Dua Eks PM Israel Bersatu Lawan Netanyahu, Partai Beyahad Uji Kekuatan Oposisi

Naftali Bennett dan Yair Lapid bergerak bersama untuk membangun kekuatan politik baru yang ditujukan langsung ke jantung kekuasaan Benjamin Netanyahu. Keduanya membentuk Partai Beyahad sebagai kendaraan oposisi untuk menyatukan suara anti-Netanyahu menjelang pemilu nasional pada bulan Oktober.

Langkah ini langsung menarik perhatian karena Bennett dan Lapid pernah berada di kubu berbeda, tetapi kini memilih berdiri dalam satu barisan. Keduanya menempatkan isu pertanggungjawaban atas kegagalan negara dalam serangan 7 Oktober 2023 sebagai salah satu agenda utama.

Koalisi baru untuk menekan Netanyahu

Partai Beyahad lahir dengan pesan politik yang tegas, yakni menghadirkan perubahan kepemimpinan. Bennett menyebut langkah itu sebagai keputusan “paling Zionis dan patriotik” yang pernah dilakukan untuk negara Israel, sekaligus jalan untuk membuka “era baru” bagi negaranya.

Pernyataan itu menandai upaya serius untuk mengonsolidasikan oposisi dalam satu wadah yang lebih besar. Di tengah dominasi Likud yang telah bertahan selama belasan tahun, penyatuan Bennett dan Lapid dipandang sebagai ancaman politik yang nyata.

Bennett juga menegaskan bahwa partai barunya akan mendorong kemenangan besar. Ia menempatkan pembentukan partai ini sebagai cara untuk menata ulang peta kekuatan politik Israel.

Sorotan pada kegagalan keamanan

Salah satu fokus utama Beyahad adalah tuntutan agar pemerintah menyelidiki kegagalan intelijen dan keamanan saat serangan besar pada 7 Oktober 2023. Bennett berjanji membentuk komisi penyelidikan nasional, sesuatu yang selama ini ditolak kabinet Netanyahu.

Isu ini menjadi daya tarik politik karena menyentuh kekecewaan publik atas lambannya akuntabilitas negara. Narasi pertanggungjawaban itu bisa menjadi modal penting untuk menarik pemilih yang merasa sistem keamanan telah gagal melindungi warga.

Lapid ikut menguatkan pesan tersebut dengan menyebut Bennett sebagai politisi sayap kanan yang jujur. Ia menilai ada kepercayaan di antara keduanya untuk mendorong perubahan yang dibutuhkan Israel.

Upaya memperluas basis dukungan

Kerja sama Bennett dan Lapid tidak berhenti pada dua nama itu saja. Mereka juga merangkul Gadi Eisenkot dari Partai Yashar untuk memperluas dukungan di tengah peta politik yang terfragmentasi.

Langkah itu menunjukkan bahwa Beyahad tidak hanya ingin menjadi simbol perlawanan terhadap Netanyahu. Koalisi baru ini juga berusaha tampil sebagai blok yang mampu mengumpulkan pemilih dari berbagai spektrum, terutama mereka yang menginginkan alternatif pemerintahan.

Lapid menulis di media sosial X bahwa penyatuan itu menciptakan “Blok Perbaikan” yang dapat memusatkan upaya untuk membawa Israel menuju kondisi yang lebih baik. Nada itu memperlihatkan bahwa koalisi ini ingin tampil bukan sekadar sebagai oposisi, tetapi sebagai proyek pemulihan nasional.

Latar belakang dua tokoh yang kini satu panggung

Bennett dikenal sebagai mantan perwira komando dan pengusaha teknologi yang punya daya tarik di mata pemilih muda. Ia juga pernah menjadi penasihat Netanyahu, tetapi kemudian berkembang menjadi salah satu pengkritik paling konsisten terhadap mantan mentornya.

Lapid membawa latar belakang berbeda sebagai jurnalis senior yang kemudian menancapkan pengaruh di parlemen melalui Yesh Atid. Kombinasi pengalaman keduanya memberi koalisi baru ini modal politik yang cukup kuat untuk menantang status quo.

Rekam jejak mereka saat memimpin koalisi pelangi pada 2021 juga masih menjadi referensi penting. Saat itu, mereka berhasil menunjukkan bahwa blok yang beragam pun bisa menggusur dominasi sayap kanan, meski pemerintahan tersebut akhirnya runtuh pada akhir tahun 2022.

Pertarungan yang kembali terbuka

Kembalinya Netanyahu ke tampuk kekuasaan menambah intensitas persaingan politik di Israel. Netanyahu tetap menjadi pemimpin terlama dalam sejarah Israel dengan total 18 tahun masa jabatan dalam berbagai periode.

Kini, tekanan terhadap pemerintahan yang dipimpinnya meningkat setelah serangan Hamas dan munculnya pertanyaan publik soal kapasitas kepemimpinan nasional. Di titik inilah Beyahad mencoba masuk sebagai simbol perubahan di tengah kebuntuan politik yang berlarut-larut.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru, Bennett disebut sebagai figur yang paling berpeluang besar merebut kursi perdana menteri berikutnya. Sementara itu, pemilu yang dijadwalkan paling lambat akhir Oktober 2026 akan menjadi arena utama pertarungan antara kelanjutan status quo dan dorongan untuk membangun kepemimpinan baru.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button