusan

Di tengah spekulasi mengenai luka fisiknya, sejumlah sumber mengklaim Mojtaba tetap aktif dalam proses pemerintahan. Pria berusia 56 tahun itu disebut telah pulih secara bertahap dan masih mengikuti rapat dengan pejabat senior melalui konferensi audio.

Ia juga dilaporkan ikut terlibat dalam keputusan penting terkait perang dan negosiasi dengan Amerika Serikat. Namun, sumber yang sama menilai kondisi itu belum berarti ia memiliki kendali penuh atas pemerintahan.

Berikut poin penting dari laporan yang beredar:

  1. Mojtaba Khamenei dilaporkan mengalami luka serius di wajah dan kaki.
  2. Ia disebut terluka saat serangan pada tanggal 28 Februari.
  3. Ada dugaan ia kehilangan satu kaki, menurut sumber intelijen AS.
  4. Pemerintah Iran belum memberi penjelasan resmi soal kondisinya.
  5. Ia dikabarkan tetap mengikuti pertemuan internal secara audio.
  6. Foto, video, dan rekaman publik darinya belum dirilis sejak pengangkatan.

Muncul Pertanyaan Soal Otoritas Politik

Pengamat Timur Tengah dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai Mojtaba kemungkinan tidak akan memiliki otoritas penuh seperti pendahulunya. Menurut dia, Mojtaba bisa menjadi salah satu suara penting, tetapi belum tentu menjadi sosok penentu.

“Dia perlu membuktikan dirinya sebagai figur yang kredibel dan dominan,” kata Vatanka, seperti dikutip dalam laporan tersebut. Pandangan itu menguatkan penilaian bahwa transisi kekuasaan di Iran tidak berlangsung mulus dan masih menyisakan banyak tanda tanya.

Garda Revolusi Disebut Jadi Aktor Kunci

Dalam sistem teokrasi Iran, pemimpin tertinggi memegang kekuasaan paling besar dan mengawasi presiden serta lembaga strategis, termasuk Garda Revolusi. Namun, selama perang berlangsung, sejumlah sumber menyebut Garda Revolusi justru menjadi aktor dominan dalam pengambilan keputusan strategis.

Mojtaba disebut telah lama berada dekat dengan lingkaran kekuasaan lewat perannya di kantor ayahnya. Ia juga punya hubungan kuat dengan elite Garda Revolusi, yang selama ini menjadi penopang utama sistem politik Iran.

Spekulasi Publik dan Minimnya Transparansi

Ketiadaan informasi resmi memicu gelombang spekulasi di media sosial Iran. Beragam teori konspirasi muncul, termasuk soal siapa yang sebenarnya mengendalikan pemerintahan saat ini dan mengapa Mojtaba tidak tampil di depan umum.

Sebuah meme yang viral bahkan menampilkan kursi kosong dengan tulisan, “Di mana Mojtaba?”. Di sisi lain, para pendukung pemerintah berpendapat ketidakhadirannya justru bisa menjadi langkah keamanan untuk menghindari serangan lanjutan.

“Mengapa dia harus tampil di depan umum? Untuk menjadi sasaran para penjahat ini?” kata Mohammad Hosseini, anggota milisi Basij dari Qom, seperti dikutip dalam laporan itu.

Tanda Tanya Jelang Perundingan dengan AS

Isu kondisi Mojtaba Khamenei juga muncul bersamaan dengan dimulainya perundingan perdamaian penting dengan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Di tengah negosiasi sensitif itu, absennya figur utama dalam struktur kepemimpinan Iran membuat banyak pihak mencermati arah kebijakan Teheran.

Sumber yang dikutip Reuters menyebut penampilan publik Mojtaba mungkin baru akan dirilis dalam satu hingga dua bulan mendatang, tergantung pada kondisi kesehatan dan situasi keamanan. Sampai saat itu, pertanyaan tentang cedera, kemungkinan kehilangan satu kaki, dan sejauh mana ia benar-benar memimpin Iran masih terus membayangi panggung politik negara tersebut.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button