Universitas Darurat Di Gaza Hidup Lagi, Harapan Belajar Di Tengah Puing Dan Blokade

Di tengah puing-puing dan kamp pengungsian di Jalur Gaza, sebuah ruang kuliah darurat memberi kesempatan baru bagi ribuan mahasiswa untuk kembali belajar. Inisiatif itu bernama “University City”, fasilitas akademik sementara yang dibangun Scholars Without Borders di al-Mawasi, Khan Younis, untuk memulihkan sedikit ritme pendidikan yang nyaris hilang akibat perang.

Keberadaan kampus darurat ini menjadi penting karena banyak universitas di Gaza rusak berat atau hancur, sementara perkuliahan tatap muka hampir tak mungkin dilakukan. Bagi mahasiswa yang hidup di tenda, akses listrik, internet, air, dan transportasi masih menjadi tantangan harian, sehingga ruang belajar sederhana pun kini terasa seperti kemewahan.

Ruang kuliah yang dibangun dari keterbatasan

University City berdiri dari material yang sangat terbatas, termasuk kayu dan lembaran logam yang dikumpulkan dari dalam Gaza. Meski sederhana, lokasi ini dirancang agar lebih mirip lingkungan akademik ketimbang pos pengungsian biasa.

Hamza Abu Daqqa, perwakilan Scholars Without Borders di Gaza, mengatakan tujuan utama program ini adalah mendekatkan pendidikan kepada mahasiswa dalam lingkungan yang lebih layak. Ia menyebut fasilitas itu memiliki enam ruang belajar dan bisa menampung hingga 600 mahasiswa per hari.

Bangunan tersebut juga dilengkapi akses internet yang ditopang panel surya, area hijau sederhana, dan sebuah inkubator bisnis kecil. Kombinasi itu dipakai untuk membantu mahasiswa tetap terhubung dengan studinya sekaligus memikirkan masa depan di luar perang.

Jadwal bergilir untuk banyak kampus

Scholars Without Borders menjalankan University City dengan sistem jadwal mingguan bergilir. Setiap hari dialokasikan untuk institusi akademik yang berbeda agar ruang terbatas itu bisa dipakai bersama oleh sebanyak mungkin mahasiswa.

Dalam praktiknya, kampus-kampus di Gaza memprioritaskan mata kuliah yang paling membutuhkan tatap muka. Kelas praktikum, diskusi, dan pembelajaran keterampilan langsung menjadi fokus utama karena sulit digantikan lewat layar.

Berikut beberapa institusi yang sudah memanfaatkan ruang tersebut:

  1. Islamic University
  2. Al-Azhar University
  3. Palestine College of Nursing

Skema ini membantu menjaga kesinambungan belajar di tengah infrastruktur pendidikan yang hancur dan distribusi layanan akademik yang sangat terbatas.

Mahasiswa merasakan kembali suasana kampus

Bagi banyak mahasiswa, pengalaman duduk di kelas darurat ini terasa seperti kembali ke kehidupan kampus yang selama ini hilang. Mariam Nasr, 20 tahun, mahasiswi tahun pertama keperawatan yang mengungsi dari Rafah, mengatakan ia terkesan saat pertama kali masuk ke ruang belajar itu.

Ia menyebut suasana belajar sebelum perang jauh lebih normal karena rumah, listrik, bahan belajar, dan keamanan masih tersedia. Namun selama lebih dari dua tahun terakhir, hidupnya berubah total dan studi harus dijalani dalam kondisi terputus-putus.

Mariam sempat menyelesaikan ujian sekolah menengah atas di tengah situasi perang sebelum akhirnya bisa masuk universitas. Ia sebenarnya ingin kuliah kedokteran, tetapi hasil belajarnya terdampak kondisi perang, sehingga ia memilih keperawatan sebagai jalan untuk tetap membantu sesama.

Amr Muhammad, 20 tahun, mahasiswa tahun pertama keperawatan asal kamp pengungsi al-Magahzi di Gaza tengah, juga merasakan perbedaan yang besar. Ia mengaku semula membayangkan tempat itu hanya berupa tenda dan perlengkapan seadanya, tetapi kehadiran kelas tatap muka membuat pengalaman belajarnya jauh lebih bermakna.

