Pengunjung yang membuang sampah sembarangan di Shibuya, salah satu pusat wisata paling sibuk di Tokyo, kini langsung dikenai denda 2.000 yen Jepang, atau sekitar $13 dan £9. Aturan baru ini berlaku saat Jepang masih bergulat dengan dampak lonjakan wisatawan yang menekan kawasan perkotaan dan warga setempat.
Skema penagihan denda mulai berjalan pada Senin di Shibuya Ward, kawasan komersial dan hiburan yang juga menjadi rumah bagi Shibuya Crossing yang terkenal. Di sejumlah distrik, petugas juga mulai menjatuhkan sanksi kepada operator toko makanan dan minuman yang tidak memasang tempat sampah.
Patroli dan pembayaran di tempat
Dalam kampanye anti-sampah yang membawa slogan “if you throw trash, you lose cash”, pelanggar akan didenda langsung di lokasi. Pembayaran bisa dilakukan dengan tunai, kartu kredit, atau kode QR.
Otoritas menyebut hingga 50 petugas akan dikerahkan untuk berpatroli di lingkungan sekitar dan menjatuhkan denda. Pemerintah setempat mengatakan kebijakan ini dibuat untuk menjaga kawasan tetap nyaman bagi semua orang.
“Tidak bisa ditoleransi ada orang yang membuang sampah hanya karena tidak ada tempat sampah,” kata otoritas Shibuya Ward dalam pernyataan pers. Mereka juga meminta kerja sama publik untuk menciptakan kota yang nyaman dinikmati semua orang.
Tekanan dari lonjakan wisatawan
Otoritas mengatakan jumlah orang yang minum di tempat umum dan membuang sampah sembarangan di sekitar Shibuya terus meningkat, termasuk dari wisatawan asing, menurut NHK. Situasi itu muncul di tengah arus kunjungan yang sangat besar ke Jepang setelah pandemi Covid.
Jepang menerima rekor 42,7 juta wisatawan mancanegara pada 2025. Lonjakan itu didorong yen yang melemah dan tingginya minat di media sosial, tetapi juga mulai menguji infrastruktur kota serta kenyamanan warga lokal.
Masalah tempat sampah dan dampaknya
Tempat sampah memang sudah lama langka di Jepang, sebagian karena kekhawatiran keamanan setelah serangan teror di masa lalu, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam survei pemerintah tahun lalu, kurangnya tempat sampah umum menjadi keluhan terbesar wisatawan.
Lebih dari 20 persen dari sekitar 4.000 wisatawan asing yang disurvei menyebut hal itu sebagai ketidaknyamanan utama. Kondisi ini ikut mendorong munculnya aturan baru yang tidak hanya menargetkan pelanggar, tetapi juga sebagian pelaku usaha di area tertentu.
Langkah menahan overtourism
Pemerintah Jepang telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi overtourism, termasuk menaikkan pajak bagi turis internasional dan memperkenalkan aplikasi pengendali keramaian. Aplikasi itu memberi pembaruan real-time tentang tingkat kepadatan di area tertentu pada waktu tertentu.
Dampak tekanan wisata juga terasa di tempat lain, termasuk Fujiyoshida dekat Gunung Fuji. Di kota itu, wisata memicu kemacetan kronis, sampah, dan gangguan bagi warga, sampai otoritas membatalkan festival bunga sakura yang terkenal tahun ini karena lonjakan pengunjung dianggap sudah tak terkendali bagi warga setempat.







