Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei memerintahkan seluruh jajaran militer untuk meningkatkan kesiapan tempur di tengah potensi ancaman agresi dari pihak lawan. Arahan itu disampaikan saat Iran tetap membuka jalur diplomasi dan masih membahas proposal perdamaian terbaru dari Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan.
Perintah tersebut muncul di tengah situasi yang masih sensitif, karena Teheran belum meninggalkan upaya negosiasi meski memperkuat postur pertahanan. Dalam pertemuan dengan Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Mayor Jenderal Ali Abdollahi di Teheran, Khamenei menekankan pentingnya kesiapsiagaan militer di semua lini.
Seluruh unsur militer siaga penuh
Mengutip Reuters, Abdollahi melaporkan bahwa Angkatan Darat Iran, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC, pasukan keamanan perbatasan, Kementerian Pertahanan, hingga pasukan sukarelawan Basij berada dalam kondisi siaga penuh. Ia juga menyebut moral pasukan tetap tinggi dan strategi menghadapi berbagai kemungkinan ancaman sudah disiapkan.
Abdollahi menegaskan bahwa setiap kesalahan strategis, agresi, atau gangguan militer dari pihak musuh akan dijawab dengan cepat dan tegas. Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran siap membela cita-cita revolusi, kedaulatan, integritas wilayah, dan kepentingan nasional Iran.
Diplomasi tetap berjalan di tengah tekanan
Meski meningkatkan kewaspadaan militer, Iran masih menempuh jalur diplomasi dalam pembahasan proposal perdamaian dari AS. Menurut laporan yang dikutip Reuters, Iran telah menyampaikan tanggapan resmi melalui mediasi Pakistan, yang menjadi salah satu kanal komunikasi dalam proses tersebut.
Pembahasan saat ini masih difokuskan pada penghentian konflik sebelum masuk ke isu lain yang lebih sensitif. Salah satu topik yang belum dibahas lebih jauh adalah program nuklir Iran, yang selama ini kerap menjadi bagian paling rumit dalam negosiasi internasional.
Peran Pakistan dalam proses gencatan senjata
Pakistan sebelumnya berhasil memediasi gencatan senjata antara Iran dan AS pada 8 April 2026. Kesepakatan itu menghentikan konflik selama 40 hari antara Iran melawan AS dan Israel.
Setelah gencatan senjata tercapai, pembicaraan lanjutan sempat dilakukan di Islamabad beberapa hari kemudian. Namun, negosiasi itu belum menghasilkan kesepakatan besar yang bisa meredakan semua persoalan antara pihak-pihak terkait.
Situasi ini membuat Iran mengambil dua langkah sekaligus, yakni menjaga pintu dialog tetap terbuka dan memastikan militer berada dalam kondisi siap menghadapi kemungkinan terburuk. Di tengah proses yang belum tuntas, pesan yang disampaikan Teheran jelas: pembicaraan tetap dilanjutkan, tetapi kesiapan tempur tidak boleh turun.