Perjalanan ke kelas masih sangat berat

Meski kampus darurat itu memberikan harapan, mahasiswa tetap harus melewati perjalanan yang sulit untuk sampai ke sana. Jalan rusak, bahan bakar langka, dan transportasi yang mahal memaksa banyak orang menempuh perjalanan panjang dengan kendaraan tua atau berjalan kaki.

Mariam mengatakan kelasnya dimulai pukul 9 pagi, tetapi ia harus bangun pukul 5 pagi hanya untuk mencari transportasi. Ketika ia tidak mendapat kendaraan, ia terpaksa berjalan hampir empat kilometer bersama teman-temannya.

Amr juga mengalami hal serupa. Ia berangkat pukul 6 pagi dan menunggu sekitar dua jam sebelum menemukan kendaraan yang penuh sesak. Bagi mahasiswa seperti dia, perjalanan ke kelas sering kali lebih melelahkan daripada perkuliahannya sendiri.

Setelah jam belajar selesai, tantangan belum berakhir. Di tenda pengungsian, mereka kembali menghadapi listrik yang tidak stabil, internet yang buruk, dan alat belajar yang terbatas.

Data kerusakan pendidikan tinggi di Gaza

Skala kehancuran sektor akademik Gaza tergolong sangat besar. Menurut para ahli PBB, penghancuran sistem pendidikan di wilayah itu telah mencapai tingkat yang disebut sebagai scholasticide, yakni penghancuran sistematis terhadap pendidikan melalui penargetan lembaga, mahasiswa, dosen, dan kehidupan akademik.

Data dari Euro-Med Human Rights Monitor serta informasi yang disampaikan pejabat Palestina menunjukkan lebih dari 7.000 mahasiswa universitas dan akademisi tewas atau घायल akibat serangan Israel. Lebih dari 60 bangunan universitas juga dilaporkan hancur total karena serangan udara atau ledakan darat.

Berikut ringkasan fakta pentingnya:

Temuan pentingData
Mahasiswa dan akademisi yang tewas atau terlukaLebih dari 7.000
Bangunan universitas yang hancur totalLebih dari 60
Kapasitas University CityHingga 600 mahasiswa per hari
Jumlah ruang belajar di University City6 ruang

Kerusakan itu membuat ratusan ribu mahasiswa kehilangan akses ke pendidikan formal dan memaksa mereka bergantung pada alternatif belajar yang jauh dari ideal.

Pentingnya pendidikan tatap muka bagi bidang keperawatan

Dr. Essam Mughari, dosen di Palestine College of Nursing, menegaskan bahwa pendidikan medis tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran daring. Ia mengatakan praktik langsung, keterlibatan kelas, dan interaksi dengan dosen tetap menjadi bagian penting dalam pelatihan tenaga kesehatan.

Menurutnya, kembali berkumpul di ruang belajar memberi dampak emosional yang besar bagi mahasiswa. Ia menilai menjaga pendidikan tetap berjalan adalah tanggung jawab bersama karena para mahasiswa hari ini akan menjadi tenaga profesional masa depan.

Di sisi lain, dorongan untuk bertahan juga datang dari pengalaman pribadi mahasiswa. Mariam mengatakan ia tergerak terus belajar karena ingin menempuh jalan untuk menyembuhkan orang lain, sekaligus mengenang anggota keluarganya yang menjadi korban serangan udara di Gaza City.

Inisiatif yang masih jauh dari cukup

Scholars Without Borders menyebut University City baru langkah awal dari kebutuhan pendidikan yang jauh lebih besar di Gaza. Organisasi itu juga telah membangun sejumlah sekolah darurat, tetapi kapasitasnya masih sangat terbatas dibanding jumlah pelajar yang kehilangan akses belajar.

Abu Daqqa menegaskan seluruh material yang digunakan berasal dari dalam Gaza karena blokade dan keterbatasan pasokan. Ia mengatakan biaya yang meningkat dan kelangkaan sumber daya membuat pembangunan berjalan sulit, tetapi upaya itu tetap dilakukan agar mahasiswa merasakan kembali sedikit normalitas.

Di tengah kehancuran yang masih meluas, ruang belajar darurat ini menjadi penanda bahwa pendidikan belum benar-benar padam di Gaza. Selama akses ke kampus formal masih tertutup, University City dan inisiatif serupa akan tetap memikul peran penting untuk menjaga mahasiswa tetap terhubung dengan bangku kuliah, dosen, dan harapan akan masa depan akademik yang belum sepenuhnya hilang.

Berita Terkait

Back to top button