Tekanan Washington Ke Taipei, Uji Nasib Paket Pertahanan Taiwan Di Parlemen

Utusan utama Amerika Serikat di Taiwan mendesak parlemen pulau itu untuk segera meloloskan paket anggaran pertahanan yang disebut “komprehensif”. Peringatan tersebut muncul ketika pembahasan di legislatif yang dikuasai oposisi masih tersendat, sementara Taipei menilai penundaan bisa mengganggu kemampuan pertahanannya untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Raymond Greene, yang memimpin American Institute in Taiwan dan menangani hubungan tidak resmi Washington-Taipei, mengatakan paket itu penting agar Taiwan bisa memperoleh seluruh kemampuan pertahanan yang diminta. Ia menekankan bahwa sistem pertahanan udara dan rudal terintegrasi, serta drone, kini sangat penting dan dibutuhkan banyak negara di dunia.

Dorongan Washington untuk paket yang lebih luas

Dalam wawancara dengan China Times, Greene menyebut persetujuan anggaran yang menyeluruh akan mengirim sinyal penting ke komunitas internasional. Menurut dia, persetujuan itu juga akan memastikan Taiwan mendapatkan rangkaian kemampuan pertahanan secara penuh, bukan hanya sebagian.

Dorongan itu sejalan dengan proposal Presiden Taiwan Lai Ching-te yang mengusulkan belanja pertahanan tambahan senilai 40 miliar dolar. Paket tersebut tidak hanya mencakup senjata baru dari Amerika Serikat, tetapi juga persenjataan buatan dalam negeri seperti drone.

Lai sebelumnya menyatakan bahwa Taiwan perlu meningkatkan daya tangkal terhadap ancaman dari China. Beijing menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, sedangkan Lai menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau itu.

Pembahasan di parlemen masih tersendat

Meski ada dukungan terhadap peningkatan anggaran pertahanan, pembahasan di parlemen belum bergerak mulus. Partai oposisi utama, Kuomintang atau KMT, menyatakan tidak akan menandatangani “cek kosong” dan meminta rincian lebih jelas dari pemerintah.

Sikap itu membuat upaya untuk membawa proposal tersebut ke tahap berikutnya tertahan. Di sisi lain, pemerintah Taiwan memperingatkan bahwa keterlambatan persetujuan bisa membuat pulau itu kehilangan posisi dalam antrean produksi dan pengiriman senjata dari Amerika Serikat.

Greene juga menyinggung bahwa sejumlah sistem yang diminta Taiwan sedang sangat diburu secara global. Ia merujuk pada pengalaman di Timur Tengah dan Ukraina sebagai bukti bahwa sistem-sistem itu kini menjadi kebutuhan penting di banyak medan konflik.

Kekhawatiran atas tekanan keamanan dari China

Di parlemen pada hari Senin, Menteri Pertahanan Wellington Koo mengatakan ancaman yang dihadapi Taiwan bukan sekadar “omong kosong sembarangan”. Ia menunjuk keberadaan kapal perang China yang terlihat dalam beberapa hari terakhir di perairan barat daya Kepulauan Penghu di Selat Taiwan.

Koo menambahkan bahwa isu anggaran pertahanan menyangkut “kelangsungan hidup” Taiwan. Pernyataan itu mempertegas pandangan pemerintah bahwa penguatan kemampuan militer tidak bisa ditunda terlalu lama di tengah meningkatnya tekanan keamanan di sekitar pulau.

Sementara itu, Ketua KMT Cheng Li-wun menegaskan Taiwan tidak boleh dipaksa memilih antara China dan Amerika Serikat. Dalam pernyataan di radio lokal pada Senin, ia mengatakan dunia juga mengkhawatirkan kemungkinan perang antara China dan Taiwan.

Peran Amerika Serikat tetap krusial

Amerika Serikat tetap menjadi pendukung internasional terpenting Taiwan sekaligus pemasok senjata utama. Pada Desember, Washington mengumumkan paket senjata senilai 11 miliar dolar, yang menjadi paket terbesar yang pernah diberikan untuk Taipei.

Namun, hubungan pertahanan Taiwan dengan Washington juga terus memicu ketegangan dengan Beijing. China berulang kali menuntut Amerika Serikat menghentikan penjualan senjata ke Taiwan, sementara Taipei terus mendorong dukungan yang dianggap perlu untuk menjaga daya gentar menghadapi tekanan militer di kawasan.

Terkait