
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak memiliki kata menyerah saat berbicara di markas besar Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran di Teheran, Rabu (15/4). Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan baru Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, setelah serangan yang disebut Teheran menyasar fasilitas sipil di wilayahnya.
Pezeshkian menyebut serangan terhadap sekolah dan pusat kesehatan sebagai tindakan yang melanggar prinsip kemanusiaan. Ia juga menilai dunia tidak boleh diam ketika fasilitas sipil menjadi sasaran dalam konflik bersenjata.
Pezeshkian Soroti Serangan ke Fasilitas Sipil
Dalam pidatonya, Pezeshkian mengecam penargetan tempat-tempat yang menurutnya tidak memiliki kaitan langsung dengan operasi militer. Ia menegaskan bahwa serangan seperti itu menunjukkan pelanggaran terhadap kerangka kerja kemanusiaan yang semestinya dihormati semua pihak.
Menurut dia, tindakan yang menargetkan sekolah dan pusat kesehatan tidak bisa dibenarkan dalam situasi apa pun. Ia menyebut perbuatan tersebut memalukan dan harus menjadi perhatian komunitas internasional.
Iran Tolak Tekanan dan Ancaman AS-Israel
Pezeshkian menekankan bahwa tidak ada kekuatan yang mampu memaksa Iran menyerah. Ia menyampaikan pesan itu di hadapan personel Bulan Sabit Merah Iran sebagai bentuk penegasan sikap politik Teheran di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Ia juga mengkritik sikap Amerika Serikat dan Israel yang menurutnya mengira Iran bisa ditundukkan hanya dalam beberapa hari. Dalam pernyataannya, Pezeshkian mengatakan justru Washington yang kini terjebak dan tidak tahu langkah berikutnya.
Kecam Diamnya Sejumlah Negara
Presiden Iran itu juga menyoroti sikap diam sebagian negara terhadap tindakan AS dan Israel. Ia menilai pembiaran seperti itu memperlemah posisi hukum internasional dan membuat pelanggaran terlihat seolah dapat dibiarkan.
Kritik tersebut menambah panas hubungan Iran dengan negara-negara Barat yang selama ini kerap berbeda pandangan soal program nuklir, keamanan regional, dan konflik Timur Tengah. Pernyataan Pezeshkian memperlihatkan bahwa Teheran ingin mempertahankan posisi keras di tengah tekanan diplomatik yang terus berkembang.
Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya
Pezeshkian menanggapi santai blokade AS di Selat Hormuz dengan menyebut langkah itu justru akan menciptakan masalah bagi Washington, bukan Iran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut strategis bagi pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini biasanya memicu kekhawatiran pasar global.
Dalam konteks geopolitik, ancaman atau pembatasan di Selat Hormuz selalu dipantau ketat karena berdampak pada arus perdagangan energi internasional. Iran selama ini kerap menggunakan posisi geografisnya di kawasan itu sebagai salah satu faktor tawar dalam menghadapi tekanan lawan-lawannya.
Rangkaian Peristiwa yang Memicu Ketegangan
- Gencatan senjata selama dua pekan diumumkan pada 8 April.
- Langkah itu menyusul perundingan damai Iran dan delegasi AS di Islamabad pada akhir pekan sebelumnya.
- Perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan.
- AS kemudian memberlakukan blokade di Selat Hormuz.
- Iran merespons dengan pernyataan keras dari Presiden Masoud Pezeshkian.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa situasi belum benar-benar mereda meski ada upaya dialog. Ketegangan masih berlanjut karena kedua pihak belum menemukan titik temu yang dapat diterima bersama.
Pesan Politik dari Teheran
Pernyataan Pezeshkian juga dapat dibaca sebagai pesan politik domestik dan internasional. Di dalam negeri, ia tampil sebagai pemimpin yang berupaya menjaga semangat perlawanan nasional, sementara di luar negeri ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun ekonomi.
Sikap itu sejalan dengan cara Teheran selama ini mengelola krisis, yakni membangun narasi kedaulatan dan ketahanan nasional. Dalam situasi seperti ini, setiap pernyataan dari pimpinan Iran tidak hanya ditujukan kepada lawan, tetapi juga kepada publik dalam negeri yang ingin melihat pemerintah tetap tegas.
Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya
- Respons resmi AS dan Israel atas pernyataan terbaru Pezeshkian.
- Dampak blokade Selat Hormuz terhadap perdagangan dan harga energi.
- Kelanjutan gencatan senjata dua pekan yang diumumkan pada 8 April.
- Kemungkinan kembalinya jalur negosiasi Iran-AS setelah perundingan di Islamabad gagal.
- Perkembangan situasi keamanan fasilitas sipil di Iran dan kawasan sekitarnya.
Sejauh ini, ucapan Pezeshkian menegaskan bahwa Iran masih memilih jalur perlawanan keras di tengah tekanan asing. Dengan sorotan dunia yang tertuju ke Timur Tengah, pernyataan soal “tidak ada kata menyerah” menjadi sinyal bahwa Teheran belum siap melunak dalam menghadapi AS dan Israel.
Source: mediaindonesia.com




