Warga Amerika Serikat semakin merasa terjepit oleh biaya hidup yang terus naik dan inflasi yang belum benar-benar reda. Survei CNN yang dilakukan bersama SSRS menunjukkan banyak rumah tangga kini hanya fokus bertahan, bukan lagi mengejar kemajuan finansial.
Temuan itu menggambarkan tekanan ekonomi yang meluas di berbagai kelompok masyarakat. Dari belanja harian hingga tabungan darurat, mayoritas responden melihat kondisi sekarang sebagai fase yang membuat ruang gerak keuangan makin sempit.
Biaya hidup menjadi sumber tekanan utama
Dalam jajak pendapat tersebut, lonjakan harga kebutuhan pokok muncul sebagai persoalan ekonomi paling mengganggu bagi keluarga di AS. Banyak responden mengatakan mereka mulai mengurangi belanja bahan makanan dan menahan pengeluaran untuk kebutuhan tambahan.
Sebanyak 88% responden juga menyebut saat ini lebih tepat menabung daripada membeli barang besar. Angka itu menegaskan kehati-hatian konsumen saat menghadapi harga yang terus bergerak naik.
Rasa waswas terhadap kondisi ekonomi tidak berhenti di situ. Sekitar satu dari tiga warga AS mengaku selalu khawatir pendapatan mereka tidak cukup untuk menutup pengeluaran rutin.
Kekhawatiran resesi ikut meningkat
Survei CNN mencatat 7 dari 10 responden menilai resesi kemungkinan besar terjadi dalam satu tahun ke depan. Kekhawatiran itu muncul di tengah pandangan bahwa inflasi masih menekan daya beli meski sejumlah indikator makro menunjukkan ekonomi AS sempat tumbuh.
Data dari Bank of America juga menunjukkan bahwa bagi warga berpenghasilan menengah dan rendah, kenaikan upah tidak lagi mampu mengejar inflasi sejak tahun lalu. Tren upah yang sempat melampaui inflasi selama hampir tiga tahun pun disebut terhenti pada April.
Tekanan paling nyata terlihat dari sikap hati-hati masyarakat dalam mengelola pengeluaran harian. Banyak keluarga memilih menunda belanja besar karena merasa belum punya bantalan keuangan yang cukup.
Harga bensin ikut menambah beban
Biaya bahan bakar juga menjadi perhatian besar dalam survei ini. Sebanyak 23% responden menyebut harga bensin sebagai masalah utama, naik tajam dari 5% pada tahun lalu.
Kenaikan itu memperlihatkan bagaimana biaya transportasi ikut mempersempit ruang belanja rumah tangga. Saat harga kebutuhan pokok dan energi sama-sama naik, banyak keluarga harus menyesuaikan pengeluaran secara ketat.
Tekanan tersebut terasa bahkan di kelompok berpendapatan tinggi. Di kalangan rumah tangga dengan penghasilan di atas US$150.000 per tahun, 57% responden mengatakan gaji mereka tetap tidak cukup mengejar kenaikan harga barang dan jasa.
Keyakinan terhadap sistem ekonomi menurun
Survei juga menunjukkan turunnya kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi yang ada. Tiga perempat warga AS menilai sistem saat ini tidak adil karena lebih menguntungkan kelompok berkepentingan besar.
Pandangan itu sejalan dengan melemahnya keyakinan bahwa kerja keras saja bisa membawa seseorang sukses. Kurang dari separuh responden masih percaya pada gagasan tersebut.
Sekitar 75% warga juga merasa sekarang jauh lebih sulit untuk maju dibandingkan generasi orangtua mereka. Seorang responden dari Indiana menggambarkan situasi itu dengan mengatakan, “Kami menghasilkan uang paling banyak yang pernah kami peroleh. Namun kami memiliki kebebasan finansial paling sedikit yang pernah kami alami karena kenaikan harga.”
Tabungan darurat masih jauh dari aman
Survei CNN menyoroti rapuhnya kondisi keuangan banyak keluarga. Hanya sekitar 33% warga AS yang merasa sanggup menanggung biaya darurat sebesar US$1.000, atau sekitar Rp17 juta sesuai kutipan sumber.
Kondisi ini membuat banyak orang memilih menahan diri dari pembelian besar dan memusatkan perhatian pada kebutuhan pokok. Bagi sebagian besar responden, menabung kini menjadi pilihan yang lebih realistis dibanding mengambil risiko pengeluaran tambahan.
Ketidakpastian juga makin besar karena banyak warga menilai pendapatan mereka tidak memberi ruang aman untuk menghadapi kejutan biaya. Dalam situasi seperti itu, inflasi tidak lagi dipandang sebagai angka statistik, melainkan beban harian yang langsung memengaruhi keputusan rumah tangga.
Faktor eksternal ikut memperburuk sentimen
Persepsi negatif terhadap ekonomi AS tidak lepas dari pengaruh ketidakpastian global, termasuk dampak perang di Timur Tengah yang melibatkan AS. Meski belanja konsumen sempat naik di awal konflik, tekanan inflasi yang berlanjut dan pasar perumahan yang membeku membuat masyarakat sulit menyesuaikan diri dengan level harga baru.
Kombinasi antara harga yang mahal, tabungan yang terbatas, dan keyakinan yang menurun membuat banyak warga merasa terjebak dalam kondisi finansial yang stagnan. Survei CNN melalui SSRS dilakukan pada 30 April hingga 4 Mei terhadap 1.499 orang dewasa di AS, dengan margin of error ±2,8 poin persentase.
