Kematian Di Kapal Pesiar, Jejak Hantavirus Yang Kini Diawasi 12 Negara

Otoritas kesehatan di banyak negara kini memantau penumpang dan awak kapal pesiar berbendera Belanda setelah wabah hantavirus yang mematikan dikaitkan dengan kapal itu. Sejauh ini, delapan kasus yang terhubung ke kapal telah dikonfirmasi atau diduga, dan tiga di antaranya berakhir dengan kematian.

Perhatian global meningkat karena sebagian orang sudah meninggalkan kapal sebelum karantina dan kembali ke negara masing-masing. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut penelusuran kontak, investigasi, dan protokol isolasi masih berjalan di sejumlah negara, sementara masa inkubasi hantavirus bisa cukup panjang sehingga kasus tambahan masih mungkin muncul.

Apa yang membuat wabah ini jadi sorotan

Hantavirus adalah keluarga virus langka yang umumnya menular ke manusia melalui kontak dengan kotoran atau air liur tikus yang terkontaminasi. CDC AS menyebut infeksinya kerap menimbulkan gejala gangguan paru dan pernapasan yang bisa menjadi berat.

Strain yang teridentifikasi pada kapal M/V Hondius adalah Andes virus. Ini adalah satu-satunya strain hantavirus yang diketahui bisa menular antarmanusia, dan penularannya terjadi lewat kontak dekat yang berlangsung lama.

Kasus awal yang kini diduga menjadi titik mula

Oceanwide Expeditions mengatakan seorang pria Belanda berusia 70 tahun meninggal di atas kapal pada 11 April. Ia mulai bergejala kurang dari sepekan sebelumnya, pada 6 April, menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Saat itu hantavirus tidak dicurigai karena gejalanya mirip penyakit pernapasan lain, sehingga tidak ada sampel yang diambil. Kini pria tersebut diyakini sebagai kasus hantavirus pertama di kapal.

Istrinya yang berusia 69 tahun meninggalkan kapal saat bersandar di Saint Helena pada 24 April. Ia meninggal dua hari kemudian di Afrika Selatan setelah kondisinya memburuk selama penerbangan ke Johannesburg, dan darahnya kemudian terbukti positif Andes virus.

Jejak paparan yang ditelusuri penyelidik

Sebelum naik ke kapal pada 1 April, pasangan itu melakukan perjalanan mengamati burung di Argentina, Chile, dan Uruguay. WHO mengatakan mereka mengunjungi lokasi yang menjadi habitat spesies tikus pembawa Andes virus.

Karena itu, otoritas kesehatan menelusuri siapa saja yang sempat berinteraksi dengan mereka, termasuk penumpang lain yang turun di Saint Helena dan orang-orang dalam penerbangan sang istri ke Johannesburg. WHO juga bekerja sama dengan negara-negara asal para penumpang lain yang disembarkasi di Saint Helena.

Pasien lain yang dirawat

Seorang pria dewasa asal Inggris datang ke dokter kapal pada 24 April dengan gejala pernapasan dan tanda pneumonia. Kondisinya memburuk pada 26 April, lalu ia dievakuasi secara medis dari Pulau Ascension ke Afrika Selatan dan dirawat di unit perawatan intensif.

Tes kemudian mengonfirmasi bahwa ia terinfeksi Andes virus. Otoritas kesehatan Afrika Selatan dan WHO mengatakan kondisinya sempat kritis, tetapi pada Kamis lalu Maria Van Kerkhove menyebut kondisi pria itu membaik.

Ada juga penumpang perempuan asal Jerman yang meninggal di atas kapal pada 2 Mei. WHO menyebut ia mulai demam pada 28 April lalu berkembang menjadi gejala pneumonia, sementara pihak operator kapal mengatakan jenazahnya masih berada di kapal.

Evakuasi dan hasil pemeriksaan terbaru

Tiga orang dievakuasi dari kapal pada Rabu dan diterbangkan ke Belanda untuk mendapat perawatan medis. Dua di antaranya, seorang penumpang Belanda dan seorang awak kapal asal Inggris, menunjukkan gejala virus dan sempat digambarkan dalam kondisi serius oleh operator kapal.

Van Kerkhove mengatakan pada Kamis bahwa WHO mendapat informasi keduanya kini dalam kondisi stabil. Orang ketiga yang dievakuasi, seorang penumpang Jerman, tidak menunjukkan gejala pada hari evakuasi tetapi diketahui dekat dengan perempuan Jerman yang meninggal pada 2 Mei.

Ia kemudian kembali ke Jerman, menurut WHO. Sementara itu, seorang pria Swiss yang turun di Saint Helena dinyatakan positif Andes virus setelah bergejala dan menjalani pemeriksaan di Zurich, tempat ia kini dirawat.

Pemantauan lintas negara masih berlangsung

WHO mengatakan pihaknya berkomunikasi dengan pejabat di sedikitnya 12 negara yang memantau warga mereka setelah turun dari kapal di Saint Helena. Negara-negara itu mencakup Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.

Di AS, badan kesehatan di lima negara bagian juga memantau orang-orang yang berada di kapal. Georgia dan Texas masing-masing memantau dua orang, Arizona dan Virginia masing-masing satu orang, dan California memantau jumlah yang tidak disebutkan, dengan seluruhnya dilaporkan tidak menunjukkan gejala.

Pada Jumat pagi, seorang pejabat WHO mengonfirmasi kepada CBS News bahwa seorang pramugari KLM yang sempat kontak dengan penumpang kapal dan dirawat di Belanda untuk pemantauan telah dites negatif hantavirus. Kementerian Kesehatan Prancis juga menyebut delapan warga negara Prancis yang pernah kontak dengan perempuan Belanda yang meninggal di penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg, dan satu di antaranya mengalami gejala ringan serta masih menunggu hasil diagnostik.

Terkait