Microsoft Jawab Kekhawatiran Terbesar Soal AI, Data Pelanggan Tak Dipakai Melatih Model

Author: Qoo Media

Kekhawatiran terbesar banyak pengguna AI selama ini adalah soal data pribadi dan data kerja yang dipakai lagi untuk melatih model. Microsoft mencoba menjawab isu itu dengan menegaskan bahwa data pelanggan tidak digunakan untuk melatih ulang model kecerdasan buatan yang mereka sediakan.

Penegasan tersebut disampaikan Senior Cloud and AI Platform Go to Market Lead Microsoft ASEAN, Fiki Setiyono, dalam acara Work Trend Index 2026 Indonesia di Jakarta. Ia menyebut Microsoft bisa memastikan secara teknis bahwa data pelanggan tidak dikirim untuk men-training ulang reasoning model.

Data pelanggan tidak dipakai untuk memperkaya model

Fiki mencontohkan layanan Azure OpenAI sebagai salah satu frontier models Microsoft. Menurut dia, data yang diproses melalui layanan itu tidak digunakan untuk meningkatkan kemampuan model AI.

Ia menegaskan bahwa data customer tidak dipakai untuk “memintarkan” reasoning model. Microsoft, kata dia, sudah menegakkan batas itu secara teknis dan bisa dibuktikan melalui pendekatan teknis yang mereka terapkan.

Pernyataan ini penting di tengah meningkatnya kekhawatiran perusahaan dan organisasi saat memakai AI generatif. Banyak pihak masih berhati-hati karena mereka ingin memastikan data internal tidak ikut menjadi bahan pelatihan model yang dipakai publik.

Sovereign AI mulai jadi kebutuhan baru

Di sisi lain, Fiki melihat kebutuhan industri terhadap AI kini bergeser ke sovereign AI. Konsep ini menekankan kedaulatan pengelolaan data dan infrastruktur AI di setiap negara atau organisasi.

Menurut dia, naiknya pembahasan soal sovereign AI bukan tanda kemunduran industri. Justru, hal itu menunjukkan adopsi AI sudah semakin matang dan kebutuhan pengguna menjadi lebih spesifik.

Microsoft juga memandang sovereign AI bukan sekadar istilah. Perusahaan itu mengaku sudah menyiapkan dukungan teknologi yang bertumpu pada dua prinsip utama.

Infrastruktur AI di Indonesia jadi salah satu fokus

Prinsip pertama adalah ketersediaan infrastruktur AI. Fiki menyebut Microsoft telah menghadirkan pusat data di Indonesia yang dilengkapi infrastruktur berbasis AI, termasuk VM dan GPU yang bisa dimanfaatkan pelanggan.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan data center Microsoft di Indonesia dirancang untuk membantu mendemokratisasi infrastruktur pendukung sovereign AI. Dengan begitu, pelanggan memiliki akses ke sumber daya komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan beban kerja AI.

Bagi perusahaan dan organisasi, keberadaan infrastruktur di dalam negeri kerap menjadi faktor penting. Selain soal kapasitas teknis, isu kedaulatan data juga sering ikut menentukan pilihan platform.

Tidak dibatasi satu model AI

Prinsip kedua adalah memperluas akses ke berbagai model AI. Fiki mengatakan Microsoft tidak membatasi pengguna hanya pada satu model, sehingga pelanggan bisa memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Menurut dia, demokratisasi AI tidak berhenti pada infrastruktur. Akses ke model yang beragam juga menjadi bagian dari strategi agar pengguna bisa menyesuaikan teknologi dengan tujuan bisnis atau operasional masing-masing.

Pendekatan itu sekaligus menjawab kebutuhan pasar yang makin beragam. Di satu sisi, pengguna ingin perlindungan data yang lebih jelas, dan di sisi lain mereka tetap membutuhkan pilihan model AI yang fleksibel untuk berbagai use case.

Dengan penegasan soal data pelanggan dan dorongan ke sovereign AI, Microsoft ingin menunjukkan bahwa adopsi AI tidak harus mengorbankan kontrol atas data. Di saat yang sama, perusahaan itu juga menempatkan infrastruktur lokal dan kebebasan memilih model sebagai bagian dari arah pengembangan AI berikutnya.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru