KBRI Roma menggelar peringatan Hari Lahir Pancasila dengan dua agenda utama yang saling terkait, yakni upacara dan peresmian patung Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Kehadiran patung itu menjadi penanda penghormatan atas peran Bung Karno dalam diplomasi Indonesia serta penegasan kembali nilai-nilai Pancasila di lingkungan perwakilan RI di Italia.
Duta Besar RI untuk Italia Junimart Girsang menyebut patung Soekarno sebagai simbol keberlanjutan semangat politik luar negeri bebas aktif. Ia menegaskan bahwa warisan diplomasi Bung Karno masih relevan dan terus dijaga oleh KBRI Roma hingga saat ini.
Makna simbolik patung Bung Karno
Patung perunggu itu berdiri di Wisma Duta KBRI Roma dan menampilkan Soekarno dalam pose penghormatan yang ikonik. Sosoknya dibuat tegak dengan tatapan lurus ke depan dan mengenakan pakaian dinas, sehingga memberi kesan tegas, berwibawa, dan penuh keberanian.
Junimart juga mengaitkan simbol tersebut dengan pesan diplomasi yang pernah dibangun oleh Soekarno. Ia mengatakan, “Bung Karno mengajarkan kita bahwa diplomasi yang kuat lahir dari keberanian visi dan keyakinan diri sebagai bangsa.”
Dalam sambutan yang sama, Junimart berharap patung itu dapat menjadi sumber inspirasi bagi para diplomat dan warga Indonesia di Roma. Menurut dia, Indonesia perlu terus hadir sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat di panggung dunia.
Jejak sejarah Indonesia dan Italia
Kehadiran patung Soekarno di KBRI Roma tidak lepas dari hubungan sejarah antara Indonesia, Italia, dan Soekarno sendiri. Gedung KBRI Roma di Via Campania 55 dan Wisma Duta di Via Piemonte 123 dibeli atas perintah Soekarno dan resmi menjadi milik Pemerintah Indonesia pada Januari 1956.
Langkah itu menunjukkan pandangan Soekarno yang ingin menempatkan Indonesia secara prestisius di ibu kota negara-negara penting dunia. KBRI Roma kemudian dipandang sebagai salah satu simbol dari visi tersebut.
Tak lama setelah aset itu menjadi milik Indonesia, Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Italia pada 10–13 Juni 1956. Dalam kunjungan itu, ia disambut Presiden Italia Giovanni Gronchi di Istana Quirinale.
Dalam agenda yang sama, Soekarno juga bertemu Paus Pius XII di Vatikan dan menerima penghargaan Grand Cross of the Pian Order. Ia kemudian kembali ke Vatikan pada 1959 dan 1964, masing-masing untuk bertemu Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI.
Peringatan Hari Lahir Pancasila di Roma
Peringatan di KBRI Roma juga dihadiri cucu Soekarno, Puan Maharani, yang bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, Puan menekankan pentingnya menjaga nilai kebangsaan di tengah kehidupan sebagai diaspora.
Ia mengingatkan bahwa Pancasila harus tetap melekat dalam kehidupan warga Indonesia di luar negeri. Puan menyampaikan, “Kepada KBRI Roma dan seluruh warga negara Indonesia di Italia, tetaplah menaruh Pancasila di hati masing-masing.”
Pesan itu juga mendapat sambutan dari generasi muda Indonesia di Italia. Dimas Prasetia, yang mewakili diaspora dan mahasiswa Indonesia, menyebut peresmian patung Bung Karno sebagai pengingat agar semangat Indonesia tetap hadir di panggung dunia.
Ia mengatakan bahwa generasi muda harus berani bermimpi besar untuk Indonesia di mana pun berada. Pernyataan itu menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila di Roma tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang peneguhan identitas kebangsaan.
Dukungan untuk industri kreatif lokal
Patung Soekarno di Wisma Duta KBRI Roma dikerjakan oleh Gusti Dipa Art Gallery, pelaku usaha seni rupa menengah kecil asal Indonesia. Perusahaan ini memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang seni patung dan beroperasi dari Bantul, Yogyakarta, serta Bekasi.
Pemilihan pelaku UMKM lokal menunjukkan adanya dukungan terhadap industri kreatif Indonesia dalam proyek diplomasi budaya ini. Di saat yang sama, kehadiran patung Bung Karno di Roma memperluas makna peringatan Pancasila sebagai warisan yang tidak hanya hidup dalam pidato, tetapi juga dalam karya seni dan ruang representasi Indonesia di luar negeri.
Source: www.viva.co.id