Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.300 Orang, Paris Tuding Emisi AS Memperparah Krisis

Author: Qoo Media

Seorang pejabat Paris menuding Amerika Serikat ikut bertanggung jawab atas gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dan disebut telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Kritik itu muncul setelah sejumlah warga dan tokoh asal AS mempersoalkan minimnya penggunaan pendingin udara di Paris saat suhu tinggi melanda kawasan tersebut.

Wakil Wali Kota Paris Bidang Hubungan Internasional, Audrey Pulvar, menilai serangan kritik dari jurnalis dan influencer Amerika terhadap Paris tidak melihat persoalan yang lebih besar, yakni krisis iklim. Dalam pernyataannya di Instagram, Pulvar menyebut tudingan soal ketiadaan AC di setiap ruangan sebagai hal yang “menggelikan” di tengah kondisi panas ekstrem yang jauh lebih luas dampaknya.

Sorotan ke emisi AS

Pulvar kemudian mengaitkan kritik itu dengan besarnya emisi gas rumah kaca AS. Ia menyebut negara tersebut memikul tanggung jawab signifikan atas pemanasan global yang ikut memicu cuaca ekstrem di Eropa.

Data Our World in Data menunjukkan AS menyumbang sekitar 13% emisi CO2 global, atau terbesar kedua di dunia setelah China yang mencapai sekitar 32%. Di sisi lain, 27 negara anggota Uni Eropa secara gabungan menyumbang sekitar 6% emisi CO2 global.

Pernyataan Pulvar juga menyinggung gaya hidup energi tinggi di sejumlah kota Amerika. Ia mengingatkan bahwa banyak kota di AS sangat bergantung pada pendingin udara, berbeda dengan kota-kota di Eropa yang tingkat penggunaannya jauh lebih rendah.

Gelombang panas memukul Eropa

Gelombang panas yang datang dalam beberapa hari terakhir disebut sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah di Eropa. Di Prancis, suhu di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai 44 derajat celsius saat kondisi panas terus menekan berbagai negara.

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan gelombang panas itu telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian di berbagai negara Eropa. Angka tersebut menegaskan bahwa dampaknya tidak hanya terasa pada kenyamanan warga, tetapi juga pada kesehatan masyarakat secara langsung.

Perbedaan AC di Eropa dan AS

Perbedaan akses terhadap pendingin udara ikut menjadi pembahasan di tengah panas ekstrem ini. Berdasarkan data Badan Energi Internasional, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa memiliki AC, sedangkan di AS angkanya mencapai sekitar 90%.

Kesenjangan itu membuat perdebatan soal adaptasi iklim kembali mencuat, terutama ketika suhu tinggi terus muncul di berbagai wilayah Eropa. Dalam konteks ini, kritik Pulvar tidak hanya menyasar komentar warga Amerika, tetapi juga menyoroti perbedaan besar antara pola konsumsi energi dan kesiapan menghadapi panas ekstrem di kedua kawasan.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru