Ebola Melesat Di DRC, Lacak Kontak Belum Mengejar Penyebaran

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus meluas, dan para pejabat kesehatan global memperingatkan bahwa penanganannya masih tertinggal dari laju penyebaran virus. Hingga Rabu, 363 kasus Ebola dan 62 kematian telah dikonfirmasi di DRC, sementara Uganda yang berbatasan dengannya juga melaporkan 15 kasus dan satu kematian.

Penyebaran terbaru menunjukkan wabah ini tidak lagi terbatas pada satu wilayah. Laporan situasi DRC terbaru menyebut wabah sudah mencapai Mambasa, zona kesehatan baru yang berada lebih dari 160 kilometer di selatan kota tambang Mongbwalu di provinsi Ituri, tempat kasus sebelumnya terkonsentrasi.

Perburuan kasus yang belum selesai

WHO masih menilai data yang tersedia belum lengkap. Sejumlah pejabat kesehatan lokal sempat menyebut penularan komunitas mungkin melambat, tetapi banyak spesialis kesehatan masyarakat mengingatkan bahwa pelacakan kontak masih jauh di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk menahan wabah.

Pada Rabu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “The outbreak had a big head start and we are still behind … but we’re catching up.” Ia menilai respons kesehatan masyarakat memang mulai membaik, meski krisis ini sempat bergerak lebih cepat dari penanganan awal.

WHO sebelumnya juga menyingkirkan ratusan kasus yang diduga setelah penyelidikan. Pada Selasa, lembaga itu menyebut ada 116 kasus yang masih dicurigai, setelah sehari sebelumnya melaporkan 906 kasus yang masih dalam penyelidikan.

Perubahan angka ini muncul setelah kepala Afrika Centres for Disease Control and Prevention menulis di Financial Times bahwa ada lebih dari 1.100 kasus suspek. Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan ratusan kasus telah dikeluarkan dari daftar karena ternyata penyakit lain atau hanya demam tanpa gejala Ebola.

Mengapa angka terus berubah

Para pakar menilai fluktuasi angka suspek itu wajar dalam fase awal wabah. Dr. Megan Coffee dari International Rescue Committee mengatakan jumlah itu akan terus bergerak naik turun saat lebih banyak orang diuji dan kasus baru ditemukan.

Brittany Kmush, profesor epidemiologi penyakit menular dan pengawasan wabah di Syracuse University, menekankan bahwa masa inkubasi Ebola bisa mencapai 21 hari. Ia mengingatkan bahwa belum genap 21 hari sejak WHO menyatakan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, sehingga arah wabah masih belum jelas.

Kmush juga menyebut sebagian orang yang terpapar mungkin belum sakit, termasuk mereka yang terpapar pada 17 Mei. Menurut dia, skala wabah saat pertama kali dikenali menunjukkan kemungkinan ada sirkulasi yang tidak terdeteksi, termasuk kasus dan kontak yang belum diketahui.

Pelacakan kontak jadi titik lemah

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah pelacakan kontak, yaitu mencari orang yang pernah terpapar pasien agar bisa diperiksa, diisolasi, atau dikarantina. Di Ituri, provinsi yang paling terdampak di timur laut DRC, sekitar 44% kontak sedang dilacak, jauh di bawah target sekitar 90% yang disebut Tedros.

Coffee mengatakan proses itu sulit di wilayah yang sebagian warganya tidak percaya kepada otoritas, sementara yang lain masih menyangkal Ebola sebagai virus nyata atau menolak kemungkinan bahwa mereka terinfeksi. Ia juga menyoroti hambatan perjalanan antardaerah, terutama di kawasan pedesaan dan terpencil, yang membuat pencarian kasus dan kontak semakin sulit.

Kmush menambahkan bahwa stigma terhadap Ebola juga tinggi, sehingga orang bisa ragu melaporkan kontak mereka kepada petugas kesehatan. Ia mengatakan situasi itu makin berat karena komunitas bantuan internasional juga kekurangan sumber daya, baik untuk pelacakan kontak maupun untuk tempat karantina dan isolasi.

Coffee menjelaskan bahwa salah satu titik panas Ebola di DRC berada di area tambang emas dengan banyak pekerja migran. Menurut dia, mobilitas penduduk membuat pelacakan jauh lebih rumit dibanding wilayah dengan penduduk yang menetap dan memiliki jaringan sosial yang jelas.

Respons yang mulai mengejar

Meski begitu, para spesialis mencatat respons kesehatan publik sedang meningkat. Otoritas kesehatan juga mulai memiliki gambaran yang lebih baik tentang jumlah kasus terkonfirmasi, walau kemampuan untuk mengurai rantai penularan masih belum memadai.

Di lapangan, tantangan ini tampak dari kebutuhan mendesak untuk mengidentifikasi setiap kontak dan menutup celah penularan yang belum terlihat. Seperti dikatakan Coffee, pada fase awal wabah sangat sulit memastikan semua rantai transmisi sudah terdeteksi, dan dalam wabah yang lebih besar sering kali ada rantai penularan yang belum tersentuh.

Exit mobile version