Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sepanjang Juni diperkirakan telah memicu ribuan kematian di sejumlah negara. Sejumlah otoritas kesehatan melaporkan lonjakan korban jiwa, sementara data di beberapa wilayah masih bersifat sementara dan kemungkinan terus bertambah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut melalui platform X bahwa suhu panas ekstrem telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan di seluruh Eropa sejak 21 Juni. Angka itu diperkirakan sudah melampaui jumlah awal karena laporan baru terus muncul dari berbagai negara.
Lonjakan korban di Spanyol dan Prancis
Spanyol menjadi salah satu negara yang mencatat dampak paling besar dari gelombang panas ini. Sistem pemantauan kematian harian milik Kementerian Kesehatan melaporkan sedikitnya 1.028 orang meninggal sepanjang Juni akibat suhu yang sangat tinggi.
Jumlah tersebut melampaui rekor sebelumnya pada Juni 2017, ketika sekitar 1.000 kematian tercatat dalam kondisi serupa. Data itu menunjukkan tekanan panas ekstrem tidak lagi menjadi ancaman sesaat, melainkan telah memberi dampak serius pada kesehatan masyarakat.
Di Prancis, badan kesehatan masyarakat setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan dibanding periode normal pada bulan-bulan sebelumnya. Otoritas kesehatan juga menilai angka itu masih bersifat sementara dan berpotensi naik seiring masuknya data baru dari wilayah lain.
Lembaga tersebut mencatat kenaikan tajam angka kematian harian pada puncak gelombang panas. Pada 24 Juni tercatat lebih dari 1.200 kematian dari berbagai penyebab, lalu naik menjadi lebih dari 1.400 kematian per hari pada 25 dan 26 Juni.
Italia, Belgia, dan Jerman ikut terdampak
Di Italia, Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Henri Kluge menyampaikan bahwa sedikitnya lima orang meninggal dalam 24 jam akibat panas ekstrem. Jika digabung dengan laporan sebelumnya, jumlah korban terkait cuaca panas di negara itu diperkirakan telah menembus lebih dari 10 orang.
Belgia belum merilis data nasional resmi terkait korban jiwa akibat gelombang panas ini. Namun, media lokal RTL melaporkan adanya peningkatan signifikan jumlah kematian berdasarkan informasi dari sejumlah rumah duka.
Media RTBF juga melaporkan sekitar 22 kematian di Kota Liege selama periode gelombang panas. Meski begitu, otoritas setempat belum memastikan apakah seluruh kasus itu langsung berkaitan dengan suhu ekstrem.
Jerman juga menghadapi lonjakan angka kematian selama akhir pekan yang disertai suhu tinggi. Media publik Tagesschau melaporkan jumlah kematian naik hingga empat kali lipat dibanding kondisi normal.
Kota Cologne mencatat 120 kematian, Distrik Mettmann mencatat 45 kematian, dan Kota Leverkusen melaporkan 19 kasus kematian selama periode tersebut. Di saat yang sama, Asosiasi Penyelamat Jiwa Jerman menyebut sedikitnya 26 orang meninggal akibat tenggelam saat berenang pada akhir pekan itu.
Dampak cuaca ekstrem meluas ke negara lain
Rumania juga terdampak oleh cuaca ekstrem yang menyertai suhu udara tinggi. Sebuah badai hebat dilaporkan menewaskan satu orang setelah pohon tumbang dan menghantam mobil yang ditumpanginya.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa gelombang panas di Eropa tidak hanya meningkatkan risiko kematian langsung akibat suhu tinggi. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk situasi darurat lain, termasuk kecelakaan dan bencana yang muncul bersamaan saat cuaca berada pada titik ekstrem.
Gelombang panas yang semakin sering terjadi di Eropa kembali menyoroti ancaman perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Risiko paling besar tetap mengintai kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta orang dengan penyakit bawaan yang lebih sulit bertahan dalam paparan suhu tinggi.
