
Dalam geopolitik global, istilah Thucydides Trap kembali ramai dibahas karena menggambarkan ketegangan antara kekuatan mapan dan kekuatan yang sedang naik. Konsep ini sering dikaitkan dengan hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama saat rivalitas keduanya meluas ke bidang militer, dagang, dan teknologi.
Istilah tersebut menjadi sorotan ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping menyinggungnya saat menerima kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pesan yang muncul dari momen itu jelas, yakni dunia perlu mewaspadai pola lama ketika persaingan kekuatan besar berubah menjadi konflik terbuka.
Apa yang dimaksud Thucydides Trap
Thucydides Trap adalah konsep yang dipopulerkan ilmuwan politik Amerika Serikat, Graham Allison. Konsep ini menjelaskan kecenderungan perang ketika kekuatan baru mulai menantang posisi kekuatan yang sudah mapan dalam tatanan internasional.
Nama konsep ini diambil dari Thucydides, sejarawan Yunani kuno yang menulis Perang Peloponnesos. Dalam catatannya, ia menyimpulkan bahwa pertumbuhan kekuatan Athena membuat Sparta takut, lalu ketegangan itu mendorong perang yang sulit dihindari.
Mengapa konsep ini dianggap berbahaya
Inti dari jebakan ini ada pada perubahan keseimbangan kekuasaan. Kekuatan yang sudah dominan cenderung ingin mempertahankan status quo, sementara kekuatan yang sedang bangkit ingin mendapat ruang lebih besar.
Dari situ, langkah defensif satu pihak sering dibaca sebagai ancaman oleh pihak lain. Pola saling curiga ini bisa memicu eskalasi yang makin sulit dikendalikan.
Pelajaran dari 16 kasus sejarah
Dalam buku Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?, Graham Allison dan tim Harvard University menelaah 16 kasus sejarah selama 500 tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan bahwa transisi kekuasaan besar sering berujung pada konflik.
Dari 16 kasus itu, 12 berakhir dengan perang terbuka. Data tersebut membuat konsep ini dipandang bukan sekadar teori, melainkan peringatan serius tentang risiko rivalitas antarnegara besar.
| Periode | Kekuatan mapan | Kekuatan bangkit | Hasil |
|---|---|---|---|
| Akhir abad ke-19 | Inggris | Jerman | Perang Dunia I |
| Pertengahan abad ke-20 | Inggris dan Prancis | Jerman | Perang Dunia II |
| Pasca-Perang Dunia II | Amerika Serikat | Uni Soviet | Tidak perang, Perang Dingin |
| Abad ke-21 | Amerika Serikat | Tiongkok | Sedang berlangsung |
Tabel itu menunjukkan bahwa tidak semua kompetisi kekuatan besar langsung berakhir perang. Namun, sejarah juga memperlihatkan bahwa risiko konflik tetap tinggi ketika perubahan kekuatan berlangsung cepat.
Mengapa AS dan Tiongkok sering dikaitkan dengan Thucydides Trap
Hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini kerap dipandang sebagai contoh paling nyata dari konsep tersebut. Amerika Serikat masih dilihat sebagai kekuatan petahana, sedangkan Tiongkok dipahami sebagai kekuatan yang terus naik dengan pengaruh ekonomi, militer, dan politik yang makin besar.
Ketegangan keduanya tidak terbatas pada isu pertahanan. Persaingan juga merembet ke perang dagang dan kompetisi teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, yang menjadi salah satu arena strategis paling penting saat ini.
Mengapa pembahasan ini terus relevan
Thucydides Trap menarik perhatian karena menawarkan cara membaca rivalitas global lewat pola sejarah. Konsep ini mengingatkan bahwa ketakutan, ambisi, dan salah tafsir strategis bisa menjadi pemicu utama konflik di antara negara-negara besar.
Di tengah hubungan AS-Tiongkok yang terus diawasi dunia, konsep ini tetap menjadi kerangka penting untuk memahami bagaimana tekanan struktural, bukan hanya pernyataan politik, dapat mendorong dua kekuatan besar ke arah konfrontasi yang lebih serius.
Source: mediaindonesia.com








