Organisasi Kesehatan Dunia menyebut ada kecurigaan penularan hantavirus dari manusia ke manusia di antara kontak yang sangat dekat di atas kapal pesiar mewah yang kini mengalami wabah. Meski begitu, WHO menegaskan risiko bagi masyarakat luas tetap rendah karena penyakit ini biasanya menyebar lewat kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.
Kekhawatiran utama saat ini berpusat pada tujuh kasus hantavirus yang terkonfirmasi atau masih diduga di kapal MV Hondius. Di antara kasus itu, tiga orang sudah meninggal, sementara satu warga negara Inggris dievakuasi dan kini dirawat intensif di Afrika Selatan.
Fokus pada kontak sangat dekat
Maria Van Kerkhove, direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, mengatakan penularan yang mungkin terjadi tampaknya terbatas pada orang-orang yang sangat dekat. Ia menyebut pasangan suami-istri dan penumpang yang berbagi kabin sebagai kelompok yang paling mungkin terpapar.
WHO juga menyampaikan bahwa tidak biasa ada penularan antarmanusia pada hantavirus. Namun, pola seperti itu pernah terlihat pada beberapa wabah sebelumnya dengan strain Andes, yang beredar di Amerika Selatan termasuk Argentina, dan strain itulah yang menurut WHO mungkin terlibat dalam kasus ini.
Asal kasus masih ditelusuri
WHO menyatakan dugaan awal untuk pasangan asal Belanda adalah mereka sudah terinfeksi sebelum naik kapal. Keduanya bergabung dengan pelayaran setelah bepergian di Argentina, tempat kapal itu memulai perjalanan dari Ushuaia di bagian selatan negara tersebut pada Maret.
Otoritas kesehatan juga mempertimbangkan kemungkinan penumpang lain tertular saat kunjungan pengamatan burung ke pulau-pulau yang dihuni burung dan hewan pengerat. Sampel masih diperiksa untuk memastikan strain virus yang terlibat.
Evakuasi masih jadi prioritas
Menurut Van Kerkhove, prioritas saat ini adalah mengevakuasi dua penumpang sakit yang masih berada di kapal. Setelah itu, rencananya kapal akan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary, meski keputusan akhir dari pihak Spanyol belum ditetapkan.
Kementerian Kesehatan Spanyol menyebut keputusan menerima kapal itu masih menunggu data yang dikumpulkan dari kapal. Sebuah tim epidemiolog dijadwalkan memeriksa kapal pada sore hari.
Kapal masih tertahan di lepas Tanjung Verde
MV Hondius terdampar di lepas pantai Cape Verde, negara kepulauan di Atlantik barat Afrika, dan belum diizinkan menurunkan penumpang ke daratan. Sekitar 150 orang masih berada di kapal itu, yang membawa terutama penumpang asal Inggris, Amerika Serikat, dan Spanyol.
Pelayaran mewah tersebut berangkat dari ujung selatan Argentina pada akhir Maret dan dipasarkan sebagai ekspedisi alam Antarktika. Harga kabin dilaporkan berada di kisaran 14.000 hingga 22.000 euro, atau sekitar 16.000 sampai 25.000 dolar AS.
Kasus dan penanganan medis
Korban pertama, seorang pria asal Belanda, meninggal pada 11 April. Jenazahnya baru diturunkan dari kapal pada 24 April di St Helena, dengan sang istri ikut dalam proses repatriasi.
Istri pria itu kemudian memburuk saat penerbangan menuju Johannesburg dan meninggal saat tiba di unit gawat darurat pada 26 April. WHO mengatakan penelusuran kontak untuk penumpang di penerbangan itu sedang berlangsung.
Otoritas Afrika Selatan telah mengonfirmasi bahwa pasien asal Inggris yang dirawat di rumah sakit Johannesburg positif hantavirus. Belanda juga telah mengonfirmasi virus itu pada perempuan Belanda yang meninggal.
Pemeriksaan laboratorium terus berjalan
Institusi Penyakit Menular Nasional Afrika Selatan sedang menyusun urutan genetik virus, dengan hasil yang mungkin tersedia pada Rabu. Institut Pasteur di Senegal juga membantu upaya pengujian dan konfirmasi kasus yang masih dicurigai.
WHO memperkirakan ada antara 10.000 hingga 100.000 kasus hantavirus setiap tahun. Argentina masih menjadi negara dengan kasus terbanyak di kawasan Amerika menurut WHO, dengan tingkat kematian sekitar 32% yang lebih tinggi dari rata-rata dan lebih tinggi dibanding strain virus lain.
