Aku Stres Banyak Suara Ledakan, Trauma Anak Iran di Tengah Perang Tak Kunjung Reda

Gencatan senjata memang meredakan bunyi ledakan, tetapi tidak serta-merta menghapus ketakutan yang tertanam di benak anak-anak Iran. Di banyak rumah, suara pintu yang terbanting, benda jatuh, atau deru pesawat masih memicu panik, mimpi buruk, dan reaksi berlebihan yang menandai trauma perang.

Kisah Ali, remaja 15 tahun yang dikutip BBC, menggambarkan dampak itu dengan sangat jelas. Ia mengaku stres oleh banyak suara ledakan dan kini sangat sensitif terhadap bunyi kecil karena otaknya terus siaga setelah mendengar serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Trauma yang Menempel Setelah Bom Henti

Para ahli psikologi menyebut kondisi seperti yang dialami Ali sebagai hyper arousal, yakni keadaan waspada berlebihan yang sering menjadi tanda awal gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Dalam situasi ini, tubuh anak seperti sulit kembali ke rasa aman, walaupun ancaman fisik sudah tidak lagi terdengar di sekitar mereka.

Data yang dikutip dari laporan tersebut menunjukkan lebih dari 20 persen penduduk Iran adalah anak-anak di bawah usia 14 tahun. Artinya, jutaan anak berada dalam kelompok rentan yang berisiko mengalami gangguan psikologis jangka panjang akibat paparan kekerasan perang.

Rumah yang Tak Lagi Memberi Rasa Aman

Ali tidak hanya memikirkan ancaman dari luar, tetapi juga dampaknya terhadap keluarganya sendiri. Ayahnya kehilangan pekerjaan akibat konflik, sementara ibunya hidup dalam kecemasan akut setiap kali jet tempur melintas di atas kota.

Situasi itu membuat ruang keluarga yang biasanya menjadi tempat pemulihan justru berubah menjadi sumber tekanan baru. Ali juga mengaku kehilangan kontak dengan teman-temannya, padahal pada usia remaja ia seharusnya belajar, berinteraksi, dan membangun masa depan yang lebih stabil.

Gejala yang Muncul pada Anak

Bantuan psikososial menjadi kebutuhan mendesak di tengah perang dan ketidakpastian politik. Lembaga bantuan di Tehran melaporkan banyak orang tua mencari pertolongan medis karena anak-anak mereka mulai menunjukkan gangguan tidur, mimpi buruk, hingga perilaku agresif.

  1. Sulit tidur dan sering terbangun karena mimpi buruk.
  2. Mudah terkejut oleh suara keras atau gerakan mendadak.
  3. Menarik diri dari lingkungan sosial dan aktivitas harian.
  4. Menunjukkan kecemasan berlebihan atau rasa takut yang menetap.
  5. Menjadi lebih agresif atau mudah marah.

Aysha, seorang konselor di pusat hak asasi manusia, mengatakan kepada para orang tua untuk menciptakan suasana yang lebih tenang di rumah. Ia juga mendorong mereka tetap mengajak anak bermain agar perhatian mereka tidak terus tertuju pada situasi mencekam di luar.

Korban Anak dan Rekrutmen Milisi

Di tengah kerusakan psikologis tersebut, perang juga menelan korban jiwa anak-anak. Human Rights Activists News Agency atau HRANA mencatat sedikitnya 254 anak tewas dari total 3.636 korban jiwa, angka yang menunjukkan anak-anak ikut menanggung beban paling berat dari konflik bersenjata.

Amnesty International mengecam kebijakan otoritas Iran yang mendorong keterlibatan anak dalam struktur milisi sukarelawan Basij. Lembaga itu menilai tindakan tersebut melanggar hak anak dan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, bahkan setara dengan kejahatan perang.

Pemerintah setempat disebut sempat menyampaikan narasi yang membingkai keterlibatan anak dalam patroli atau pos pemeriksaan sebagai jalan menjadi “pahlawan” dan membentuk maskulinitas. Namun, banyak orang tua justru menolak keras gagasan itu karena anak belum mampu memahami risiko perang secara utuh.

Orang Tua Berusaha Melindungi Anak

Noor, warga Tehran yang dikutip dalam laporan itu, memilih membawa anak tunggalnya meninggalkan kota agar terhindar dari serangan maupun rekrutmen paksa. Ia menilai anak usia 12 tahun belum bisa mengambil keputusan yang matang dan mudah menganggap perang seperti permainan.

Pandangan ini memperlihatkan kekhawatiran yang meluas di kalangan keluarga sipil. Banyak orang tua tidak hanya takut anak mereka terluka oleh serangan, tetapi juga khawatir mereka terseret ke lingkungan militeristik yang bisa meninggalkan kerusakan mental permanen.

Dampak Jangka Panjang bagi Generasi Muda

Luka perang pada anak tidak berhenti pada saat gencatan senjata diumumkan. Para pengamat hak asasi manusia menilai paparan ledakan, kehilangan anggota keluarga, perpindahan paksa, hingga ancaman perekrutan milisi dapat mengganggu perkembangan emosi, kemampuan belajar, dan rasa aman anak dalam jangka panjang.

Berikut sejumlah risiko yang paling sering dikhawatirkan dari anak yang tumbuh di tengah konflik:

  1. PTSD dan kecemasan kronis.
  2. Gangguan konsentrasi dan penurunan prestasi belajar.
  3. Relasi sosial yang terganggu karena isolasi dan rasa takut.
  4. Masalah perilaku, termasuk agresivitas atau penarikan diri ekstrem.
  5. Kesulitan membangun rasa aman meski perang sudah mereda.

Dalam konteks Iran, kekerasan yang melibatkan kekuatan asing dan kebijakan domestik yang menyeret anak ke lingkungan paramiliter membuat pemulihan menjadi jauh lebih rumit. Selama rasa aman belum kembali dan layanan kesehatan mental belum benar-benar menjangkau keluarga, banyak anak masih akan hidup dalam bayang-bayang ledakan, ketakutan, dan ingatan yang sulit hilang.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button