Ketegangan di Selat Hormuz berubah menjadi tragedi setelah kapal sipil yang membawa barang dari Oman menuju Iran ditembak pasukan Amerika Serikat. Lima orang dilaporkan tewas dalam insiden itu, yang langsung memicu saling bantah antara Washington dan Teheran.
Peristiwa tersebut terjadi di jalur pelayaran yang sangat penting bagi arus logistik internasional. Laporan korban jiwa itu disampaikan kantor berita Iran, Tasnim News Agency, pada Selasa waktu setempat.
Insiden di jalur pelayaran Khasab-Iran
Kapal sipil yang menjadi sasaran disebut tengah berlayar dari Khasab, Oman, menuju wilayah kedaulatan Iran. Dalam laporan yang beredar, dua kapal sipil yang mengangkut barang ditembaki pasukan bersenjata Amerika Serikat saat melintas di perairan strategis itu.
Penembakan tersebut menambah panas situasi di kawasan yang memang sudah lama sensitif secara geopolitik. Selat Hormuz kembali menjadi sorotan karena setiap gangguan di wilayah ini dapat berdampak pada keamanan pelayaran dan stabilitas kawasan.
Klaim Amerika Serikat dan bantahan Iran
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan tindakannya merupakan respons atas provokasi bersenjata dari pihak Iran. Pada Senin (4/5), CENTCOM mengklaim Iran menembaki kapal perang AS dan kapal komersial, sehingga Amerika membalas tembakan dan menghancurkan kapal-kapal kecil milik Iran.
Gedung Putih juga menyebut penghancuran armada kecil itu sebagai upaya untuk menetralisir ancaman terhadap kapal komersial internasional. Namun, militer Iran membantah keras narasi tersebut melalui saluran televisi resmi IRIB.
Sumber militer senior setempat menegaskan bahwa klaim keberhasilan operasi Amerika terhadap kapal bersenjata merupakan kekeliruan data. Iran juga menyampaikan klaim balik bahwa mereka sempat melakukan tindakan preventif untuk menghalau kapal Amerika masuk ke Selat Hormuz.
Project Freedom dan pengerahan kekuatan militer AS
Tragedi ini berakar dari pengumuman Presiden Donald Trump terkait operasi militer khusus bernama Project Freedom. Pada Minggu (3/5), Trump mengumumkan operasi itu untuk membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz agar bisa meninggalkan kawasan tersebut.
Untuk mendukung misi itu, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar ke wilayah konflik. CENTCOM menyebut dukungan tersebut mencakup kapal rudal perusak dengan pemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer.
Seluruh kekuatan itu dilaporkan mulai beroperasi aktif sejak Senin pagi. Kehadiran armada besar Amerika memicu kekhawatiran baru di kawasan yang sudah lama menjadi titik rawan benturan militer.
Serangan rudal dan situasi yang makin kabur
Di tengah kekacauan informasi, muncul pula laporan tentang serangan rudal terhadap armada perang Amerika Serikat. IRIB melaporkan bahwa Teheran sempat mengambil tindakan untuk mencegah kapal Amerika masuk ke Selat Hormuz.
Militer Iran kemudian mengklaim telah menghantam satu kapal perang Amerika Serikat menggunakan dua rudal. Klaim tersebut langsung dibantah oleh CENTCOM pada hari yang sama, sehingga situasi di lapangan tetap dipenuhi versi yang saling bertolak belakang.
Presiden Trump juga dilaporkan mengancam Iran dengan konsekuensi berat jika Teheran menyerang kapal-kapal Amerika di dekat Selat Hormuz. Pernyataan itu memperkuat kesan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan penuh untuk menjaga kepentingannya di perairan tersebut.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda penurunan ketegangan meski korban jiwa dari kalangan sipil sudah jatuh dalam peristiwa penembakan kapal di rute Khasab. Selat Hormuz pun tetap berada dalam sorotan sebagai salah satu titik paling berbahaya bagi keamanan regional dan lalu lintas ekonomi dunia.
