Sengketa hak asuh anak berujung pada penembakan brutal di sebuah rumah aman khusus ibu dan anak di Stade, Jerman Utara. Enam pekerja sosial tewas dalam insiden itu, sementara bayi perempuan pelaku yang berusia tiga bulan dipastikan selamat.
Peristiwa ini mengejutkan karena terjadi di fasilitas yang semestinya menjadi tempat perlindungan bagi kelompok rentan. Aparat menyebut pelaku datang ke lokasi sesuai jadwal pertemuan yang telah disepakati, lalu melepaskan tembakan di dalam gedung.
Kronologi serangan di rumah aman
Menurut laporan Reuters, penembakan terjadi di shelter yang berada tidak jauh dari kota pelabuhan Hamburg. Situasi berubah cepat pada tengah hari ketika suara tembakan terdengar dan para staf tidak sempat menghindar.
Lima korban meninggal di lokasi akibat luka tembak yang sangat parah. Satu korban lainnya sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian dinyatakan meninggal oleh tim medis.
Pelaku dan penahanan aparat
Pihak berwenang bergerak cepat setelah kejadian dan menahan pria berusia 45 tahun yang diduga menjadi pelaku utama. Polisi juga mengamankan ibu bayi pelaku dan seorang perempuan lain dalam rangkaian penangkapan yang dilakukan di jalan.
Sebuah rekaman media memperlihatkan petugas mengepung mobil dengan ban kempis sebelum membekuk dua orang di dalamnya. Setelah situasi terkendali, polisi memastikan tidak ada ancaman lanjutan bagi warga di sekitar lokasi.
Penyisiran lokasi dan respons darurat
Aparat langsung mengisolasi area kejadian yang berada di kawasan perumahan bata merah dengan jalanan berbatu. Tim forensik berpakaian putih dan detektif berpakaian sipil kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengumpulkan bukti.
Polisi sempat mengeluarkan peringatan agar masyarakat menjauhi zona bahaya demi mencegah korban tambahan. Langkah itu diambil karena ketegangan masih tinggi sebelum situasi dinyatakan aman.
Reaksi keras dari pemerintah
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengecam keras penembakan tersebut. Ia menyoroti betapa kerasnya kekerasan yang terjadi di tempat yang seharusnya memberi perlindungan bagi orang-orang yang membutuhkan.
“Saya sangat terkejut dengan tingkat kekerasan di tempat yang seharusnya memberikan perlindungan,” kata Steinmeier. Pernyataan itu memperkuat sorotan terhadap kerentanan pusat-pusat perlindungan sosial ketika konflik pribadi berubah menjadi kekerasan mematikan.
Latar pelaku dan konteks kasus serupa
Berdasarkan penyelidikan awal, terduga pelaku utama diketahui lahir di Jerman, memiliki garis keturunan Turki, dan tinggal di wilayah Hannover. Data itu menjadi bagian penting dalam penyelidikan yang masih berfokus pada hubungan antara pelaku dan sengketa hak asuh anak.
Kasus penembakan massal tetap tergolong langka di Jerman bila dibandingkan dengan Amerika Serikat. Namun, negara itu pernah diguncang serangan serupa saat seorang pria bersenjata membunuh enam jemaat di aula Saksi Yehuwa Hamburg, dan sebelumnya pada 2016 seorang remaja berdarah Jerman-Iran menewaskan sembilan orang di Munich.
